Selama ini, takada jaringan listrik yang lewat di kampung kami. Bahkan SMP saya juga belum ada listrik. Praktis, di rumah mengandalkan lampu teplok untuk belajar.
Saat itu keluarga kami sempat punya TV dan satu-satunya di kampung kami, setiap 1 atau 2 minggu sekali kami nyetrumkan ke Bedono (sekira 5 km). Saat itu hanya ada siaran TVRI stasiun Solo dan Surabaya dan siaran hanya malam saja. TV hitam putih tsbkalo sore kita keluarkan di atas meja tamu depan, kalo malam selepas tetangga pulang semua, kita masukkan lagi.
Alhamdulillah, nyetrum aki tahun ini akan berakhir, aliran listrik masuk ke desa kami setelah tiang2 telah ditegakkan sekira setahun lalu.
Teringat cerita kala itu, desa kami tidak bisa dialiri listrik seperti desa-desa lain karena warganya terlalu sedikit sekira 60 KK, sehingga tidak ekonomis. Akhirnya disepakati, diminta 10 orang dari KK yang ada (termasuk keluarga kami) diwajibkan ambil yg 900 watt, bukan 450 watt seperti yang lain, dengan konsekuensi bayaran awal dan bulanan lebih mahal. Tapi demi listrik mengalir, alhamdulillah disepakati siapa2 yang termasuk 10 orang tsb.
Alhamdulillah akhirnya terang juga kampung kami.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment