Kelas 1, 2, 3 saya diasuh oleh guru kelas yang suaranya nyaring, jelas, dan tegas. Bu Wiwik, dari Kuyang (masih satu kelurahan). Beliau guru baru, pindahan dari sekolah lain. Ingat bu Wiwik, saya sangat terinspirasi sekali dengan sebuah film saat itu yang saya tonton di televisi punya pakdhe, tentang kegigihan belajar seorang anak kampung dan kegigihan mengajar seorang guru perempuan kota yang ditempatkan dipelosok negri. Ketika sukses dalam belajar, demikian bangganya pada diri si murid dan si guru.
Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.
Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.
Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.
Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.
Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.
Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment