Perjalanan hampir setahun kuliah di Fakultas Peternakan UGM, rasanya diri ini sudah mantap, sudah pas, kecuali utk satu hal yang menjadi momok saya, yaitu HAFALAN istilah latin.
Teguh Widagdo asal Pati, temen kuliah dan temen sekamar, sudah sedari awal masuk kuliah takbegitu berminat. Dia sudah punya keinginan kuat untuk UMPTN lagi. Tahun 1992 dan 1993 dia dah nyoba menjadikan pilihan utama Teknik Kimia, tapi selalau gak lolos dan 1994 keterima pilihan kedua Peternakan. Tahun 1994 dia masih belum patah arang dan berniat mendaftar lagi. Akhirnya kuliah di Peternakan dia nomorduakan, dia lebih fokus untuk belajar soal-soal dan mempersiapkan UMPTN 1994.
Lain halnya dengan diriku, sekali ndaftar UMPTN 1993 Teknik Elektro UGM sbg pilihan pertama kok gak keterima dan akhirnya keterima di Peternakan UGM, rasanya saya sudah mantap dan bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan selama ini. Saya hanya ingin fokus study aja, nggak mau sibuk mikir ndaftar lagi, rasanya sudah banyak waktu, tenaga, pikiran yang saya curahkan selama 2 semester, masak mau saya tinggalkan percuma.
Namun, pikiran itu berubah. Disaat Teguh dengan semangatnya mengambil formulir UMPTN, saya kok berfikir ulang; ndaftar gak ya, daftar gak ya.........
berkecamuk fikiran di dalam hatiku beserta dorongan2;
- Ndaftar aja belum tentu ketrima, apalagi kalo nggak daftar ya nggak mungkin ketrima.
- Saya nggak mau merasa bersalah karena tidak mau mencoba untuk kedua kali, siapa tahu pertama gagal, kedua berhasil.
- Apa salahnya nyoba ndaftar, ketrima syukur, nggak ketrima ya gakpapa
- Jika ndaftar dan akhirnya ketrima, silakan, masih ada waktu untuk mikir dan milih pindah atau tetap di Peternakan, kalo nggak daftar ya nggak ada pilihan lain
- Untuk menghindari (siapa tahu) kelak menyesal kuliah di Peternakan, mumpung masih memungkinkan, coba aja daftar. Yang penting pernah berusaha selagi ada kesempatan.
Akhirnya kuputuskan ambil formulir UMPTN di UGM dengan pilihan IPA, kalo gaksalah bayar formulir Rp 35.000. berarti keputusan ini hanya sekira 2 atau 3 minggu sebelum UMPTN dilaksanakan.
Bismillah, smg Allah pilihkan yang terbaik bagi diriku.
Wednesday, May 25, 1994
Monday, April 4, 1994
Susahnya menghafal banyak istilah latin
Kuliah di Peternakan sebenarnya banyak enaknya juga. Temen-temennya ramah dan baik hati, mungkin karena kebanyakan dari kampung seperti diriku. Sehingga pola hidup dll
lebih kurang sama.
Secara keilmuan, saya juga suka dengan berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan. Sedari awal saya sudah mantap akan masuk jurusan Budidaya Peternakan. Saya mau mengembangkan diri pada usaha peternakan.
Namun sayang, ilmunya tidak seperti yang saya harapkan dalam hal-hal praktis bagaimana membudidayakan ternak. Yang banyak malah menghafal istilah-istilah latin yang sedemikian banyaknya, terutama pada di Mata Kuliah Zoologi, Botani.
Apalagi praktikum Zoologi (semester 1) dilaksanakan di Fakultas Biologi, asisten praktikum galak-galak, serasa opsek terus setiap praktikum. Saking susahnya, saking tegangnya, nilai pretest (ujian sebelum praktikum) selalu dapat nilai jelek. Bahkan satu ketika, karena baru mendadak balik dari Sragen, waktu menghafal kurang, hafalan rontok semua di jalan, jadilah bobrok nilaiku.
Kalau Praktikum Botani, walaupun di Biologi, suasananya lain (semester 2), asistennya enak, santai, dan helpfull. Kalo lihat preparat pakai mikroskop nggak bisa lihat, tinggal panggil mbak asisten, dengan senang hati dia akan membantu menemukan sebenarnya apa yang akan kita cari dan lihat.
Ada juga kuliah tapi ada nggambarnya, wah malu nggak bisa nggambar. Diminta dosen menggambar kerbau, eh jadinya kok kayak gambar kucing hehehe.
Yang mengasyikkan di tahun pertama malah adanya Mata Kuliah Dasar berupa Fisika dan Matematika. Serasa kayak di SMA, walaupun lebih rumit tapi bisa dinikmati, tapi ada pula Kuliah Kimia, nah ini juga susah banget.
lebih kurang sama.
Secara keilmuan, saya juga suka dengan berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan. Sedari awal saya sudah mantap akan masuk jurusan Budidaya Peternakan. Saya mau mengembangkan diri pada usaha peternakan.
Namun sayang, ilmunya tidak seperti yang saya harapkan dalam hal-hal praktis bagaimana membudidayakan ternak. Yang banyak malah menghafal istilah-istilah latin yang sedemikian banyaknya, terutama pada di Mata Kuliah Zoologi, Botani.
Apalagi praktikum Zoologi (semester 1) dilaksanakan di Fakultas Biologi, asisten praktikum galak-galak, serasa opsek terus setiap praktikum. Saking susahnya, saking tegangnya, nilai pretest (ujian sebelum praktikum) selalu dapat nilai jelek. Bahkan satu ketika, karena baru mendadak balik dari Sragen, waktu menghafal kurang, hafalan rontok semua di jalan, jadilah bobrok nilaiku.
Kalau Praktikum Botani, walaupun di Biologi, suasananya lain (semester 2), asistennya enak, santai, dan helpfull. Kalo lihat preparat pakai mikroskop nggak bisa lihat, tinggal panggil mbak asisten, dengan senang hati dia akan membantu menemukan sebenarnya apa yang akan kita cari dan lihat.
Ada juga kuliah tapi ada nggambarnya, wah malu nggak bisa nggambar. Diminta dosen menggambar kerbau, eh jadinya kok kayak gambar kucing hehehe.
Yang mengasyikkan di tahun pertama malah adanya Mata Kuliah Dasar berupa Fisika dan Matematika. Serasa kayak di SMA, walaupun lebih rumit tapi bisa dinikmati, tapi ada pula Kuliah Kimia, nah ini juga susah banget.
Sunday, October 10, 1993
kost 2; Karangmalang E22
Sebulan bersama Ibnu Mashar dan Warsito di Karangasem, status saya masih numpang. Benernya kamar cuma 4, tapi yang kost mana yang numpang mana saya sendiri juga gakbegitu jelas. Sedemikian akrabnya mereka sehingga seolah sudah menjadi sebuah keluarga. Banayakn sudah semester tua, ada yg dari Teknik, Kehutanan, dll.
Bagi saya, karena numpang harus segera mencari kost yang definitif. Saatnya kost yang saya idamkan datang. Saat itu berawal dari adanya bimbingan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan setiap Ahad oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalam Sie Kerohanian Islam (SKI) Fak Peternakan. Dalam 1 forum diskusi kecil, saat ta'aruf/perkenalan dengan teman2, termasuk tentang kost, akhirnya saya diajak oleh salah satu mereka untuk bergabung di tempat kost yang saya inginkan.
Teguh Widagdo, itulah temen saya itu berasal dari Pati, mengajak kost bareng di Karangmalang E22. Kita akhirnya menyewa 1 kamar dengan sewa Rp 250.000/tahun ditanggung berdua. Rumah bagian belakang ditempati oleh tuan rumah. Kost bentuknya ada rumah depan, ada 6 kamar kebanyakan diisi @ 2 orang dan kebanyak mhs IKIP Negeri (Karangmalang memang berdampingan dengan IKIP, juga di belakang Fpeternakan UGM). Teringat Ikhsan Gunungkidul (Math IKIP 92), Untung Klaten (Sastra Jawa 93), Muniroh Salatiga (laki2 lho, Kimia IKIP 94), juga ada Mufti Pemalang (Peternakan 93 juga).
Ada juga kost yang lebih banyak lagi posisi bangunannya di depan samping kiri (mungkin 10-an kamar). Salah satu yang paling akrab adalah Baihaqi dari Pekalongan (kelak hingga berpuluh2 tahun kami tetep akrab).
Ada juga kost putri, posisi bangunannya depan kanan, tapi alhamdulillah kami dijaga betul sama tuan rumah untuk tidak berhubungan dengan mereka, alias kita betul2 terjaga dari hal2 yang tidak diinginkan, bahkan kenal mereka pun tidak.
Alhamdulillah, dah dapt kost sesuai yang diinginkan. Walaupun kost 2 x 3meter berdua, berdinding tripleks, beralaskan tikar, kami bisa menikmatinya
Bagi saya, karena numpang harus segera mencari kost yang definitif. Saatnya kost yang saya idamkan datang. Saat itu berawal dari adanya bimbingan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan setiap Ahad oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalam Sie Kerohanian Islam (SKI) Fak Peternakan. Dalam 1 forum diskusi kecil, saat ta'aruf/perkenalan dengan teman2, termasuk tentang kost, akhirnya saya diajak oleh salah satu mereka untuk bergabung di tempat kost yang saya inginkan.
Teguh Widagdo, itulah temen saya itu berasal dari Pati, mengajak kost bareng di Karangmalang E22. Kita akhirnya menyewa 1 kamar dengan sewa Rp 250.000/tahun ditanggung berdua. Rumah bagian belakang ditempati oleh tuan rumah. Kost bentuknya ada rumah depan, ada 6 kamar kebanyakan diisi @ 2 orang dan kebanyak mhs IKIP Negeri (Karangmalang memang berdampingan dengan IKIP, juga di belakang Fpeternakan UGM). Teringat Ikhsan Gunungkidul (Math IKIP 92), Untung Klaten (Sastra Jawa 93), Muniroh Salatiga (laki2 lho, Kimia IKIP 94), juga ada Mufti Pemalang (Peternakan 93 juga).
Ada juga kost yang lebih banyak lagi posisi bangunannya di depan samping kiri (mungkin 10-an kamar). Salah satu yang paling akrab adalah Baihaqi dari Pekalongan (kelak hingga berpuluh2 tahun kami tetep akrab).
Ada juga kost putri, posisi bangunannya depan kanan, tapi alhamdulillah kami dijaga betul sama tuan rumah untuk tidak berhubungan dengan mereka, alias kita betul2 terjaga dari hal2 yang tidak diinginkan, bahkan kenal mereka pun tidak.
Alhamdulillah, dah dapt kost sesuai yang diinginkan. Walaupun kost 2 x 3meter berdua, berdinding tripleks, beralaskan tikar, kami bisa menikmatinya
Monday, September 6, 1993
Opspek 6-9 September 1993
Opsepek = Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus.
Setelah melalui dan mengalami sendiri, ternyata baru tahu....o...opspek begini toh, pantesan banyak yang membicarakan dan berpendapat terlalu berat dan mesti dievaluasi keberadaannya.
Setiap kampus mungkin berbeda menu kegiatan dan jangka waktunya, tapi di UGM dilaksanakan dalam 4 hari, yang terbagi kedalam 2 hari Universitas dan 2 hari fakultas dengan pola U-F-F-U.
Hal-hal yang kaged dan tidak mengenakkan sebagai ujian mental selama Opspek;
1. Saat datang hari pertama ke fakultas utk dikumpulkan dan digiring ke Universitas, saya berjalan dengan santainya seperti penataran P4. Eh lha kok dibentak2 sama kakak kelas, ada apa tho ini, terlambat dikit aja lho, salah saya apa, pikirku seperti itu
2. Saat saya angkat jari menjawab siapa yg belum sarapan dengan harapan dikasihani dan tak dihukum berat, eh malah dibentak lebih keras dan dihukum tambahan, piye tho iki
3. Saat dikumpulkan di lapangan tingkat universitas, saya tidak dapat kelompok, karena warna pink saya beda dengan warna pink lainnya, waduh... kayak buta warna aja nih (saya gak tahu warna-warna, tanya penjual bilang pink dikasih merah ya manut aja)
Setelah melalui dan mengalami sendiri, ternyata baru tahu....o...opspek begini toh, pantesan banyak yang membicarakan dan berpendapat terlalu berat dan mesti dievaluasi keberadaannya.
Setiap kampus mungkin berbeda menu kegiatan dan jangka waktunya, tapi di UGM dilaksanakan dalam 4 hari, yang terbagi kedalam 2 hari Universitas dan 2 hari fakultas dengan pola U-F-F-U.
Hal-hal yang kaged dan tidak mengenakkan sebagai ujian mental selama Opspek;
1. Saat datang hari pertama ke fakultas utk dikumpulkan dan digiring ke Universitas, saya berjalan dengan santainya seperti penataran P4. Eh lha kok dibentak2 sama kakak kelas, ada apa tho ini, terlambat dikit aja lho, salah saya apa, pikirku seperti itu
2. Saat saya angkat jari menjawab siapa yg belum sarapan dengan harapan dikasihani dan tak dihukum berat, eh malah dibentak lebih keras dan dihukum tambahan, piye tho iki
3. Saat dikumpulkan di lapangan tingkat universitas, saya tidak dapat kelompok, karena warna pink saya beda dengan warna pink lainnya, waduh... kayak buta warna aja nih (saya gak tahu warna-warna, tanya penjual bilang pink dikasih merah ya manut aja)
Sunday, September 5, 1993
OPSPEK itu apaan sich
Sewaktu penataran P4, banyak temen2 yang sering mengungkit dan menanyakan tentang OPSPEK yang dikatakan sebagai kurang baik dan perlu perbaikan.
Sering saya mendengarkan kata-kata Opspek, tapi sebenarnya saya tak paham dan kurang tertarik utk mencari makna yang sebenarnya.
Saya baru tahu sedikit setelah penataran P4 selesai dan kemudian dilanjutkan Opsepk. Sehari menjelang opspek, kami dikumpulkan oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas. oh...Opspek itu kayak penataran, tapi ada tugas2 yang mesti dikerjakan, tidak seperti P4 yg hanya duduk dan mendengarkan, sederhana pikirku sampai saat ini.
Okelah, takmasalah, walaupun ada yang sedikit rada aneh-aneh;
- buat tas dari karung gandum, kenapa mesti demikian
- pakai topi desain khusus (=aneh2)
- buat papan nama sendiri di dada, tapi besar banget
- buat potongan lambang UGM
- bawa telor mentah dan mateng
- pakai kaos (fakultas), baju putih panjang (universitas)
- gak boleh ini itu
Benernya Opspek itu kegiatan apaan sich heheh mulai bingung dech
Sering saya mendengarkan kata-kata Opspek, tapi sebenarnya saya tak paham dan kurang tertarik utk mencari makna yang sebenarnya.
Saya baru tahu sedikit setelah penataran P4 selesai dan kemudian dilanjutkan Opsepk. Sehari menjelang opspek, kami dikumpulkan oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas. oh...Opspek itu kayak penataran, tapi ada tugas2 yang mesti dikerjakan, tidak seperti P4 yg hanya duduk dan mendengarkan, sederhana pikirku sampai saat ini.
Okelah, takmasalah, walaupun ada yang sedikit rada aneh-aneh;
- buat tas dari karung gandum, kenapa mesti demikian
- pakai topi desain khusus (=aneh2)
- buat papan nama sendiri di dada, tapi besar banget
- buat potongan lambang UGM
- bawa telor mentah dan mateng
- pakai kaos (fakultas), baju putih panjang (universitas)
- gak boleh ini itu
Benernya Opspek itu kegiatan apaan sich heheh mulai bingung dech
Wednesday, September 1, 1993
kost 1; susahnya cari kost yg sesuai
Memasuki masa perkuliahan di UGM, salah satu kesulitan yang saya alami adalah mencari tempat kost.
Berawal dari keinginan untuk selalu bersama orang tua yang akan menjadi benteng pergaulan, saya menginginkan kost seperti saat masih SMA, yaitu kost yang serumah dengan tuan rumah. Maunya kost dengan bentuk rumah. Bukan kost-kostan yang berderet panjang, takkenal dan cuek siapa2 teman kost atau tuan rumah. Satu lagi, syaratnya adalah harga terjangkau bagi kami sebagai anak petani desa.
Tempat yang saya idamkan saat itu sulit saya dapatkan, berhari2 keliling sekitar kampus Peternakan UGM tak saya dapatkan, bahkan satu ketika saya ajak Mas Sarjono muter2 seharianpun juga takda hasil.
Akhirnya, karena takada yang ideal, pilihan jatuh pada kost2an kecil dengan hanya 4 kamar, walaupun bukan berbentuk rumah dengan tuan rumah, kumpulan orang2 yang sholeh saya dapatkan, mudah2an saya ikut terbawa dalam arus kesholehan, amien. Kost terletak di Karangasem berdasar ajakan Ibnu Mashar temen Peternakan 93 (dulu SMAN 1 Sragen juga, seangkatan tapi tidak kenal saat SMA). Senengnya lagi, selain saya dan Ibnu, ada juga Warsito (Klaten) yang sama2 1 kelas, sehingga bisa belajar bareng dan kuliah bareng.
Berawal dari keinginan untuk selalu bersama orang tua yang akan menjadi benteng pergaulan, saya menginginkan kost seperti saat masih SMA, yaitu kost yang serumah dengan tuan rumah. Maunya kost dengan bentuk rumah. Bukan kost-kostan yang berderet panjang, takkenal dan cuek siapa2 teman kost atau tuan rumah. Satu lagi, syaratnya adalah harga terjangkau bagi kami sebagai anak petani desa.
Tempat yang saya idamkan saat itu sulit saya dapatkan, berhari2 keliling sekitar kampus Peternakan UGM tak saya dapatkan, bahkan satu ketika saya ajak Mas Sarjono muter2 seharianpun juga takda hasil.
Akhirnya, karena takada yang ideal, pilihan jatuh pada kost2an kecil dengan hanya 4 kamar, walaupun bukan berbentuk rumah dengan tuan rumah, kumpulan orang2 yang sholeh saya dapatkan, mudah2an saya ikut terbawa dalam arus kesholehan, amien. Kost terletak di Karangasem berdasar ajakan Ibnu Mashar temen Peternakan 93 (dulu SMAN 1 Sragen juga, seangkatan tapi tidak kenal saat SMA). Senengnya lagi, selain saya dan Ibnu, ada juga Warsito (Klaten) yang sama2 1 kelas, sehingga bisa belajar bareng dan kuliah bareng.
Monday, August 23, 1993
Penataran P4: 23/08 - 09/09 1993
Mengawali aktivitas sebagai mahasiswa baru UGM, Penataran P4 pola 100 jam yang melelahkan siap dilaksanakan.
23 Agustus s.d 9 September 1993 (termasuk 6-9 September OPSPEK)
NAMA : SUNARDI
NOMOR MHS ; 93/90849/PT/02999
23 Agustus s.d 9 September 1993 (termasuk 6-9 September OPSPEK)
NAMA : SUNARDI
NOMOR MHS ; 93/90849/PT/02999
Monday, August 16, 1993
Jual sapi utk biaya kuliah
Berita ketrima kuliah sangat membahagiakan bagi keluarga kami. Disatu sisi, sedih bagaimana kami ahrus membiayai biaya kuliah yang tidak murah, belum lagi kost, dan biaya hidup.
SPP UGM per semester waktu itu adalah Rp 180.000 (Eksakta) dan Rp 150.000 (non eksakta). Lebih murah UNS (tempat kuliah mas Sarjono) Spp cuma Rp 120.000 (angkatan 1990). Kost murah-murahan seadanya di Jogja kita prediksi sekira Rp 200.000/tahun. Belum lagi biaya makan minum,biaya praktikum dan tugas kuliah ini itu, takterbayangkan betapa mahal ongkos kuliah bagi kami.
Saat itu, keluarga tidak punya cukup uang, akhirnya yang bisa diandalkan adalah menjual sapi (tepatnya anak sapi) satu2nya hewan peliharaan yang kami miliki. Teringat, bapak menuntun sapi didepan, saya berjalan membawa kayu utk menggiring sapi ke pasar Sukodono, trenyuh saya sedemikian pengorbanan orangtua untuk membiayai anak sekolah.
Semoga kelak berhasil, membahagiakan orangtua yg telah susah payah segalanya untuk kita, amien.
SPP UGM per semester waktu itu adalah Rp 180.000 (Eksakta) dan Rp 150.000 (non eksakta). Lebih murah UNS (tempat kuliah mas Sarjono) Spp cuma Rp 120.000 (angkatan 1990). Kost murah-murahan seadanya di Jogja kita prediksi sekira Rp 200.000/tahun. Belum lagi biaya makan minum,biaya praktikum dan tugas kuliah ini itu, takterbayangkan betapa mahal ongkos kuliah bagi kami.
Saat itu, keluarga tidak punya cukup uang, akhirnya yang bisa diandalkan adalah menjual sapi (tepatnya anak sapi) satu2nya hewan peliharaan yang kami miliki. Teringat, bapak menuntun sapi didepan, saya berjalan membawa kayu utk menggiring sapi ke pasar Sukodono, trenyuh saya sedemikian pengorbanan orangtua untuk membiayai anak sekolah.
Semoga kelak berhasil, membahagiakan orangtua yg telah susah payah segalanya untuk kita, amien.
Sunday, August 15, 1993
Diterima di Fak. Peternakan UGM
Berhari-hari saya pening kepala memikirkan jalan hidupo saya mau kemana jika sampai UMPTN tidak keterima. Sekolah di PTS jelas tidak mungkin karena orangtua hanya mau menyekolahkan jika hanya keterima di PTN (itupun sudah dengan ngos-ngosan bayarnya). Saya hanya bisa menantikan detik2 pengumuman tiba serasa berdoa semoga keterima, terlebih malam hari menjelang pengumuman saya gakbisa tidur.
Alhamdulillah, kebimbangan akan langkah apa yang saya lalui, terjawab sudah. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mas Sarjono siang hari sepulang dari Solo membawa koran yang memuat pengumuman hasil UMPTN 1993. Hasil test UMPTN tercatat nama saya diterima pada pilihan ke-2: Fakultas Peternakan UGM.
Alhamdulillah, berarti saya akan punya aktivitas sebagai seorang mahasiswa, bukan pengangguran, bukan pekerja kasar yang entah apa kerjanya dan dimana. Alhamdulillah
Seakan membenarkan prediksi sebuah lembaga yang pernah mengadakan test psikologi (atau apa ya namanya), bahwa dari hasil test menyatakan saya bisa diterima di Fak. Peternakan UGM maupun IPB.
Adapun pilihan ke-1: Teknik Elektro UGM saya dinyatakan tidak diterima, wah maknanya saya lebih bodoh daripada temen2 TE UGM 93 ya hehe... (apa iya begitu).
Alhamdulillah, kebimbangan akan langkah apa yang saya lalui, terjawab sudah. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mas Sarjono siang hari sepulang dari Solo membawa koran yang memuat pengumuman hasil UMPTN 1993. Hasil test UMPTN tercatat nama saya diterima pada pilihan ke-2: Fakultas Peternakan UGM.
Alhamdulillah, berarti saya akan punya aktivitas sebagai seorang mahasiswa, bukan pengangguran, bukan pekerja kasar yang entah apa kerjanya dan dimana. Alhamdulillah
Seakan membenarkan prediksi sebuah lembaga yang pernah mengadakan test psikologi (atau apa ya namanya), bahwa dari hasil test menyatakan saya bisa diterima di Fak. Peternakan UGM maupun IPB.
Adapun pilihan ke-1: Teknik Elektro UGM saya dinyatakan tidak diterima, wah maknanya saya lebih bodoh daripada temen2 TE UGM 93 ya hehe... (apa iya begitu).
Sunday, August 8, 1993
TIDAK diterima di D3 Teknik Elektro UGM
Salah satu penantian panjang tlah berujung....Namun keberuntungan belum merapat.
Kebahagiaan belum mendekat, saya tidak diterima di D3 Teknik Elektro UGM...
Duh gusti, adhem panas badan saya ketika membaca koran yang tak dijumpai nama saya tertera disana.....Serasa lemas setelah kesana kemari di Sragen mencari koran pengumuman hasil ujian masuk D3 Teknik UGM, lama dicari-cari banyak koran habis, eh begitu dapat, nama pun tak ada, ya Allah sedemikian berat ujian pada diriku ya Allah.
Harapan satu2nya tinggal pengumuman UMPTN seminggu lagi, jika tak ketrima juga, kemana ku melangkah belum pasti, hiks hiks hiks
Kebahagiaan belum mendekat, saya tidak diterima di D3 Teknik Elektro UGM...
Duh gusti, adhem panas badan saya ketika membaca koran yang tak dijumpai nama saya tertera disana.....Serasa lemas setelah kesana kemari di Sragen mencari koran pengumuman hasil ujian masuk D3 Teknik UGM, lama dicari-cari banyak koran habis, eh begitu dapat, nama pun tak ada, ya Allah sedemikian berat ujian pada diriku ya Allah.
Harapan satu2nya tinggal pengumuman UMPTN seminggu lagi, jika tak ketrima juga, kemana ku melangkah belum pasti, hiks hiks hiks
Wednesday, June 30, 1993
IAIN, itu sekolah apa ya?
Saat mendaftar D3 Teknik UGM, Sutarto dkk sudah tidak kost lagi di Jogja. Wah nginap dimana ya?
Putar otak, akhirnya ketemulah ide untuk menumpang sementara di kakaknya Thohir (teman kost kelas 1 dan 2) di timur kampus IAIN. Beliau kuliah di IAIN. Saya yang kuper baru tahu, oh ada tho perguruan tinggi negeri selain yang tercantum dalam daftar Buku Panduan UMPTN. Tenyata IAIN = Institut Agama Islam Negeri (kelak berubah nama menjadi UIN = Universitas Islam Negeri).
Terbayang dalam pikirku; oh ini sekolahnya tentang agama semua, orang2 yang pinter ngaji, ujian ada bahasa Arabnya, dll. Hampir semua kota besar ada IAIN, seperti IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Walisongo Semarang, Sunan Ampel Surabaya, dll.
IAIN berada di bawah koordinasi Departemen Agama, sedang universitas yg tergabung bersama-sama dalam UMPTN di bawah koordinasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
O..... saya yang bodoh dan kuper, tambah ilmu lagi, alhamdulillah baru daftar kuliah di Jogja aja sudah banyak tambah ilmu, apalagi kalo nanti kuliah dan tinggal di Jogja ckckckc...
Putar otak, akhirnya ketemulah ide untuk menumpang sementara di kakaknya Thohir (teman kost kelas 1 dan 2) di timur kampus IAIN. Beliau kuliah di IAIN. Saya yang kuper baru tahu, oh ada tho perguruan tinggi negeri selain yang tercantum dalam daftar Buku Panduan UMPTN. Tenyata IAIN = Institut Agama Islam Negeri (kelak berubah nama menjadi UIN = Universitas Islam Negeri).
Terbayang dalam pikirku; oh ini sekolahnya tentang agama semua, orang2 yang pinter ngaji, ujian ada bahasa Arabnya, dll. Hampir semua kota besar ada IAIN, seperti IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Walisongo Semarang, Sunan Ampel Surabaya, dll.
IAIN berada di bawah koordinasi Departemen Agama, sedang universitas yg tergabung bersama-sama dalam UMPTN di bawah koordinasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
O..... saya yang bodoh dan kuper, tambah ilmu lagi, alhamdulillah baru daftar kuliah di Jogja aja sudah banyak tambah ilmu, apalagi kalo nanti kuliah dan tinggal di Jogja ckckckc...
Thursday, June 24, 1993
UMPTN 23-24 Juni 1993
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) diadakan serentak secara nasional pada tanggal 23 dan 24 Juni 1993.
Saya kebagian tempat ujian di Teknik Sipil UGM.
Hari pertama; Kemampuan Dasar
1. Pancasila (15 soal)
2. Bahasa Indonesia (40 soal)
3. Matematika Dasar (30 soal)
Ujian berlangsung selama 150 menit (09.00-11.30)
Hari kedua; Kemampuan IPA
1. Matematika IPA (10 soal)
2. Fisika (15 soal)
3. Kimia (15 soal)
4. Biologi (15 soal)
5. IPA Terpadu (20 soal)
Ujian berlangsung selama 120 menit (09.00-11.00)
sedangkan Kemampuan IPS 12.00-14.00 (saya gak ikut IPS)
Hasil jian akan dimumkan kira-kira pertengahan Agustus 1993.
Saya kebagian tempat ujian di Teknik Sipil UGM.
Hari pertama; Kemampuan Dasar
1. Pancasila (15 soal)
2. Bahasa Indonesia (40 soal)
3. Matematika Dasar (30 soal)
Ujian berlangsung selama 150 menit (09.00-11.30)
Hari kedua; Kemampuan IPA
1. Matematika IPA (10 soal)
2. Fisika (15 soal)
3. Kimia (15 soal)
4. Biologi (15 soal)
5. IPA Terpadu (20 soal)
Ujian berlangsung selama 120 menit (09.00-11.00)
sedangkan Kemampuan IPS 12.00-14.00 (saya gak ikut IPS)
Hasil jian akan dimumkan kira-kira pertengahan Agustus 1993.
Tuesday, June 22, 1993
Duh Kakiku kayak mati rasa
Sakit kaki; bengkak, agak mati rasa
Saat-saat ini, saya sedang terserang penyakit yang aneh. Kaki bengkak, membesar, lemas, dipijit tidak terasa/mati rasa, jalan kaki tak bertenaga, mesti diseret dikit. Sudah dipijitkan dan diobato dokter dimana-mana belum sembuh.
Teringat sudah disuntik di Puskesmas, tidak sembuh. Ke dokter di Gemolong, tidak sembuh. Ke RS di Solo, tidak sembuh. Alhamdulillah, terakhir bisa sembuh lewat seorang dokter di Batu Jamus.
Masih ingat, suatu sore, 2 hari menjelang UMPTN, saya diajak bapak dengan Yamaha L2Super warna merah ke Batu Jamus. Dokter pasiennya suangat banyak, sehingga antrian sudah sedemikian panjang. Saya dapat antrian ke-61 walah-walah, tengah malam pun bisa jadi belum diobati, padahal dokter juga perlu istirahat. Akhirnya saya disarankan tetep ambil nomor, tapi datangnya besok pagi-pagi saja. Sip, akhirnya kita ikuti saran suster.
Pagi setelah shubuh, saya dan bapak kesana lagi, alhamdulillah antrian belum panjang dan takberapa lama dilayani. Oleh dokter, saya dikatakan sakit yang terkait dengan sistem syaraf. Saya diberondong oleh 8 suntikan sekaligus, 4 di kaki kanan dan 4 di kaki kiri. Walah-walah, kayaknya baru kali ini suntikan yang sedemikian banyak.
Karena besok pagi mau UMPTN di Jogja, maka pagi itu saya langsung naik bus ke Jogja. Alhamdulillah, sampai di Jogja serasa perkembangan kaki sudah sembuh 50% persih, esoknya saat UMPTN seolah sudah sembuh 75%, dan pulang ke Sragen setelah UMPTN hari kedua seolah sudah betul2 sembuh 100%. Alhamdulillah, bersyukur pada-MU...kakiku sudah sembuh seperti sedia kala.
Saat-saat ini, saya sedang terserang penyakit yang aneh. Kaki bengkak, membesar, lemas, dipijit tidak terasa/mati rasa, jalan kaki tak bertenaga, mesti diseret dikit. Sudah dipijitkan dan diobato dokter dimana-mana belum sembuh.
Teringat sudah disuntik di Puskesmas, tidak sembuh. Ke dokter di Gemolong, tidak sembuh. Ke RS di Solo, tidak sembuh. Alhamdulillah, terakhir bisa sembuh lewat seorang dokter di Batu Jamus.
Masih ingat, suatu sore, 2 hari menjelang UMPTN, saya diajak bapak dengan Yamaha L2Super warna merah ke Batu Jamus. Dokter pasiennya suangat banyak, sehingga antrian sudah sedemikian panjang. Saya dapat antrian ke-61 walah-walah, tengah malam pun bisa jadi belum diobati, padahal dokter juga perlu istirahat. Akhirnya saya disarankan tetep ambil nomor, tapi datangnya besok pagi-pagi saja. Sip, akhirnya kita ikuti saran suster.
Pagi setelah shubuh, saya dan bapak kesana lagi, alhamdulillah antrian belum panjang dan takberapa lama dilayani. Oleh dokter, saya dikatakan sakit yang terkait dengan sistem syaraf. Saya diberondong oleh 8 suntikan sekaligus, 4 di kaki kanan dan 4 di kaki kiri. Walah-walah, kayaknya baru kali ini suntikan yang sedemikian banyak.
Karena besok pagi mau UMPTN di Jogja, maka pagi itu saya langsung naik bus ke Jogja. Alhamdulillah, sampai di Jogja serasa perkembangan kaki sudah sembuh 50% persih, esoknya saat UMPTN seolah sudah sembuh 75%, dan pulang ke Sragen setelah UMPTN hari kedua seolah sudah betul2 sembuh 100%. Alhamdulillah, bersyukur pada-MU...kakiku sudah sembuh seperti sedia kala.
Saturday, June 12, 1993
Milih UGM 1. Elektro, 2. Peternakan
Saatnya milih jurusan dalam UMPTN, mau jurusan apa?
rasanya tak ada banyak pilihan, semua susah.
Kalau kampus, pilih yang terbaik dan terdekat aja, UGM Yogyakarta yang paling mungkin. UNS sudah ada Mas Sarjono.
Trus mau milih jurusan apa?
1. Kedokteran Umum (KU) ? keinginan jadi dokter sudah saya lupakan sejak peristiwa tabrakan di depan mata tahun kemarin yang membuatku lari tunggang langgang karena ngeri dan takut darah. Orangtua seneng kalo saya masuk KU, tapi daripada penuh penderitaan waktu kuliah, nggak ah.
2. Guru Fisika atau Matematika? Sementara jadi guru saya kesampingkan karena Mas sarjono sudah ambil FKIP pendidikan Kimia, sudah cukup 1 saudara jadi guru, saya jadi insinyur saja.
3. Pilihan terakhir akhirnya mau jadi insinyur..... (nasib, tahun ini penamaan gelar Ir. dan Drs./Dra. sudah ditiadakan, diganti dengan bidang ilmu. Kalo insinyur teknik diganti Sarjana teknik (ST), kalo insinyur Peternakan diganti Sarjana peternakan (S.Pt.)
Yang paling mudah menentukan pilihan ke-2 dulu, yaitu jadi insinyur Peternakan karena kalo dilihat dari grade/tingkat jurusan termasuk golongan menengah, cocok utk pilihan ke-2, persaingan relatif tidak ketat (daya tampung 95, pelamar tahun 1992: 1269). Ini juga berdasar test psikologi di SMA dan tempat bimbingan belajar, sesuai bakat, minat, dan kemampuan maka saya bisa masuk jurusan Peternakan UGM.
Sekarang pilihan pertama.
Teringat suasana di kelas Fisika, jurusan Teknik selalu menggema dan selalu jadi pembicaraan temen2. Saya ikut melirik kira2 teknik apa yang saya suka, padahal juga belum tahu detail dalamnya. Selidik punya selidik, ada jurusan Teknik Elektro UGM, katanya bergengsi, persaingan paling ketat (daya tampung 92, pelamar taun 1992: 2056). Yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Elektro lah satu-satunya pilihan saat itu, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak.
Okelah, bismillah dah mantep;
pilihan 1; Teknik Elektro UGM
pilihan 2; Peternakan UGM
rasanya tak ada banyak pilihan, semua susah.
Kalau kampus, pilih yang terbaik dan terdekat aja, UGM Yogyakarta yang paling mungkin. UNS sudah ada Mas Sarjono.
Trus mau milih jurusan apa?
1. Kedokteran Umum (KU) ? keinginan jadi dokter sudah saya lupakan sejak peristiwa tabrakan di depan mata tahun kemarin yang membuatku lari tunggang langgang karena ngeri dan takut darah. Orangtua seneng kalo saya masuk KU, tapi daripada penuh penderitaan waktu kuliah, nggak ah.
2. Guru Fisika atau Matematika? Sementara jadi guru saya kesampingkan karena Mas sarjono sudah ambil FKIP pendidikan Kimia, sudah cukup 1 saudara jadi guru, saya jadi insinyur saja.
3. Pilihan terakhir akhirnya mau jadi insinyur..... (nasib, tahun ini penamaan gelar Ir. dan Drs./Dra. sudah ditiadakan, diganti dengan bidang ilmu. Kalo insinyur teknik diganti Sarjana teknik (ST), kalo insinyur Peternakan diganti Sarjana peternakan (S.Pt.)
Yang paling mudah menentukan pilihan ke-2 dulu, yaitu jadi insinyur Peternakan karena kalo dilihat dari grade/tingkat jurusan termasuk golongan menengah, cocok utk pilihan ke-2, persaingan relatif tidak ketat (daya tampung 95, pelamar tahun 1992: 1269). Ini juga berdasar test psikologi di SMA dan tempat bimbingan belajar, sesuai bakat, minat, dan kemampuan maka saya bisa masuk jurusan Peternakan UGM.
Sekarang pilihan pertama.
Teringat suasana di kelas Fisika, jurusan Teknik selalu menggema dan selalu jadi pembicaraan temen2. Saya ikut melirik kira2 teknik apa yang saya suka, padahal juga belum tahu detail dalamnya. Selidik punya selidik, ada jurusan Teknik Elektro UGM, katanya bergengsi, persaingan paling ketat (daya tampung 92, pelamar taun 1992: 2056). Yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Elektro lah satu-satunya pilihan saat itu, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak.
Okelah, bismillah dah mantep;
pilihan 1; Teknik Elektro UGM
pilihan 2; Peternakan UGM
Friday, June 11, 1993
Malioboro, nama apa itu?
Ternyata Sutarto kost bersama dengan temen2 dari SMA1 Sragen juga, temen2ku juga seangkatan, tapi dasar saya kurang gaul, banyak diantara mereka yang tidak saya kenal, demikian pula sebaliknya karena diriku juga tidak terkenal maka mereka juga tidak mengenal diriku...kuper sekali...
Biar pengalaman, ada diantara mereka yang menyuruh saya untuk mengenal Jogja dengan jalan-jalan di Malioboro.... Lagi-lagi karena kuper, saya berpikir; Malioboro iku apa sich. Seingat saya sempat kira-kira tahu dikit ada rokok namanya Marlboro. Apa pabriknya di Jogja ya, pikirku yang memang tak paham....[paham setelah berkali-kali di Jogja, bahwa Malioboro adalah kawasan belanja yang terkenal]. Bahkan ada nyanyian spesial Kla-Project: Jogjakarta (masak gitu aja juga gak tahu, malu jadinya).
Biar pengalaman, ada diantara mereka yang menyuruh saya untuk mengenal Jogja dengan jalan-jalan di Malioboro.... Lagi-lagi karena kuper, saya berpikir; Malioboro iku apa sich. Seingat saya sempat kira-kira tahu dikit ada rokok namanya Marlboro. Apa pabriknya di Jogja ya, pikirku yang memang tak paham....[paham setelah berkali-kali di Jogja, bahwa Malioboro adalah kawasan belanja yang terkenal]. Bahkan ada nyanyian spesial Kla-Project: Jogjakarta (masak gitu aja juga gak tahu, malu jadinya).
Bayar dan Ambil Formulir di UGM
Bayar dan ambil formulir di Sekip (dulu: kompleks D3 Mesin UGM).
Kagednya diriku begitu mengetahui sedemikian mesti antri setelah sholat shubuh dan sedemikian panjang antrian untuk mendapatkan formulir UMPTN...weleh-weleh, sedemikian banyak mau UMPTN semua, semua mau ketrima ckckckck... ini baru di UGM saja, belum di kampus UNS, IKIP, dll.
Udah gitu, baru merasakan betapa ribetnya. Pertama mesti ikut antrian panjang; loket bayar. Dah bayar dapat kuitansi, ikut antrian panjang lagi; loket ambil formulir. Mbok ya dijadikan 1 aja ya lebih simpel; bayar selesai njuk langsung dikasih formulir, khan enak dan cepat. Tapi taulah pertimbangannya apa kok dibuat ribet kayak gitu.
Formulir dibawa pulang untuk diisi di rumah, dalam formulir sudah ada ketentuan, nomor anda sekian, sehingga anda terjadwal balikin formulir kapan, tempatnya mbalikin formulir di Gedung Fisipol lama.
Kagednya diriku begitu mengetahui sedemikian mesti antri setelah sholat shubuh dan sedemikian panjang antrian untuk mendapatkan formulir UMPTN...weleh-weleh, sedemikian banyak mau UMPTN semua, semua mau ketrima ckckckck... ini baru di UGM saja, belum di kampus UNS, IKIP, dll.
Udah gitu, baru merasakan betapa ribetnya. Pertama mesti ikut antrian panjang; loket bayar. Dah bayar dapat kuitansi, ikut antrian panjang lagi; loket ambil formulir. Mbok ya dijadikan 1 aja ya lebih simpel; bayar selesai njuk langsung dikasih formulir, khan enak dan cepat. Tapi taulah pertimbangannya apa kok dibuat ribet kayak gitu.
Formulir dibawa pulang untuk diisi di rumah, dalam formulir sudah ada ketentuan, nomor anda sekian, sehingga anda terjadwal balikin formulir kapan, tempatnya mbalikin formulir di Gedung Fisipol lama.
Thursday, June 10, 1993
Jadwal pendaftaran UMPTN 1993
Berikut Jadwal Pendaftaran UMPTN 1993
1. Pembayaran biaya ujian dan pengambilan formulir pendaftaran.
Tanggal 17 Mei - 17 Juni 1993 (biasanya awal2 utk pendaftaran lulusan 1 atau 2 tahun sebelumnya). Boleh diwakilkan
Kelompok IPA formulir warna UNGU bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok IPS-BAHASA formulir warna MERAH bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok CAMPURAN formulir warna BIRU bayar Rp 40.000 (dengan 3 pilihan)
(sedari awal saya akan fokus saja 2 pilihan IPA)
2. Pengembalian formulir pendaftaran, tidak boleh diwakilkan.
Tanggal 7-17 Juni 1993
3. Ujian Tulis UMPTN
23-24 Juni 1993
Tambahan Ujian Ketrampilan 25 Juni - 3 Juli 1993 utk jurusan Olahraga dan Seni (saya nggak ah)
1. Pembayaran biaya ujian dan pengambilan formulir pendaftaran.
Tanggal 17 Mei - 17 Juni 1993 (biasanya awal2 utk pendaftaran lulusan 1 atau 2 tahun sebelumnya). Boleh diwakilkan
Kelompok IPA formulir warna UNGU bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok IPS-BAHASA formulir warna MERAH bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok CAMPURAN formulir warna BIRU bayar Rp 40.000 (dengan 3 pilihan)
(sedari awal saya akan fokus saja 2 pilihan IPA)
2. Pengembalian formulir pendaftaran, tidak boleh diwakilkan.
Tanggal 7-17 Juni 1993
3. Ujian Tulis UMPTN
23-24 Juni 1993
Tambahan Ujian Ketrampilan 25 Juni - 3 Juli 1993 utk jurusan Olahraga dan Seni (saya nggak ah)
Pertama kali ke Jogja
Seingat saya, seumur hidup saya pertama kali ke Jogja ya saat akan mendaftar kuliah di UGM. Persisnya saat akan mengambil formulir pendaftaran UMPTN di UGM. Benernya, untuk UMPTN (walaupun daftar jurusan2 di UGM) tetep bisa ambil formulir dan test di UNS Solo, tapi karena biar sekalian merasakan aura UGM dan Jogja, saya putuskan untuk daftar di UGM sekalian.
Sebenarnya, bus-bus Surabaya-Jogja selalu singgah dan sering saya lihat di terminal Sragen, tapi belum pernah naik, baik ke Surabaya maupun ke Jogja.
Untuk tumpangan selama ndaftar di Jogja, saya sudah kontak dengan temen kost saat kelas 2 SMA (Sutarto), dia kost di Jogja dalam rangka ikut Bimbel. Saya menumpang menginap di kost dia di daerah Kentungan.
Dia pesan; naik bus Surabaya-Jogja, ntar bilang kernet turun di nJanti, setelah itu naik Bus Kota Jalur 7 bayar Rp 100, turun di perempatan Kentungan, trus lengkap dengan denah/alamat kost dia. Semua terasa asing di telingaku: nJanti, Bus Kota, Jalur 7, Kentungan.
Alhamdulillah, perjalanan pertama ke Jogja lancar.
Sebenarnya, bus-bus Surabaya-Jogja selalu singgah dan sering saya lihat di terminal Sragen, tapi belum pernah naik, baik ke Surabaya maupun ke Jogja.
Untuk tumpangan selama ndaftar di Jogja, saya sudah kontak dengan temen kost saat kelas 2 SMA (Sutarto), dia kost di Jogja dalam rangka ikut Bimbel. Saya menumpang menginap di kost dia di daerah Kentungan.
Dia pesan; naik bus Surabaya-Jogja, ntar bilang kernet turun di nJanti, setelah itu naik Bus Kota Jalur 7 bayar Rp 100, turun di perempatan Kentungan, trus lengkap dengan denah/alamat kost dia. Semua terasa asing di telingaku: nJanti, Bus Kota, Jalur 7, Kentungan.
Alhamdulillah, perjalanan pertama ke Jogja lancar.
Monday, June 7, 1993
Temen duduk terdekat; Kurniawan, SriSumarni, Darwati
Teringat waktu kelas II Fisika 2 (IIA1-2) dan kelas III Fisika 2 (IIIA1-2), saya selalu duduk semeja dengan Kurniawan yang terkenal pendiam.
Selama kelas II dan II pula, di depan saya selalu setia juga dua perempuan Darwati dan Sri Sumarni. Sri ini yang kelak berteman akrab sejak sama-sama kuliah di UGM hingga kini. Dia yg dulu ngebet masuk Teknik, eh malah malah jadi dokter. Sedangkan saya dulu ngebet jadi dokter, karena takut darah lalu masuk Teknik. Yah lika-likunya cita-cita dan hidup yang sebenarnya.
Selama kelas II dan II pula, di depan saya selalu setia juga dua perempuan Darwati dan Sri Sumarni. Sri ini yang kelak berteman akrab sejak sama-sama kuliah di UGM hingga kini. Dia yg dulu ngebet masuk Teknik, eh malah malah jadi dokter. Sedangkan saya dulu ngebet jadi dokter, karena takut darah lalu masuk Teknik. Yah lika-likunya cita-cita dan hidup yang sebenarnya.
Sunday, June 6, 1993
Mengingat temen sekelas SMA Fisika 2
Mengingat temen sekelas SMA Fisika 2
SMA Negeri 1 Sragen, Jawa Tengah
(kelas 2 dilanjut kelas 3) 1991/1992 dan 1992/1993
Agus Purwanto (Sipil UNS)
Agus Suwondo (Elektro UNIBRAW)
Agus Sriyanto
Agustinus (UNS)
Andi (sekolah perkapalan)
Andi Wijanarko (AKABRI AU)
Antonius Sulistyo (Kehutanan IPB)
Bagus Sutrisno (Matematika UNS)
Budi Setiyarso (STTNas)
Cahyo (Peternakan UNDIP)
Darwati
Dwi Hartono (STTNas)
Eddy Wiharsono (D3 Teknik Energi UNDIP)
Endang Lestari
Etik Setyawati
Guntur Wibisono (Industri UII)
Intianu Arinto (Peternakan UNDIP)
Irfan Suparno
Joko Warsito (Sipil UNS)
Kristo Fani
Kurniawan (D3 Teknik Elektro UNDIP)
Kusriyanto (KU UNDIP)
Maryono (D3 Teknik Mesin UGM)
Ning Saputri
"Oshin" (STAN)
Pena (UMS)
Puji Astuti (KU Unissula)
Ratih Sari Dewi
Rima (FKM UNAIR)
Roswanti (Ekonomi UPN Jogja)
Seto Wahyu Jatmiko (Teknik Elektro UGM)
Sri Sumarni (KG UGM 93/KU UGM 94)
Sri Suyatmi (masuk UMS)
Sunardi (Peternakan UGM 93/Elektro UGM 94)
Supriyanto (Hukum Un Jember)
Sutarto
Suwanto (Pertanian UNS)
Yoga Adinata (masuk UMM)
walah, dari 48 kok cuma hafal segitu ya... itupun belum tentu benar
SMA Negeri 1 Sragen, Jawa Tengah
(kelas 2 dilanjut kelas 3) 1991/1992 dan 1992/1993
Agus Purwanto (Sipil UNS)
Agus Suwondo (Elektro UNIBRAW)
Agus Sriyanto
Agustinus (UNS)
Andi (sekolah perkapalan)
Andi Wijanarko (AKABRI AU)
Antonius Sulistyo (Kehutanan IPB)
Bagus Sutrisno (Matematika UNS)
Budi Setiyarso (STTNas)
Cahyo (Peternakan UNDIP)
Darwati
Dwi Hartono (STTNas)
Eddy Wiharsono (D3 Teknik Energi UNDIP)
Endang Lestari
Etik Setyawati
Guntur Wibisono (Industri UII)
Intianu Arinto (Peternakan UNDIP)
Irfan Suparno
Joko Warsito (Sipil UNS)
Kristo Fani
Kurniawan (D3 Teknik Elektro UNDIP)
Kusriyanto (KU UNDIP)
Maryono (D3 Teknik Mesin UGM)
Ning Saputri
"Oshin" (STAN)
Pena (UMS)
Puji Astuti (KU Unissula)
Ratih Sari Dewi
Rima (FKM UNAIR)
Roswanti (Ekonomi UPN Jogja)
Seto Wahyu Jatmiko (Teknik Elektro UGM)
Sri Sumarni (KG UGM 93/KU UGM 94)
Sri Suyatmi (masuk UMS)
Sunardi (Peternakan UGM 93/Elektro UGM 94)
Supriyanto (Hukum Un Jember)
Sutarto
Suwanto (Pertanian UNS)
Yoga Adinata (masuk UMM)
walah, dari 48 kok cuma hafal segitu ya... itupun belum tentu benar
Saturday, June 5, 1993
Tak ikut ambil surat kelulusan SMA
Saat pengumuman kelulusan, saya tak datang ke sekolah, dan takpernah mengambil surat kelulusan/surat ketidaklulusan.
Sebenarnya dari Solo (tempat Bimbel) saya sudah berpakaian sekolah naik bus ke Sragen. Sesampainya di terminal Sragen, saya ketemu Haris yang sedang bergembira karena sudah dapat kepastian lulus, dah dari sekolah dan mau balik ke rumah. Saking senengnya, dia merangkul saya, tapi tiba-tiba kami berdua malah terjatuh karena saya takkuat mengimbangi badannya karena sakit kaki yang saat itu sedang saya derita.
Haris pulang, saya berjalan dengan menyeret kaki menuju SMA sekira 1 km,. Sesampainya di tengah perjalanan, di samping SMEA Negeri, saya berpapasan dengan rombongan Suwanto dkk. Taktega dengan keadaan saya, mereka mengajak saya balik ke terminal dan pulang. Mereka meyakinkan, insyaAllah lulus lah. Saya yang memang sangat kepayahan, saya ikuti saran mereka.
Yah, akhirnya tetep gakjadi ambil pengumuman, hanya yakin saja insyaAllah mesti lulus.
Sebenarnya dari Solo (tempat Bimbel) saya sudah berpakaian sekolah naik bus ke Sragen. Sesampainya di terminal Sragen, saya ketemu Haris yang sedang bergembira karena sudah dapat kepastian lulus, dah dari sekolah dan mau balik ke rumah. Saking senengnya, dia merangkul saya, tapi tiba-tiba kami berdua malah terjatuh karena saya takkuat mengimbangi badannya karena sakit kaki yang saat itu sedang saya derita.
Haris pulang, saya berjalan dengan menyeret kaki menuju SMA sekira 1 km,. Sesampainya di tengah perjalanan, di samping SMEA Negeri, saya berpapasan dengan rombongan Suwanto dkk. Taktega dengan keadaan saya, mereka mengajak saya balik ke terminal dan pulang. Mereka meyakinkan, insyaAllah lulus lah. Saya yang memang sangat kepayahan, saya ikuti saran mereka.
Yah, akhirnya tetep gakjadi ambil pengumuman, hanya yakin saja insyaAllah mesti lulus.
Lulus SMA biasa-biasa saja
Lulus SMA biasa-biasa saja. Bahkan surat kelulusan pun takpernah saya ambil, sehingga disampaikan wali kelas Bu Alva Tiastati (guru Biologi) saat perpisahan, ada satu siswa SUNARDI yang belum ambil surat kelulusan, pertanyaan retoris saya; "saya lulus gak bu?", jawab beliau ngeles: "ya gak tahu, wong belum kamu ambil dan buka"....
Wah, tapi tetep aja gak saya ambil karena saya yakin lulus walau dengan nilai dan prestasi yang biasa-biasa saja. Teringat ranking SMA selalu bertambah tiap semester,
Semester 1 s.d semester 6; 3-5-11-10-13
Berantakan kesempatan untuk meraih peluang masuk PTN tanpa test (istilahnya PMDK= Penelusuran Minat dan Kemampuan), biasanya mensyaratkan ranking menanjak eh kok saya malah jadi ranking banyak.
Diberikan kesempatan mencoba PMDK UNS ambil Teknik Sipil dan Matematika, itu pun takditerima....
Wah, tapi tetep aja gak saya ambil karena saya yakin lulus walau dengan nilai dan prestasi yang biasa-biasa saja. Teringat ranking SMA selalu bertambah tiap semester,
Semester 1 s.d semester 6; 3-5-11-10-13
Berantakan kesempatan untuk meraih peluang masuk PTN tanpa test (istilahnya PMDK= Penelusuran Minat dan Kemampuan), biasanya mensyaratkan ranking menanjak eh kok saya malah jadi ranking banyak.
Diberikan kesempatan mencoba PMDK UNS ambil Teknik Sipil dan Matematika, itu pun takditerima....
Friday, June 4, 1993
SMA 3 thn, 3 tempat kost
Tiga tahun di SMA, 3 tempat kost pula saya berada.
Kost saat kelas 1
Kost pertama saya tinggal sekira 300 meter di utara sekolah, bersama dengan Thohir (Suwatu) dan Sujar (Pantirejo), keduanya kakak kelas. Thohir II Fisika, Sujar II Sosial. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan. Dalam 1 kost tersebut juga ada 2 anak kost putri sekolah di SMEA Negeri Sragen, tapi saya lupa namanya. Keduanya masih ada talian saudara dengan ibu kost, asalnya Jenar. Anak kost laki-laki di kamar sebelah kiri sedang perempuang di sebelah kanan dari bangunan rumah induk bu kost sehingga kita terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selama satu tahun saya, Thohir, dan Sujar tinggal disitu. Kita masak nasi bareng, masing-masing setiap minggu pulang kampung dan datang mbawa beras, kadang mbawa lauk sebisanya. Untuk hari-hari biasa, kita iuran dan bergantian beli lauk/sayur, paling sering beli sayur buncis di kantin RSU Sragen, sekira 1 km, tapi kalo nrabas lewat sawah Cuma ½ km. Biasanya setiap beli sekali, untuk makan 2x. Kadang pakai sepeda, kadang jalan kaki.
kost saat kelas dua
Kost kedua saya tinggal persis di selatan sekolah, cuma dipisahkan pagar sekolah. Saya pindah karena diajak Thohir yang mencari suasana baru dan temen2nya banyak. Tercatat ada Thohir, Yatno, Supri yang sesama kelas III Fisika. Sedang kelas III biologi ada Harsono dan II sosial ada Suprapto. Sedang kelas II Fisika hanya saya seorang. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan.
Dari kost ini, nuansa belajar sangat terasa, terlebih banyak yang kelas III yang tentu akan mempersiapkan diri sebaik2nya untuk menghadapi Ebtanas dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), pengganti nama Sipenmaru. Saya juga terpacu untuk semangat belajar, dan sedikit-sedikit mencoba untuk mengerjakan soal-soal UMPTN, terutama Matematika dan Fisika. Pernah satu ketika dilarang oleh Yatno: Jangan belajar UMPTN dulu, kamu baru kelas dua, takutnya nanti malah gak fokus, prematuer, dan pada saatnya kelas tiga nanti malah sudah drop semangat.
Pemilik kost ini sangat baik memperlakukan dan melayani anak-anak kost yang semuanya laki-laki. Walaupun bukan dari keluarga yang berkecukupan, suami pengemudi becak, istri jualan sayur di pasar, tapi keluarga ini sedari awal bertekad untuk selalu menyediakan sayur untuk makan malam kami. Kami hanya masak nasi aja, sedang sayur disediakan oleh ibu kost, udah gitu gratis alias gak bayar.
Bu kost ini punya 2 anak; Tarwoko saat itu masih SMP dan Tarwati saat itu belum sekolah.
Kost ketiga saat kelas tiga
Menginjak tahun ketiga, setelah Thohir dan temen2 pada lulus, saya ketemu Sugimin (temen SMP Mondokan yg sekarang sekolah di STM Muhammadiyah) dan mengajak kost bareng dengan dia, agak jauh, di Widoro, sekira 1 km dari sekolah.
Kalau taksalah biaya kost masih juga sama dengan kost-kost sebelumnya, yaitu Rp 3000/bulan. Yang membedakan adalah fasilitas. Walaupun tambah jauh, ada free sarapan pagi, duh enak dan murahnya.
Lagipula, tahun ini saya berhasil mengajak Edy Suharsono (temen sekelas sejak kelas 1) utk kost bersama, sebelumnya selama 2 tahun dia nglaju dari Banaran, Sambungmacan.
Kost saat kelas 1
Kost pertama saya tinggal sekira 300 meter di utara sekolah, bersama dengan Thohir (Suwatu) dan Sujar (Pantirejo), keduanya kakak kelas. Thohir II Fisika, Sujar II Sosial. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan. Dalam 1 kost tersebut juga ada 2 anak kost putri sekolah di SMEA Negeri Sragen, tapi saya lupa namanya. Keduanya masih ada talian saudara dengan ibu kost, asalnya Jenar. Anak kost laki-laki di kamar sebelah kiri sedang perempuang di sebelah kanan dari bangunan rumah induk bu kost sehingga kita terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selama satu tahun saya, Thohir, dan Sujar tinggal disitu. Kita masak nasi bareng, masing-masing setiap minggu pulang kampung dan datang mbawa beras, kadang mbawa lauk sebisanya. Untuk hari-hari biasa, kita iuran dan bergantian beli lauk/sayur, paling sering beli sayur buncis di kantin RSU Sragen, sekira 1 km, tapi kalo nrabas lewat sawah Cuma ½ km. Biasanya setiap beli sekali, untuk makan 2x. Kadang pakai sepeda, kadang jalan kaki.
kost saat kelas dua
Kost kedua saya tinggal persis di selatan sekolah, cuma dipisahkan pagar sekolah. Saya pindah karena diajak Thohir yang mencari suasana baru dan temen2nya banyak. Tercatat ada Thohir, Yatno, Supri yang sesama kelas III Fisika. Sedang kelas III biologi ada Harsono dan II sosial ada Suprapto. Sedang kelas II Fisika hanya saya seorang. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan.
Dari kost ini, nuansa belajar sangat terasa, terlebih banyak yang kelas III yang tentu akan mempersiapkan diri sebaik2nya untuk menghadapi Ebtanas dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), pengganti nama Sipenmaru. Saya juga terpacu untuk semangat belajar, dan sedikit-sedikit mencoba untuk mengerjakan soal-soal UMPTN, terutama Matematika dan Fisika. Pernah satu ketika dilarang oleh Yatno: Jangan belajar UMPTN dulu, kamu baru kelas dua, takutnya nanti malah gak fokus, prematuer, dan pada saatnya kelas tiga nanti malah sudah drop semangat.
Pemilik kost ini sangat baik memperlakukan dan melayani anak-anak kost yang semuanya laki-laki. Walaupun bukan dari keluarga yang berkecukupan, suami pengemudi becak, istri jualan sayur di pasar, tapi keluarga ini sedari awal bertekad untuk selalu menyediakan sayur untuk makan malam kami. Kami hanya masak nasi aja, sedang sayur disediakan oleh ibu kost, udah gitu gratis alias gak bayar.
Bu kost ini punya 2 anak; Tarwoko saat itu masih SMP dan Tarwati saat itu belum sekolah.
Kost ketiga saat kelas tiga
Menginjak tahun ketiga, setelah Thohir dan temen2 pada lulus, saya ketemu Sugimin (temen SMP Mondokan yg sekarang sekolah di STM Muhammadiyah) dan mengajak kost bareng dengan dia, agak jauh, di Widoro, sekira 1 km dari sekolah.
Kalau taksalah biaya kost masih juga sama dengan kost-kost sebelumnya, yaitu Rp 3000/bulan. Yang membedakan adalah fasilitas. Walaupun tambah jauh, ada free sarapan pagi, duh enak dan murahnya.
Lagipula, tahun ini saya berhasil mengajak Edy Suharsono (temen sekelas sejak kelas 1) utk kost bersama, sebelumnya selama 2 tahun dia nglaju dari Banaran, Sambungmacan.
Saturday, May 15, 1993
Ikut Bimbel sebulan di Solo
Alhamdulillah akhirnya rencana dan keinginan saya terlaksana, setelah EBTANAS selesai, sesuai janji ibu-bapak saya dibolehkan ikut Bimbel Intensif Primagama selama 1 bulan di Sekarpace, Solo (karena Sragen belum ada).
Saya sengaja kost di belakangnya karena takut kecapekan dan mahal di ongkos jika mesti bolak-balik Sragen-Solo. Ada temen kost anak Pati lulusan tahun kemarin [tapi lupa takpernah minta nama dan alamat persis]. Runtang-runtung berdua.
Senangnya ikut Bimbel, tiap Ahad diadakan try-out, gratis (karena dah include dalam bayaran Bimbel). Ingat Try out se-Solo pertama, posisi nilai saya terpampang pada ranking 1000-an, wah rendah/bodoh sekali diriku....Untuk try-out selanjutnya alhamdulillah naik jadi ranking 750an dst bias dipertahankan.
Berdasarkan hasil try-out, diskusi dengan bagian psikologi Bimbel menyatakan prediksi bahwa jika mau ambil jurusan Teknik Elektro UGM agak berat dan perlu peningkatan, kalo jurusan Peternakan UGM masih oke.
Saya sengaja kost di belakangnya karena takut kecapekan dan mahal di ongkos jika mesti bolak-balik Sragen-Solo. Ada temen kost anak Pati lulusan tahun kemarin [tapi lupa takpernah minta nama dan alamat persis]. Runtang-runtung berdua.
Senangnya ikut Bimbel, tiap Ahad diadakan try-out, gratis (karena dah include dalam bayaran Bimbel). Ingat Try out se-Solo pertama, posisi nilai saya terpampang pada ranking 1000-an, wah rendah/bodoh sekali diriku....Untuk try-out selanjutnya alhamdulillah naik jadi ranking 750an dst bias dipertahankan.
Berdasarkan hasil try-out, diskusi dengan bagian psikologi Bimbel menyatakan prediksi bahwa jika mau ambil jurusan Teknik Elektro UGM agak berat dan perlu peningkatan, kalo jurusan Peternakan UGM masih oke.
Sunday, January 3, 1993
Rela berkorban segalanya demi anak
Awal semester 6, ada keinginan saya untuk mengikuti Bimbel (Bimbingan Belajar) Primagama Solo selama 1 semester. (saat itu Sragen belum ada). Harapan saya adalah lulus SMA dengan NEM bagus dan sekaligus untuk mempersiapkan UMPTN biar ketrima.
Namun sayang, saat itu kondisi keuangan bapak-ibu tidak memungkinkan, lagian ortu kasihan kalo tiap 3 kali seminggu saya mesti bolak-balik Sragen-Solo. (Kurniawan temen satu meja denganku ikut). Ya udah akhirnya saya mesti mengikhlaskan untuk tidak jadi. Janji bp-ibu, mudah2an kelak bisa ikut Bimbel yang 1 bulan intensif tiap hari masuk (setelah Ebtanas dan menjelang UMPTN), bayarnya lebih murah.
Ahad sore seperti biasa, saya naik sepeda dari kampung ke kost di kota, mengayuh sepeda sekira 20 km. Tak mengira, esok malamnya, ibu datang dengan diantar tetangga membawakan uang (kalo taksalah Rp 500.000) untuk pendaftaran bimbingan belajar saya. Lho, saya khan sudah ikhlas nggak ikut. Lagian ini khan uang hutang tetangga, saya nggak tetep nggak mau dan takmasalah kelak ikut yang 1 bulan aja.
Selidik punya selidik, ternyata uang saku saya yang Rp 5.000 untuk satu minggu ketinggalan di rumah, dikira saya marah karena nggak dibolehkan ikut bimbingan....Makanya bapak-ibu lalu pontang-panting cari utangan untuk saya. Subhanallah, kasih sayang orang tua tak terbatas, apapun dilakukan demi anak. Surgalah insyaAllah utk kedua orangtuaku, amien.
Namun sayang, saat itu kondisi keuangan bapak-ibu tidak memungkinkan, lagian ortu kasihan kalo tiap 3 kali seminggu saya mesti bolak-balik Sragen-Solo. (Kurniawan temen satu meja denganku ikut). Ya udah akhirnya saya mesti mengikhlaskan untuk tidak jadi. Janji bp-ibu, mudah2an kelak bisa ikut Bimbel yang 1 bulan intensif tiap hari masuk (setelah Ebtanas dan menjelang UMPTN), bayarnya lebih murah.
Ahad sore seperti biasa, saya naik sepeda dari kampung ke kost di kota, mengayuh sepeda sekira 20 km. Tak mengira, esok malamnya, ibu datang dengan diantar tetangga membawakan uang (kalo taksalah Rp 500.000) untuk pendaftaran bimbingan belajar saya. Lho, saya khan sudah ikhlas nggak ikut. Lagian ini khan uang hutang tetangga, saya nggak tetep nggak mau dan takmasalah kelak ikut yang 1 bulan aja.
Selidik punya selidik, ternyata uang saku saya yang Rp 5.000 untuk satu minggu ketinggalan di rumah, dikira saya marah karena nggak dibolehkan ikut bimbingan....Makanya bapak-ibu lalu pontang-panting cari utangan untuk saya. Subhanallah, kasih sayang orang tua tak terbatas, apapun dilakukan demi anak. Surgalah insyaAllah utk kedua orangtuaku, amien.
Friday, January 1, 1993
1993, listrik masuk desa kami
Selama ini, takada jaringan listrik yang lewat di kampung kami. Bahkan SMP saya juga belum ada listrik. Praktis, di rumah mengandalkan lampu teplok untuk belajar.
Saat itu keluarga kami sempat punya TV dan satu-satunya di kampung kami, setiap 1 atau 2 minggu sekali kami nyetrumkan ke Bedono (sekira 5 km). Saat itu hanya ada siaran TVRI stasiun Solo dan Surabaya dan siaran hanya malam saja. TV hitam putih tsbkalo sore kita keluarkan di atas meja tamu depan, kalo malam selepas tetangga pulang semua, kita masukkan lagi.
Alhamdulillah, nyetrum aki tahun ini akan berakhir, aliran listrik masuk ke desa kami setelah tiang2 telah ditegakkan sekira setahun lalu.
Teringat cerita kala itu, desa kami tidak bisa dialiri listrik seperti desa-desa lain karena warganya terlalu sedikit sekira 60 KK, sehingga tidak ekonomis. Akhirnya disepakati, diminta 10 orang dari KK yang ada (termasuk keluarga kami) diwajibkan ambil yg 900 watt, bukan 450 watt seperti yang lain, dengan konsekuensi bayaran awal dan bulanan lebih mahal. Tapi demi listrik mengalir, alhamdulillah disepakati siapa2 yang termasuk 10 orang tsb.
Alhamdulillah akhirnya terang juga kampung kami.
Saat itu keluarga kami sempat punya TV dan satu-satunya di kampung kami, setiap 1 atau 2 minggu sekali kami nyetrumkan ke Bedono (sekira 5 km). Saat itu hanya ada siaran TVRI stasiun Solo dan Surabaya dan siaran hanya malam saja. TV hitam putih tsbkalo sore kita keluarkan di atas meja tamu depan, kalo malam selepas tetangga pulang semua, kita masukkan lagi.
Alhamdulillah, nyetrum aki tahun ini akan berakhir, aliran listrik masuk ke desa kami setelah tiang2 telah ditegakkan sekira setahun lalu.
Teringat cerita kala itu, desa kami tidak bisa dialiri listrik seperti desa-desa lain karena warganya terlalu sedikit sekira 60 KK, sehingga tidak ekonomis. Akhirnya disepakati, diminta 10 orang dari KK yang ada (termasuk keluarga kami) diwajibkan ambil yg 900 watt, bukan 450 watt seperti yang lain, dengan konsekuensi bayaran awal dan bulanan lebih mahal. Tapi demi listrik mengalir, alhamdulillah disepakati siapa2 yang termasuk 10 orang tsb.
Alhamdulillah akhirnya terang juga kampung kami.
Saturday, August 15, 1992
Bhs Inggris.... Kursus pun kok tetep susah ya
Bahasa Inggris.... rasanya pelajaran yang satu ini kok gak pernah terasa mudah. Dah dapat pelajaran di SMP 3 selama tahun pun terasa hampa, apa yang telah kudapat, apa yang aku bisa??.....SMA sama, pening rasanya kalo belajar yang satu ini.
Menimbang;
1. Tempat kursus berdekatan dengan kost
2. Harga murah dan terjangkau
3. Tentor adalah guru kelas di SMAN Sragen shg sgt menunjang pelajaran di sekolah
maka saya putuskan untuk kursus Bahasa Inggris dimulai dari kelas yang paling bawah, pre-elementary, 2 bulan dapat lulus dengan Excellent (A) wah hebat....
Dilanjutkan dengan kelas atasnya, Elementary, 2 bulan lulus dengan nilai satisfactory (B).... lho kok menurun....
Selanjutnya jadi pesimis.... kok lama-lama jadi susah lagi nih....Akhirnya malah nggak nglanjutin kursus, kasihan dengan sponsor penyandang dana
Menimbang;
1. Tempat kursus berdekatan dengan kost
2. Harga murah dan terjangkau
3. Tentor adalah guru kelas di SMAN Sragen shg sgt menunjang pelajaran di sekolah
maka saya putuskan untuk kursus Bahasa Inggris dimulai dari kelas yang paling bawah, pre-elementary, 2 bulan dapat lulus dengan Excellent (A) wah hebat....
Dilanjutkan dengan kelas atasnya, Elementary, 2 bulan lulus dengan nilai satisfactory (B).... lho kok menurun....
Selanjutnya jadi pesimis.... kok lama-lama jadi susah lagi nih....Akhirnya malah nggak nglanjutin kursus, kasihan dengan sponsor penyandang dana
Sunday, February 2, 1992
Lihat kecelakaan, ngeri dan lari......
Seingat saya saat kelas 2 SMA, saat Ahad sore balik dari kampung menuju kost di selatan SMA, naik sepeda.
Saat itu di perempatan terminal Sragen, saya yang datang dari arah utara mau masuk perempatan, dikagedkan dengan suara "brakkk..."....tabrakan telah terjadi antara truk gandeng dengan motor yang dinaiki seorang bapak dan ibu (istri/ibunya?). Tangisan pilu lantas mengiringi : "ibu..... ibu...."
Taklebih dari 25 meter saya melihat kejadian tersebut pakai mata kepala sendiri.....bukan menolong, saya malah kabur, hati ini perih, menangis, lalu saya pergi meningggalkan tempat tersebut, mengayuh sepeda sekuat tenaga, seperti kesetananan...
Sesampaianya di kost, saya menenangkan diri dengan apa yang terjadi, sedemikian ngeri saya melihat kecelakaan, takutt......
Saya pikir dalam.... apa mungkin saya mau neruskan cita-cita jadi dokter, lihat kecelakaan saja takut, lihat darah saja takut, lihat orang mati saja takut.... gimana mau nolong kalo takut...
"pikir ulang apa cita-citamu" begitu kata hatiku.
Saat itu di perempatan terminal Sragen, saya yang datang dari arah utara mau masuk perempatan, dikagedkan dengan suara "brakkk..."....tabrakan telah terjadi antara truk gandeng dengan motor yang dinaiki seorang bapak dan ibu (istri/ibunya?). Tangisan pilu lantas mengiringi : "ibu..... ibu...."
Taklebih dari 25 meter saya melihat kejadian tersebut pakai mata kepala sendiri.....bukan menolong, saya malah kabur, hati ini perih, menangis, lalu saya pergi meningggalkan tempat tersebut, mengayuh sepeda sekuat tenaga, seperti kesetananan...
Sesampaianya di kost, saya menenangkan diri dengan apa yang terjadi, sedemikian ngeri saya melihat kecelakaan, takutt......
Saya pikir dalam.... apa mungkin saya mau neruskan cita-cita jadi dokter, lihat kecelakaan saja takut, lihat darah saja takut, lihat orang mati saja takut.... gimana mau nolong kalo takut...
"pikir ulang apa cita-citamu" begitu kata hatiku.
Thursday, December 5, 1991
Ngerjain guru Fisika, ditinggal pulang sekelas
Pengalaman unik dan menarik sewaktu kelas 2 SMA.
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Monday, July 1, 1991
masuk Kelas II Fisika 2
Pada akhir semester II, diadakan seleksi penjurusan untuk kenaikan ke kelas II. Seleksi dilakukan secara menyeluruh terhadap semua kelas untuk menentukan siapa-siapa yang berminat dan berhak masuk jurusan Fisika (A1), Jurusan Biologi (A2), dan Jurusan Sosial (A3).
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Monday, July 16, 1990
Masuk SMA, penataran P4 dulu
Sebelum memulai proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti Penataran P4 dulu, untuk SMAN 1 Sragen diadakan pada 16 - 21 Juli 1990.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Sunday, July 1, 1990
Alhamd akhirnya sekolah di SMA 1 Sragen
nama siswa : SUNARDI
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
Tuesday, June 12, 1990
Teman2 SMP sekolah dimana aja
Saat itu SMP kami yang desa jarang yang ketika lulus melanjutkan pendidikan ke SMA. Tapi berkah adanya SMAN Sukodono yang mulai membuka pendaftaran siswa pada tahun ini, alhamdulillah banyak temen2 seangkatan saya yang melanjutkan sekolah.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Monday, June 11, 1990
Gakjadi SMA 2 tapi SMA 1
Tengah 1990
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Sunday, June 10, 1990
Lulus SMP masuk SMA mana ya?
Tengah tahun 1990
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Tuesday, June 5, 1990
Bahagianya Lulus SMP jadi Juara I
Saya taktahu pasti tanggalnya dan bulannya....
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
Monday, June 4, 1990
Nilai NEM kami...
Walaupun banyak pelajaran sulit, bahkan pelajaran fisika dan matematika yang awalnya sangat terasa mudah, tapi karena semester2 akhr ganti guru akhirnya jadi susah juga, saat Ebtanas nilai saya masih terbaik se-SMP.
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Thursday, May 31, 1990
Mengingat guru SMP
Christiani Ery Purwanti
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Temen sekelas 1c dan 3c SMP
Naik kelas 2 kami dipisahkan, masuk kelas 3 kami disatukan kembali.
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Wednesday, May 16, 1990
14-16 Mei 1990 Ebtanas
Ujian berat menantang kami berupa EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dilakukan serentak tanggal 14 hingga 16 Mei 1990 untuk 6 mata pelajaran yang diujikan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Wednesday, April 25, 1990
Pelajaran SMP banyak yg susah
Pelajaran di SMP saya rasakan banyak yang susah.
Ada pelajaran biologi yang ngapalkan nama-nama latin, duh susahnya..
Ada pelajaran sejarah ngapalin juga banyak, awalnya ada guru yang enak crita terus di depan kelas, tapi kita nggak sempat nyatat karena asyik mendengarkan cerita. Eh, pernah pula diganti guru lain, isinya banyak soal-jawab saja, susah banget.
Lebih lagi pelajaran bahasa Inggris, makanan apa lagi nih, 3 tahun blas nggak tahu apa-apa. Apalagi kelas II, sering kosong pelajaranya karena guru hamil dan tidak ada pengganti. Rada sedikit ngerti itupun dikit waktu kelas III, karena wali kelas IIIC adalah guru bahasa Inggris, kalo gak salah sengaja diecer-ecer, selama seminggu tatap muka sampai 4 kali.
Lain lagi pelajaran kesenian, emang dasarnya saya gak bisa menggambar dll. Bahkan ketika kelas III, pelajarannya adalah main gitar, udah gakpunya, pinjam orang lain untuk ngajarin pun tetep gakbisa. Untung saat itu ujiannya tertutup, hanya ada siswa dan guru, jrang-jreng semaunya, semalu-malunya biarin aja hehehe.
Yang rada lumayan bagus dan seneng adalah pelajaran olahraga. Kalo fisik mungkin sering kalah sama temen2, inget mukul bola volley aja sering nggak bisa melampaui net. Tapi kalo teori lumayan jago lah, nilai 8, 9 atau 10 terus. Inget dulu pernah satu kali eyel2n dengan pak Margono, lebih banyak vitaminnya mana antara tempe dan telor. Saya njawabnya tempe, disalahkan, yg benar telor.
Pelajaran yang agak suka lagi adalah Fisika. Gurunya masih muda, grapyak, sering naik sepeda mini bareng dengan kita-kita. Tapi ketika kelas III, guru diganti dan hilanglah kesukaan saya pada pelajaran fisika.
Pelajaran paling saya suka selama SMP adalah Matematika. Ya, sejak kelas 1 hingga kelas III, pelajaran ini adalah favorit saya. Gurunya kecil, muda, cantik. Bu Christiana Eri Purwanti.
Tapi, lagi-lagi pelajaran berubah menjadi tak menarik tatkala guru kita diganti. Masuk semester VI, bu Eri yang barusan menikah kemudian hamil dan mengajukan pindah ke daerah asal, yaitu Ngawi... jatuhlah nilai matematika saya.
Diajar oleh guru yang sama sekali baru dan asing bagi saya yang sejak kelas I diajar bu Eri, seringkali ulangan harian/mingguna saya betul-betul jeblok. Pernah satu ketika, dari 5 soal yang diberikan, taksatupun saya mampu menjawab dengan benar.
Ada pelajaran biologi yang ngapalkan nama-nama latin, duh susahnya..
Ada pelajaran sejarah ngapalin juga banyak, awalnya ada guru yang enak crita terus di depan kelas, tapi kita nggak sempat nyatat karena asyik mendengarkan cerita. Eh, pernah pula diganti guru lain, isinya banyak soal-jawab saja, susah banget.
Lebih lagi pelajaran bahasa Inggris, makanan apa lagi nih, 3 tahun blas nggak tahu apa-apa. Apalagi kelas II, sering kosong pelajaranya karena guru hamil dan tidak ada pengganti. Rada sedikit ngerti itupun dikit waktu kelas III, karena wali kelas IIIC adalah guru bahasa Inggris, kalo gak salah sengaja diecer-ecer, selama seminggu tatap muka sampai 4 kali.
Lain lagi pelajaran kesenian, emang dasarnya saya gak bisa menggambar dll. Bahkan ketika kelas III, pelajarannya adalah main gitar, udah gakpunya, pinjam orang lain untuk ngajarin pun tetep gakbisa. Untung saat itu ujiannya tertutup, hanya ada siswa dan guru, jrang-jreng semaunya, semalu-malunya biarin aja hehehe.
Yang rada lumayan bagus dan seneng adalah pelajaran olahraga. Kalo fisik mungkin sering kalah sama temen2, inget mukul bola volley aja sering nggak bisa melampaui net. Tapi kalo teori lumayan jago lah, nilai 8, 9 atau 10 terus. Inget dulu pernah satu kali eyel2n dengan pak Margono, lebih banyak vitaminnya mana antara tempe dan telor. Saya njawabnya tempe, disalahkan, yg benar telor.
Pelajaran yang agak suka lagi adalah Fisika. Gurunya masih muda, grapyak, sering naik sepeda mini bareng dengan kita-kita. Tapi ketika kelas III, guru diganti dan hilanglah kesukaan saya pada pelajaran fisika.
Pelajaran paling saya suka selama SMP adalah Matematika. Ya, sejak kelas 1 hingga kelas III, pelajaran ini adalah favorit saya. Gurunya kecil, muda, cantik. Bu Christiana Eri Purwanti.
Tapi, lagi-lagi pelajaran berubah menjadi tak menarik tatkala guru kita diganti. Masuk semester VI, bu Eri yang barusan menikah kemudian hamil dan mengajukan pindah ke daerah asal, yaitu Ngawi... jatuhlah nilai matematika saya.
Diajar oleh guru yang sama sekali baru dan asing bagi saya yang sejak kelas I diajar bu Eri, seringkali ulangan harian/mingguna saya betul-betul jeblok. Pernah satu ketika, dari 5 soal yang diberikan, taksatupun saya mampu menjawab dengan benar.
Tuesday, August 1, 1989
Elektronik susah, Jasa aja
Waktu kelas 3, kami diberikan pilihan pelajaran ketrampilan tambahan, yaitu Ketrampilan Jasa atau Ketrampilan Elektronik.
Sebelumnya pernah dapat pelajaran elektronika di kelas II, isinya rangkaian2 elektronika yang susah, tidak mudheng blas. Akhirnya saya milih ketrampilan jasa aja, sudah pelajarannya enak, gurunya gak galak, kalo gak salah namanya bu Ayu, udah gitu nilainya mudah. Diajarin ngitung pembukuan, kenal debet dan kredit saja sudah seneng banget rasanya.
Ingat debet-kredit, saya pernah diajak ikut membuka tabungan TABANAS oleh Sumidi ke BRI deket dengan SMP, tapi karena jarang pegang uang, gaktahu sampai jumlah berapa tabungan saya saat itu, dan gak saya lanjutkan lagi selepas lulus SMP.
Sebelumnya pernah dapat pelajaran elektronika di kelas II, isinya rangkaian2 elektronika yang susah, tidak mudheng blas. Akhirnya saya milih ketrampilan jasa aja, sudah pelajarannya enak, gurunya gak galak, kalo gak salah namanya bu Ayu, udah gitu nilainya mudah. Diajarin ngitung pembukuan, kenal debet dan kredit saja sudah seneng banget rasanya.
Ingat debet-kredit, saya pernah diajak ikut membuka tabungan TABANAS oleh Sumidi ke BRI deket dengan SMP, tapi karena jarang pegang uang, gaktahu sampai jumlah berapa tabungan saya saat itu, dan gak saya lanjutkan lagi selepas lulus SMP.
Saturday, July 1, 1989
Study Tour SMP ke Kebumen
Saat kenaikan kelas II ke kelas III, SMP mengadakan study tour.
Saat itulah saya pertma kalinya mengenal wisata/piknik. Saking semangatnya, sejak malam kami menginap di SMP bersama teman-teman, rencana berangkat setelah shubuh, walaupun akhirnya kami harus puas baru bisa diberangkatkan pukul 8 pagi. Tujuan wisata ke kebumen; Goa Jatijajar, Pantai Ayah, Waduk Sempor. Bus seat 2-3 kita serasa nikmat.
Saya taktahu peta sama sekali, kebumen itu mana, lewat mana, blas gaktahu. Tahu2 kita bisa masuk Goa, pantai, dan wduk. Masih inget, waktu itu saya dikasih bekal nasi dan mentimun. Alhamdulillah gakpakai mabuk, padahal itu mungkin pertamakalinya saya naik bus untuk perjalanan jauh.
Acara study tour cuma 1 hari, takada nginap, so tengah malam barulah kita sampai rumah lagi.
Saat itulah saya pertma kalinya mengenal wisata/piknik. Saking semangatnya, sejak malam kami menginap di SMP bersama teman-teman, rencana berangkat setelah shubuh, walaupun akhirnya kami harus puas baru bisa diberangkatkan pukul 8 pagi. Tujuan wisata ke kebumen; Goa Jatijajar, Pantai Ayah, Waduk Sempor. Bus seat 2-3 kita serasa nikmat.
Saya taktahu peta sama sekali, kebumen itu mana, lewat mana, blas gaktahu. Tahu2 kita bisa masuk Goa, pantai, dan wduk. Masih inget, waktu itu saya dikasih bekal nasi dan mentimun. Alhamdulillah gakpakai mabuk, padahal itu mungkin pertamakalinya saya naik bus untuk perjalanan jauh.
Acara study tour cuma 1 hari, takada nginap, so tengah malam barulah kita sampai rumah lagi.
Tuesday, June 6, 1989
Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2
Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2
SMP Negeri Mondokan, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Kelas 2C sekira Juni 1988 s.d. Juni 1989)
Rusdiyanto
Sarwo Edi
Sudardo
Sudarmini
Sudaryono
Sugiman
Sugimin
Sugini
Sugiri
Sugiyo
Sumanto
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Supar
Suparlan
Suparman
Suparno A
Suparno B
Suparti
Supoyo
Suryastani
Sutinah
harusnya ada 48, tapi yang lain masih lupa
SMP Negeri Mondokan, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Kelas 2C sekira Juni 1988 s.d. Juni 1989)
Rusdiyanto
Sarwo Edi
Sudardo
Sudarmini
Sudaryono
Sugiman
Sugimin
Sugini
Sugiri
Sugiyo
Sumanto
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Supar
Suparlan
Suparman
Suparno A
Suparno B
Suparti
Supoyo
Suryastani
Sutinah
harusnya ada 48, tapi yang lain masih lupa
Thursday, December 1, 1988
Saling kunjungi rumah teman
Saat SMP, terutama saat jam pelajaran kosong atau bebas, guru rapat dll yang akhirnya pulang pagi, kami sering dolan-dolan ke rumah salah satu rumah diantara teman2.
Atau bahkan kalau ada temen yang sakit dan sudah gakmasuk sekolah beberapa hari, atas sepersetujuan wali kelas, kita sekelas menjenguk semuanya.
teringat Sumidi, Sudardo, Turono adalah teman akrab saya, mereka pernah pula berkunjung ke rumah kami. Ibu sedemikian menghargai tamu-tamu saya, walaupun saya anak kecil, tamu2 saya disediakan makanan dan minuman, alhamdulillah, jazakallahu kk.
Gantinya, pernah juga saya jalan2 bersilaturahmi ke rumah Sudardo di Mondokan, rumahnya asri. Mas-nya ada yang sekolah SMA di solo, wah keren sekali sekolah disana, pikir saya waktu itu.
Juga saya sering pulang bareng dan saling mampir ke rumah Turono di Juwok. Dia punya kebun mentimun, sering dan sangat suka saya karena rasanya enak dan banyak, gratis lagi. Kalo ke rumah Sumidi juga sering.
Teringat betapa keakraban kami waktu itu sangat terasa. Pernah naik sepeda bareng2 nengok Rusdiyanto (di Nggrumbul, Tanon) yang sudah sakit sekira 1 minggu. Kami disuguhi minum, bahkan roti yang kita bawa untuk oleh2pun kita makan juga karena dihidangkan.
Seingat saya juga pernah ikut nengok juga Sumini (anak pedagang sapi Mondokan), Dian Purnomo di Bendo (waktu kelas 3), Sumidi (Bendo) dan Utami dll.
Atau bahkan kalau ada temen yang sakit dan sudah gakmasuk sekolah beberapa hari, atas sepersetujuan wali kelas, kita sekelas menjenguk semuanya.
teringat Sumidi, Sudardo, Turono adalah teman akrab saya, mereka pernah pula berkunjung ke rumah kami. Ibu sedemikian menghargai tamu-tamu saya, walaupun saya anak kecil, tamu2 saya disediakan makanan dan minuman, alhamdulillah, jazakallahu kk.
Gantinya, pernah juga saya jalan2 bersilaturahmi ke rumah Sudardo di Mondokan, rumahnya asri. Mas-nya ada yang sekolah SMA di solo, wah keren sekali sekolah disana, pikir saya waktu itu.
Juga saya sering pulang bareng dan saling mampir ke rumah Turono di Juwok. Dia punya kebun mentimun, sering dan sangat suka saya karena rasanya enak dan banyak, gratis lagi. Kalo ke rumah Sumidi juga sering.
Teringat betapa keakraban kami waktu itu sangat terasa. Pernah naik sepeda bareng2 nengok Rusdiyanto (di Nggrumbul, Tanon) yang sudah sakit sekira 1 minggu. Kami disuguhi minum, bahkan roti yang kita bawa untuk oleh2pun kita makan juga karena dihidangkan.
Seingat saya juga pernah ikut nengok juga Sumini (anak pedagang sapi Mondokan), Dian Purnomo di Bendo (waktu kelas 3), Sumidi (Bendo) dan Utami dll.
Tuesday, November 1, 1988
Dijahilin orang: sepedaku dikunci, kunci takda
Saat kelas 2 SMP, saya pernah kena ulah tangan jahil. Waktu itu, saya pakai sepeda jengki RRT kata orang. Perjalanan sekira 30 menit, 8 km tapi jalannya naik-turun. Saat pagi nyampe di sekolah, kadang lupa (kadang buru2, kadang malas juga) untuk mengunci.
Tiba saatnya siang akan pulang, eh malah sepeda saya dikunci orang, yang menjengkelkan adalah kunci nggak tahu ditaruh dimana. Pernah saya tinggal aja, pulang mbonceng kawan, sore diambil pakai kunci dobelannya.
Tapi selang berapa lama kemudian, pas suatu ketika tak terkunci lagi, eh dikunci orang lagi. Karena kunci dobelannya dah habis, terpaksa dech gembok dibongkar paksa. Yah, dasar ulah anak nakal.
Perasaan saya nggak pernah punya musuh atau jahilin orang, tapi kenapa saya dijahilin orang, sampai sekarang nggak tahu itu ulah siapa, insyaAllah saya maafkan, dan semoga Allah mengampuninya.
Tiba saatnya siang akan pulang, eh malah sepeda saya dikunci orang, yang menjengkelkan adalah kunci nggak tahu ditaruh dimana. Pernah saya tinggal aja, pulang mbonceng kawan, sore diambil pakai kunci dobelannya.
Tapi selang berapa lama kemudian, pas suatu ketika tak terkunci lagi, eh dikunci orang lagi. Karena kunci dobelannya dah habis, terpaksa dech gembok dibongkar paksa. Yah, dasar ulah anak nakal.
Perasaan saya nggak pernah punya musuh atau jahilin orang, tapi kenapa saya dijahilin orang, sampai sekarang nggak tahu itu ulah siapa, insyaAllah saya maafkan, dan semoga Allah mengampuninya.
Saturday, October 1, 1988
Gak bawa kaos olahraga, gak senam, dihukum
Tanggal dan bulan persis tidak ingat, saat di kelas 2 SMP.
Suatu pagi, hari Jumat biasanya ada kegiatan rutin dan wajib berupa olahraga bersama seluruh siswa di halaman sekolah, namanya senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Nasib kurang baik menghampiri diriku, mendekati SMP saya lupa nggak bawa kaos olahraga resmi.
Bingung diriku membuat keputusan. Langsung masuk kelas tanpa olahraga gak mungkin (karena mesti melewati halaman sekolah), ikut senam tanpa kaos resmi tentu gak boleh, mau nungguin diluar sekolah juga betapa suntuk dan deg2an kalo ketahuan. Gaktahu kenapa, mungkin mengharapkan keajaiban datang berupa molornya senam, diriku memilih kembali ke rumah yang jaraknya sekira 5 km, dah gitu kecepatan naik sepeda onthel jengki seberapa sih....
Akhirnya.... keberuntungan belum berpihak pada diriku. Sesampainya di sekolah, SKJ telah selesai, temen2 sudah masuk kelas. Siang hari, tibalah saatnya diriku termasuk yang dipanggil untuk menerima hukuman karena gak ikut senam. Kami dijemur di panas terik matahari di lapangan volley berpasir.... nasib... nasib
Suatu pagi, hari Jumat biasanya ada kegiatan rutin dan wajib berupa olahraga bersama seluruh siswa di halaman sekolah, namanya senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Nasib kurang baik menghampiri diriku, mendekati SMP saya lupa nggak bawa kaos olahraga resmi.
Bingung diriku membuat keputusan. Langsung masuk kelas tanpa olahraga gak mungkin (karena mesti melewati halaman sekolah), ikut senam tanpa kaos resmi tentu gak boleh, mau nungguin diluar sekolah juga betapa suntuk dan deg2an kalo ketahuan. Gaktahu kenapa, mungkin mengharapkan keajaiban datang berupa molornya senam, diriku memilih kembali ke rumah yang jaraknya sekira 5 km, dah gitu kecepatan naik sepeda onthel jengki seberapa sih....
Akhirnya.... keberuntungan belum berpihak pada diriku. Sesampainya di sekolah, SKJ telah selesai, temen2 sudah masuk kelas. Siang hari, tibalah saatnya diriku termasuk yang dipanggil untuk menerima hukuman karena gak ikut senam. Kami dijemur di panas terik matahari di lapangan volley berpasir.... nasib... nasib
Monday, August 8, 1988
Pertama mbonceng motor jauh, lewat kota Sragen
Pengalaman menarik tatkala pertama kali melakukan perjalanan jauh naik motor Yamaha L2 Super warna merah bersama bapak.
Saat itu Mas Narto yang sekolah di SMT Pertanian Kedawung (kecamatan di ujung selatan Sragen) tidak bisa pulang. Persediaan uang dan beras untuk makan sehari-hari habis. Akhirnya bapak mengajak saya untuk kesana sekalian silaturahmi ke bapak-ibu kost. Motor ini adalah motor kedua yang dimiliki bapak, sebelumnya punya bebek Honda C-70 warna hijau.
Rumah kami di Ngganti ke Kedawng mungkin sejauh 50 km. Sesampainya di Pungkruk, saya baru tahu kalo ke Sragen jalannya harus belok kiri. Bukan kanan, kalo ke kanan sampai Solo (belum terbayang sama sekali kayak apa Solo itu). Ya walaupun dah SMP, kayaknya baru sekarang agak paham dimana arah Sragen, kemana arah Solo, kuper sangat ya hehe.
Sampai di kost-nya mas Narto, ngobrol dengan ibu kost, lihat-lihat sekolahnya Mas Narto, dan lalu pulang lagi.
Pulangnya kami mampir makan soto (dulu nyebut saya saoto) di pertigaan Pungkruk, enak banget rasanya.
Saat itu Mas Narto yang sekolah di SMT Pertanian Kedawung (kecamatan di ujung selatan Sragen) tidak bisa pulang. Persediaan uang dan beras untuk makan sehari-hari habis. Akhirnya bapak mengajak saya untuk kesana sekalian silaturahmi ke bapak-ibu kost. Motor ini adalah motor kedua yang dimiliki bapak, sebelumnya punya bebek Honda C-70 warna hijau.
Rumah kami di Ngganti ke Kedawng mungkin sejauh 50 km. Sesampainya di Pungkruk, saya baru tahu kalo ke Sragen jalannya harus belok kiri. Bukan kanan, kalo ke kanan sampai Solo (belum terbayang sama sekali kayak apa Solo itu). Ya walaupun dah SMP, kayaknya baru sekarang agak paham dimana arah Sragen, kemana arah Solo, kuper sangat ya hehe.
Sampai di kost-nya mas Narto, ngobrol dengan ibu kost, lihat-lihat sekolahnya Mas Narto, dan lalu pulang lagi.
Pulangnya kami mampir makan soto (dulu nyebut saya saoto) di pertigaan Pungkruk, enak banget rasanya.
Tuesday, December 1, 1987
Miskin, takpunya uang beli buku, takpernah jajan
Teringat miskinnya saya, takpunya uang beli buku pelajaran.
Wali kelas 1 guru bahasa Inggris, bu Dra. Haslinda RR namanya, orangnya baik. Ingat semester 1, satu-satunya pelajar di kelas I C yang tidak memiliki buku pegangan bahasa Inggris adalah saya.
Sampai suatu ketika, dalam forum kelas, ibu Linda bilang, udahlah mau dibayar kapan, dan dicicil berapa kalipun silakan yang penting punya buku, saya tetep gakmau. Saya tidak punya keberanian untuk meminta uang untuk beli buku kepada mas Mul maupun orang tua. Saya sedih dan malu sama temen maupun bu guru, tapi mau gimana lagi.
Pun demikian, alhamdulillah, semester 1 saya mendapatkan kehormatan menjadi juara 1 di kelas I C (sistem rangking per kelas, bukan satu sekolah)
Lagi-lagi saya takpernah sekalipun jajan sekedar tahu, tempe, bakwan atau bahkan soto. Memang sejak SMP, orang tua kami sudah paham begitu pentingnya sarapan pagi, sehingga diusahakan sedikit apapun jika ada kita makan sarapan. Minuman pun saat itu belum terpirir untuk bawa. Ketika olahraga, saya masih teringat, kalo minum pergi aja ke kantin karena disediakan minum gratis, alhamdulillah, banyak pahala bagi pemilik warung, amien.
Bahkan ketika sore hari kalo harus ikut acara pramuka atau olahraga, saya memilih pulang dulu naik sepeda 8 km, makan, sholat, dan berangkat lagi. Dipikir2 sekarang; kok bisa ya.
Inget olahraga, inget dulu setiap hari jum’at pagi wajib senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ada guru Pak Ismu dan Pak Margono yang siap meng-absen mana-mana anak yang tidak ikut. Saya pernah sekali gak ikut, karena lupa nggak bawa kaos, eh kena hukum dech pas jam olahraga. Hukumannya lari mengitari SMP beberapa kali.
Wali kelas 1 guru bahasa Inggris, bu Dra. Haslinda RR namanya, orangnya baik. Ingat semester 1, satu-satunya pelajar di kelas I C yang tidak memiliki buku pegangan bahasa Inggris adalah saya.
Sampai suatu ketika, dalam forum kelas, ibu Linda bilang, udahlah mau dibayar kapan, dan dicicil berapa kalipun silakan yang penting punya buku, saya tetep gakmau. Saya tidak punya keberanian untuk meminta uang untuk beli buku kepada mas Mul maupun orang tua. Saya sedih dan malu sama temen maupun bu guru, tapi mau gimana lagi.
Pun demikian, alhamdulillah, semester 1 saya mendapatkan kehormatan menjadi juara 1 di kelas I C (sistem rangking per kelas, bukan satu sekolah)
Lagi-lagi saya takpernah sekalipun jajan sekedar tahu, tempe, bakwan atau bahkan soto. Memang sejak SMP, orang tua kami sudah paham begitu pentingnya sarapan pagi, sehingga diusahakan sedikit apapun jika ada kita makan sarapan. Minuman pun saat itu belum terpirir untuk bawa. Ketika olahraga, saya masih teringat, kalo minum pergi aja ke kantin karena disediakan minum gratis, alhamdulillah, banyak pahala bagi pemilik warung, amien.
Bahkan ketika sore hari kalo harus ikut acara pramuka atau olahraga, saya memilih pulang dulu naik sepeda 8 km, makan, sholat, dan berangkat lagi. Dipikir2 sekarang; kok bisa ya.
Inget olahraga, inget dulu setiap hari jum’at pagi wajib senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ada guru Pak Ismu dan Pak Margono yang siap meng-absen mana-mana anak yang tidak ikut. Saya pernah sekali gak ikut, karena lupa nggak bawa kaos, eh kena hukum dech pas jam olahraga. Hukumannya lari mengitari SMP beberapa kali.
Saturday, July 25, 1987
Masuk SMP, latihan penataran P4
Sebelum mengikuti proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti penataran P4.
Untuk SMPN Mondokan diselenggarakan pada 20-25 Juli 1987. Enak aja ndengerin pagi hingga tengah hari, njuk pulang.
Untuk SMPN Mondokan diselenggarakan pada 20-25 Juli 1987. Enak aja ndengerin pagi hingga tengah hari, njuk pulang.
Monday, July 20, 1987
Sekolah di SMPN Mondokan
Nama siswa : SUNARDI
Nomor induk : 927
Saat itu melanjutkan sekolah ke SMP masih barang mahal, tapi karena keluarga Pakdhe Samto dan keluarga saya ada yang sudah pada sekolah SMP dan SMA, maka sekolah SMP tentu sama sekali takda masalah, kalo takda uang, minimal semangat mesti membara.
Saya tidak banyak risau untuk masuk SMP mana, karena jauh-jauh hari mas Mul sudah bilang bahwa asal nilai NEM saya bagus. Saya tak ingat pasti, term NEM yang sifatnya nasional kayaknya baru mulai pertama kali diterapkan pada jaman itu. Sebelumnya biasanya hanya dikatakan Ebtanas saja (Evaluasi Belajar Tingkat Akhir Nasional).
Alhamdulillah, dengan NEM yang saya miliki, di SMP Negeri manapun, saya bisa dipastikan masuk SMP Sukodono, Mondokan, maupun Gesi yang relatif dekat dengan kampung kami.
Alasan agar ada temennya Sutris, saya didaftarkan ke SMP N Mondokan, di kecamatan sebelah barat, padahal desa saya saya paling timur sudah berbatasan dengan kecamatan Gesi di sebelah timur. Jadi kalo hitungan dekat, seharusnya ke SMP N Sukodono (di kecamatan sendiri) atau SMP N Gesi. Tapi waktu itu juga mempertimbangkan mutu, SMP N Mondokan kayaknya lagi bagus prestasinya.
Perjalanan naik sepeda jarak sekira 8 km ditempuh dengan naik sepeda. Takda kawan se SD yang ndaftar disana, eh ada satu namanya Prihatin tapi beda kelas, saat kelas II dia jadi ketua OSIS dan sekarang kalo taksalah jadi tentara Kopassus selepas SMP/SMA. Hanya Sutris kawan se-kampung yang sekolah se-SMP. Tapi sempat ketika kelas II ditemeni Purwoko temen sekampung yang baru pindah dari Kalimantan. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke luar jawa mengikuti orang tua.
Masuk SMP, bayar sekolah ditanggung bersama antara Mas Mul dan Bapak, uang seragam mas Mul sedangkan uang gedung bapak-ibu. Ada temen seperjuangan, yaitu Woko yang punya sepeda cantik. Saya masih pake sepeda biasa, tapi sepeda saya antik, dinamakan sepeda "trondol".
Mulai SMP, pembagian waktu dalam setahun bukan lagi per empat bulan (catur wulan, setahun = 3 cawu) seperti sewaktu di SD, tapi semester (per 6 bulan, setahun = 2 semester). SMP dalam satu angkatan waktu itu terbagi dalam 4 kelas ABCD.
Nomor induk : 927
Saat itu melanjutkan sekolah ke SMP masih barang mahal, tapi karena keluarga Pakdhe Samto dan keluarga saya ada yang sudah pada sekolah SMP dan SMA, maka sekolah SMP tentu sama sekali takda masalah, kalo takda uang, minimal semangat mesti membara.
Saya tidak banyak risau untuk masuk SMP mana, karena jauh-jauh hari mas Mul sudah bilang bahwa asal nilai NEM saya bagus. Saya tak ingat pasti, term NEM yang sifatnya nasional kayaknya baru mulai pertama kali diterapkan pada jaman itu. Sebelumnya biasanya hanya dikatakan Ebtanas saja (Evaluasi Belajar Tingkat Akhir Nasional).
Alhamdulillah, dengan NEM yang saya miliki, di SMP Negeri manapun, saya bisa dipastikan masuk SMP Sukodono, Mondokan, maupun Gesi yang relatif dekat dengan kampung kami.
Alasan agar ada temennya Sutris, saya didaftarkan ke SMP N Mondokan, di kecamatan sebelah barat, padahal desa saya saya paling timur sudah berbatasan dengan kecamatan Gesi di sebelah timur. Jadi kalo hitungan dekat, seharusnya ke SMP N Sukodono (di kecamatan sendiri) atau SMP N Gesi. Tapi waktu itu juga mempertimbangkan mutu, SMP N Mondokan kayaknya lagi bagus prestasinya.
Perjalanan naik sepeda jarak sekira 8 km ditempuh dengan naik sepeda. Takda kawan se SD yang ndaftar disana, eh ada satu namanya Prihatin tapi beda kelas, saat kelas II dia jadi ketua OSIS dan sekarang kalo taksalah jadi tentara Kopassus selepas SMP/SMA. Hanya Sutris kawan se-kampung yang sekolah se-SMP. Tapi sempat ketika kelas II ditemeni Purwoko temen sekampung yang baru pindah dari Kalimantan. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke luar jawa mengikuti orang tua.
Masuk SMP, bayar sekolah ditanggung bersama antara Mas Mul dan Bapak, uang seragam mas Mul sedangkan uang gedung bapak-ibu. Ada temen seperjuangan, yaitu Woko yang punya sepeda cantik. Saya masih pake sepeda biasa, tapi sepeda saya antik, dinamakan sepeda "trondol".
Mulai SMP, pembagian waktu dalam setahun bukan lagi per empat bulan (catur wulan, setahun = 3 cawu) seperti sewaktu di SD, tapi semester (per 6 bulan, setahun = 2 semester). SMP dalam satu angkatan waktu itu terbagi dalam 4 kelas ABCD.
Saturday, June 6, 1987
Lulus SD jadi Juara II
Saya sejak kelas 1 selalu rangking 1 atau 2 pada setiap catur wulan (cawu), selalu bergantian dengan Wiryawan yang masih ada tali saudara keluarga.
Mempertahankan tradisi juara saya lakukan karena begitu bangganya saya ketika melihat mas sutris menerima hadiah buku tulis dari sekolah ketika bisa menjuarai kelas. Setelah itu, terpompa semangat saya untuk bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah buku. Terlebih, saat itu mbak Sri juga memberikan hadiah jika saya bisa menjadi juara kelas.
Tapi begitu lulus, eh Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya nomor 2, selisih dikit dengan Haris Triyanto (awal kelas 6 dia pindah dari MIM). NEM saya 35.76, kalo taksalah Haris 35.80.
Nilai NEM saya tertanggal 6 Juni 1987
1. PMP 7.07
2. Bahasa Indonesia 8.15
3. IPA 6.67
4. IPS 7.87
5. Matematika 6.00
Jumlah 35.76
Konstelasi NEM nasional, atau bahkan sekedar di kota Sragen, kita gak paham dan gak kita hiraukan, karena memang nggak kita pakai kecuali utk syarat masuk ke-3 SMP negeri yang terdekat. Saya akhirnya masuk ke SMP N Mondokan, Haris ke SMP N Sukodono, dan Wiryawan ke SMP N Gesi. Kelak, saya dan Haris ketemu lagi di SMA N 1 Sragen, udah gitu satu kelas lagi (1 D).
Mempertahankan tradisi juara saya lakukan karena begitu bangganya saya ketika melihat mas sutris menerima hadiah buku tulis dari sekolah ketika bisa menjuarai kelas. Setelah itu, terpompa semangat saya untuk bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah buku. Terlebih, saat itu mbak Sri juga memberikan hadiah jika saya bisa menjadi juara kelas.
Tapi begitu lulus, eh Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya nomor 2, selisih dikit dengan Haris Triyanto (awal kelas 6 dia pindah dari MIM). NEM saya 35.76, kalo taksalah Haris 35.80.
Nilai NEM saya tertanggal 6 Juni 1987
1. PMP 7.07
2. Bahasa Indonesia 8.15
3. IPA 6.67
4. IPS 7.87
5. Matematika 6.00
Jumlah 35.76
Konstelasi NEM nasional, atau bahkan sekedar di kota Sragen, kita gak paham dan gak kita hiraukan, karena memang nggak kita pakai kecuali utk syarat masuk ke-3 SMP negeri yang terdekat. Saya akhirnya masuk ke SMP N Mondokan, Haris ke SMP N Sukodono, dan Wiryawan ke SMP N Gesi. Kelak, saya dan Haris ketemu lagi di SMA N 1 Sragen, udah gitu satu kelas lagi (1 D).
mengingat temen SD
Mengingat temen sekelas SD
SD Negeri Pantirejo I, Kec. Sukodono, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Masuk kelas 1 sekira Juni 1981, Lulus kelas 6 sekira Juni 1987)
1. Wiryawan (selalu bersaing memperebutkan juara I dengan diriku)
2. Gatot (putrane mbah Ndermo)
3. Haris Triyanton (pindahan dari MI kelas 5 atau 6)
4. Didik (putrane bu guru)
5. Ninik Nuraini (anak pak kaur)
6. Rosmiyati
7. Martantiningsih
8. Sudarti (temen sekampung)
9. Roslan (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
10. Sandim (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
Mungkin total ada 30-an, tapi lupa.....
SD Negeri Pantirejo I, Kec. Sukodono, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Masuk kelas 1 sekira Juni 1981, Lulus kelas 6 sekira Juni 1987)
1. Wiryawan (selalu bersaing memperebutkan juara I dengan diriku)
2. Gatot (putrane mbah Ndermo)
3. Haris Triyanton (pindahan dari MI kelas 5 atau 6)
4. Didik (putrane bu guru)
5. Ninik Nuraini (anak pak kaur)
6. Rosmiyati
7. Martantiningsih
8. Sudarti (temen sekampung)
9. Roslan (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
10. Sandim (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
Mungkin total ada 30-an, tapi lupa.....
Monday, June 1, 1987
Mengingat Guru2 di SD
Kelas 1, 2, 3 saya diasuh oleh guru kelas yang suaranya nyaring, jelas, dan tegas. Bu Wiwik, dari Kuyang (masih satu kelurahan). Beliau guru baru, pindahan dari sekolah lain. Ingat bu Wiwik, saya sangat terinspirasi sekali dengan sebuah film saat itu yang saya tonton di televisi punya pakdhe, tentang kegigihan belajar seorang anak kampung dan kegigihan mengajar seorang guru perempuan kota yang ditempatkan dipelosok negri. Ketika sukses dalam belajar, demikian bangganya pada diri si murid dan si guru.
Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.
Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.
Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.
Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.
Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.
Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.
Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.
Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.
Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.
Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.
Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.
Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.
Thursday, May 14, 1987
11-14 Mei 1987 EBTANAS
11-14 Mei 1987 Ujian Ebtanas SD.
Ini adalah Ujian akhir sekolah pertama yang saya ikuti. Ini pertaruhan reputasi saya selama ini dan sebagai bekal melangkah ke SMP. Nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni, gaktahu kalo ga kmurni kayak apa) akan dijadikan bahan persyaratan dan standard untuk penerimaan siswa SMP, jadi harus all out.
Data saya;
No peserta : 254
Sekolah asal : SD Negeri Pantirejo I
Ini adalah Ujian akhir sekolah pertama yang saya ikuti. Ini pertaruhan reputasi saya selama ini dan sebagai bekal melangkah ke SMP. Nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni, gaktahu kalo ga kmurni kayak apa) akan dijadikan bahan persyaratan dan standard untuk penerimaan siswa SMP, jadi harus all out.
Data saya;
No peserta : 254
Sekolah asal : SD Negeri Pantirejo I
Tuesday, July 1, 1986
Gagal panen, gagal study tour
Ada kejadian yang tak terlupakan waktu akhir-akhir di SD, rencana piknik gagal total.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kenaikan dari kelas V ke kelas VI, diadakan study tour. Saat kita di kelas V, sudah dirancang jauh-jauh hari study tour ke Jogja. Namun, pada saat kenaikan kelas acara tersebut dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami semua orang kampung yang mengandalkan hasil pertanian, dan saat itu terjadi kekeringan yang hebat hingga gagal panen, dan imbasnya kami semua menyetujui pembatalan ini. Yah, semua harus prihatin.
Ingat kekeringan, ingat sumur hampir semua tidak ada cukup air untuk ditimba. Kami membuat sumur "belik", bekas sungai yg mengering dibuat sumur, lumayan sedikit masih bisa ada airnya.
Teringat juga saat itu, pernah nimba di sumur di kebunnya Lik Sardi deket kuburan, padahal sumur tsb hampir tidak pernah diambil airnya. Atau ambil air di belik, sungai dekat rumah.
Karena air terbatas, maka sebelum shubuh kami sudah menimba air, siang dikit dah rebutan soalnya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kenaikan dari kelas V ke kelas VI, diadakan study tour. Saat kita di kelas V, sudah dirancang jauh-jauh hari study tour ke Jogja. Namun, pada saat kenaikan kelas acara tersebut dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami semua orang kampung yang mengandalkan hasil pertanian, dan saat itu terjadi kekeringan yang hebat hingga gagal panen, dan imbasnya kami semua menyetujui pembatalan ini. Yah, semua harus prihatin.
Ingat kekeringan, ingat sumur hampir semua tidak ada cukup air untuk ditimba. Kami membuat sumur "belik", bekas sungai yg mengering dibuat sumur, lumayan sedikit masih bisa ada airnya.
Teringat juga saat itu, pernah nimba di sumur di kebunnya Lik Sardi deket kuburan, padahal sumur tsb hampir tidak pernah diambil airnya. Atau ambil air di belik, sungai dekat rumah.
Karena air terbatas, maka sebelum shubuh kami sudah menimba air, siang dikit dah rebutan soalnya.
Monday, November 11, 1985
Berantem, temen baik, temen jahat....
Pernah berkelahi di kelas 5 SD dengan temen yang bernama Sandim yang sangat nakal. Saya mau duduk di kursi jatuh terjengkang karena kursi dia ambil, saya pukul dia tapi dia mengindar, akhirnya saya labrak. Untung dia nggak balas, mungkin tahu kalo saya dibalas, habislah saya.
Teringat satu ketika dia membuat onar se-sekolah, karena menggosokkan cairan merah ("teres") ke wajah temen kami namanya Lasmiati.
Temen nakal satunya lagi adalah Ruslan. Untuk meredam kenakalannya, dan untuk membuat bangga nama, seringkali pak Muchlis mengungkit nama Ruslan Abdul Ghani sehingga diharapkan Ruslan mau mengubah sikapnya.
Satu lagi temen yang sering dipuji pak Muchlis karena kesalehannya adalah Nuraini anak pak Kardi Kuyang yang baru kelas 5 pindah dari MIM ke SD kami.
Teringat satu ketika dia membuat onar se-sekolah, karena menggosokkan cairan merah ("teres") ke wajah temen kami namanya Lasmiati.
Temen nakal satunya lagi adalah Ruslan. Untuk meredam kenakalannya, dan untuk membuat bangga nama, seringkali pak Muchlis mengungkit nama Ruslan Abdul Ghani sehingga diharapkan Ruslan mau mengubah sikapnya.
Satu lagi temen yang sering dipuji pak Muchlis karena kesalehannya adalah Nuraini anak pak Kardi Kuyang yang baru kelas 5 pindah dari MIM ke SD kami.
Thursday, October 10, 1985
Ikut Tim Pesta Siaga
Tahun 1985/1986
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu saya sedang kelas 5 SD, tapi ada juga yang kelas 4 maupun kelas 6, jadi tim campuran lintas kelas untuk mengikuti pesta siaga (Pramuka bagi anak SD).
Saya bersama teman2 ditunjuklah tim 10 orang laki2 mewakili SD kami disandingkan dengan tim berjumlah 10 siswi SD Karanganom 1. gaktahu prosedur pemilihan kami atau sekolah kami seperti apa, intinya kami langsung menjadi wakil kecamatan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat kabupaten Sragen, dan jika menang maka akan mewakili Pesta Siaga Nasional di Cibubur tahun 1986. Wah, sangat menantang. Kami dididik selama bermnggu2, kadang di sekolah sendiri, kadang di SD Karanganom dan digabungkan dengan kelompok siswi.
Tibalah saatnya yang ditunggu2 untuk bertanding dalam kompetisi Pesta Siaga yingkat kabupaten Sragen, pelaksanaan di lapangan Plupuh. Kami diberangkatkan dengan mobil station merah milik kecamatan, bangganya kami mewakili kecamatan.
Pesta Siaga disini, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan bekal berapa poin. Kelompok yang bisa mengumpulkan poin paling banyak akan jadi juara. Sayang, kelompok tim putra maupun tim putri kami tidak bisa menjuarai dan mewakili kabupaten Sragen ke tingkat Nasional.
Kenang2an berupa baju pramuka, tapi desain seperti baju koko bertahan lama karena setiap jum’at sabtu baju tsb selalu kami pakai untuk seragam sekolah hingga lulus SD.
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu saya sedang kelas 5 SD, tapi ada juga yang kelas 4 maupun kelas 6, jadi tim campuran lintas kelas untuk mengikuti pesta siaga (Pramuka bagi anak SD).
Saya bersama teman2 ditunjuklah tim 10 orang laki2 mewakili SD kami disandingkan dengan tim berjumlah 10 siswi SD Karanganom 1. gaktahu prosedur pemilihan kami atau sekolah kami seperti apa, intinya kami langsung menjadi wakil kecamatan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat kabupaten Sragen, dan jika menang maka akan mewakili Pesta Siaga Nasional di Cibubur tahun 1986. Wah, sangat menantang. Kami dididik selama bermnggu2, kadang di sekolah sendiri, kadang di SD Karanganom dan digabungkan dengan kelompok siswi.
Tibalah saatnya yang ditunggu2 untuk bertanding dalam kompetisi Pesta Siaga yingkat kabupaten Sragen, pelaksanaan di lapangan Plupuh. Kami diberangkatkan dengan mobil station merah milik kecamatan, bangganya kami mewakili kecamatan.
Pesta Siaga disini, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan bekal berapa poin. Kelompok yang bisa mengumpulkan poin paling banyak akan jadi juara. Sayang, kelompok tim putra maupun tim putri kami tidak bisa menjuarai dan mewakili kabupaten Sragen ke tingkat Nasional.
Kenang2an berupa baju pramuka, tapi desain seperti baju koko bertahan lama karena setiap jum’at sabtu baju tsb selalu kami pakai untuk seragam sekolah hingga lulus SD.
Thursday, August 8, 1985
Lomba cerdas cermat P4 SD se-kecamatan
Tahun 1985/1986
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu kami sedang kelas 5 SD. Saya ditunjuk sebagai salah satu dari 3 siswa yang diberangkatkan untuk mengikuti seleksi cerdas cermat P4 tingkat kecamatan. Temen seperjuangan adalah Wiryawan dan Gatot.
Pada tahap pertama, semua kelompok dari seluruh SD se-kecamatan sukodono dikumpulkan di gedung PGRI, kami diberikan soal untuk dijawab secara tertulis. Di akhir acara, setelah dikoreksi hari itu juga diumumkan bahwa, kelompok kami menjadi 3 besar dengan nilai teratas, sehingga berhak maju ke babak berikutnya...alhamdulillah.
Sekira seminggu kemudian, diadakanlah lomba cerdas cermat di salah satu ruangan di kecamatan. Penuh doa dari pakdhe dengan saya dkasih minum telor ayam jawa mentah biar sukses.
Namun demikian, kami belum beruntung tidak bisa menjadi yang terbaik utk mewakili kecamatan Sukodono dalam pentas tingkat kabupaten Sragen, namun demikian kami tetap bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan bisa banyak belajar.
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu kami sedang kelas 5 SD. Saya ditunjuk sebagai salah satu dari 3 siswa yang diberangkatkan untuk mengikuti seleksi cerdas cermat P4 tingkat kecamatan. Temen seperjuangan adalah Wiryawan dan Gatot.
Pada tahap pertama, semua kelompok dari seluruh SD se-kecamatan sukodono dikumpulkan di gedung PGRI, kami diberikan soal untuk dijawab secara tertulis. Di akhir acara, setelah dikoreksi hari itu juga diumumkan bahwa, kelompok kami menjadi 3 besar dengan nilai teratas, sehingga berhak maju ke babak berikutnya...alhamdulillah.
Sekira seminggu kemudian, diadakanlah lomba cerdas cermat di salah satu ruangan di kecamatan. Penuh doa dari pakdhe dengan saya dkasih minum telor ayam jawa mentah biar sukses.
Namun demikian, kami belum beruntung tidak bisa menjadi yang terbaik utk mewakili kecamatan Sukodono dalam pentas tingkat kabupaten Sragen, namun demikian kami tetap bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan bisa banyak belajar.
Sunday, July 1, 1984
Kelas 4; mulai pakai sepatu, BP3, PSPB
Sejak kelas 4, kami baru mulai di-sunnah-kan makai sepatu. Yah, sepatu adalah barang mahal bagi kami. Mulai sekarang, diharapkan ke sekolah memakai sepatu jika punya, jika belum punya ya "nyeker" tanpa alas kaki.
Teringat saat itu saya dah dibelikan sepatu sepasang, untuk menghemat pengunaan biar awet, sepatu hanya saya pakai setiap hari Senin saat upacara bendera, karena hampir pasti saya bertugas sebagai inspektur upacara atau menaikkan bendera. Hari-hari lain, nyeker-lah.
Sejak kelas 4 sekolah baru pertama kali mengenal adanya bayaran bulanan ke sekolah, namanya BP3, sebelumnya semua betul2 free, buku pun dipinjami dari sekolah, gakperlu beli ntar di akhir cawu dikembalikan lagi ke sekolah, kelak untuk adik kelas kita. Kalo taksalah sebelumnya hanya bayar saat mau ujian aja.
Waktu kelas 4 ini pula, dikenalkan pelajaran baru yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tapi diberikan sebagai tambahan pada cawu-cawu tertentu saja, tidak diberikan setiap cawu.
Teringat saat itu saya dah dibelikan sepatu sepasang, untuk menghemat pengunaan biar awet, sepatu hanya saya pakai setiap hari Senin saat upacara bendera, karena hampir pasti saya bertugas sebagai inspektur upacara atau menaikkan bendera. Hari-hari lain, nyeker-lah.
Sejak kelas 4 sekolah baru pertama kali mengenal adanya bayaran bulanan ke sekolah, namanya BP3, sebelumnya semua betul2 free, buku pun dipinjami dari sekolah, gakperlu beli ntar di akhir cawu dikembalikan lagi ke sekolah, kelak untuk adik kelas kita. Kalo taksalah sebelumnya hanya bayar saat mau ujian aja.
Waktu kelas 4 ini pula, dikenalkan pelajaran baru yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tapi diberikan sebagai tambahan pada cawu-cawu tertentu saja, tidak diberikan setiap cawu.
Sunday, January 1, 1984
Konspirasi menilai kerapian berbaris
Saya lupa mulainya kapan dan bagaimanan memulainya bahkan hingga kapan mengakhirinya. Saya dan Wiryawan yang selalu bergantian juara kelas sejak kelas 1 membuat konspirasi.
Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.
Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.
Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.
Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.
Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.
Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.
Saturday, January 1, 1983
SD kami porak poranda kena angin ribut
Suasana sekolah sempat kacau balau, mungkin tahun 1983-an), SD kami berantakan, atap yang terbuat dari seng, asbes, maupun genting beterbangan. Bahkan ada ditemukan seng sekolah kami terbang dan ditemukan di desa Tanggung yg jaraknya sekira 2 km. Betul2 angin yang dahsyat merobohkan sekolah kami.
Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.
Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.
Wednesday, July 7, 1982
Salaman maaf-maafan idul fitri sampe 3x
Kejadian ini berlangsung beberapa kali lebaran idul fitri saat diriku masih kecil, sebelum dan awal-awal sekolah SD, saya masih ingat betapa luar biasa.
Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.
Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.
Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.
Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....
Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.
Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.
Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.
Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....
Tuesday, February 2, 1982
Belajar disiplin bersama Pakdhe
Pakdhe orangnya sangat disiplin dalam mengatur kami. Saya dan Sutris tiap hari bangun pagi-pagi sekali, sholat shubuh. Kemudian kami bersih2 rumah dan pekarangan. Taklupa, kami buat api dapur untuk memasak air teh kegemaran pakdhe.
Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.
Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.
Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.
Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.
Friday, January 1, 1982
Ikut di rumah Pakdhe
Tak ingat pasti, mungkin sekira sejak kelas 1 ikut keluarga Pakdhe Samto
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.
Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.
Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.
Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.
Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.
Monday, July 20, 1981
Tak pernah sekolah TK, langsung SD
Saya takpernah merasakan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) karena saat itu memang belum ada sekolah TK yang dekat. Lagipula, takada keharusan, langsung masuk SD boleh asal umur udah 7 tahun, bahkan ada orangtua yang memasukkan anaknya tatkala baru berumur 6 tahun. Tapi rata-rata di kampung atau SD kami, umur 7 tahun baru diterima betul2 sebagai pelajar.
Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.
Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I
Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.
Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I
Tuesday, January 1, 1980
Anak desa
Kelumit cerita anak desa
Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.
Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).
Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.
Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.
Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.
Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll
Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.
Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.
Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).
Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.
Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.
Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.
Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll
Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.
Subscribe to:
Posts (Atom)