selepas Idul Fitri
Santri Putra Piknik ke Bandung
Kami para santri putra PPBM berkeinginan untuk mengadakan semacam perpisahan dengan perekat wisata bersama ke Bandung.
Kami menyewa dua kendaraan kijang agar muatnya banyak, sekira 18an orang yang bisa ikut. Saking banyaknya muatan, berangkatnya sampai 2x mengalami ban bocor.
Karena masih mahasiswa yang tidak kaya, lagian biar tambah akrab dan rasa kekeluargaan terbina erat, dan yang pasti berbiaya murah, kami menekan pos pengeluaran disana-sini. Cara-cara yang kami lakukan diantaranya adalah;
1. Sebelum berangkat pastikan sudah makan dulu. Makan malam mampir Cilacap, rumah salah satu peserta, yaitu Muskinul Fuad.
2. Pulang dari Bandung, mampir makan siang di Tasikmalaya, rumah orangtua salah satu peserta juga.
3. Selama di Bandung, banyak muter2 aja, kalo dah malam baru tidur di masjid yang dikelola oleh saudara salah satu peserta
Hebat khan......betul2 mahasiswa dan santri yang cerdik hehe
Selama di Bandung, kita mengunjungi beberapa tempat;
1. PP Muthahhari pimpinan KH Jalaluddin Rahmat
2. PP Daarut Tauhid pimpinan KH Abdullah Gymnastiar
3. Salman ITB
4. Gunung Tangkuban Perahu
5. Pemandian Ciater (karena mahal, gakjadi mandi hehe)
Thursday, January 28, 1999
Sunday, January 17, 1999
PIR ke-16, pengabdian resmi terakhir
Pengajian I'tikaf Ramadhan (PIR) ke-16
Tanggal 7-17 Januari 1999 bertepatan dengan 19-29 Ramadhan 1419 H.
Pengabdian resmi terakhir santri PPBM angkatan 6.
Kegiatan PIR kali ini yang dikomandani oleh Ustadzi Hamzah merupakan pengabdian resmi kami yang terakhir. Walau demikian, secara personal dan insidental, hati-hati kami tentu akan senantiasa terjalin dengan PPBM, dengan kakak-adik santri, bapak yayasan, dll.
Setelah ini, kami akan diwisuda dan mungkin akan berpencar berdakwah, melanjutkan menuntut ilmu yang belum selesai atau mengambil jenjang yang lebih tinggi, bekerja mencari rejeki, dll tujuan dan jalan hidup masing-masing.
Alhamdulillah semua berjalan lancar dan takda masalah berarti.
Tanggal 7-17 Januari 1999 bertepatan dengan 19-29 Ramadhan 1419 H.
Pengabdian resmi terakhir santri PPBM angkatan 6.
Kegiatan PIR kali ini yang dikomandani oleh Ustadzi Hamzah merupakan pengabdian resmi kami yang terakhir. Walau demikian, secara personal dan insidental, hati-hati kami tentu akan senantiasa terjalin dengan PPBM, dengan kakak-adik santri, bapak yayasan, dll.
Setelah ini, kami akan diwisuda dan mungkin akan berpencar berdakwah, melanjutkan menuntut ilmu yang belum selesai atau mengambil jenjang yang lebih tinggi, bekerja mencari rejeki, dll tujuan dan jalan hidup masing-masing.
Alhamdulillah semua berjalan lancar dan takda masalah berarti.
Saturday, September 12, 1998
Tawaran Beasiswa, bagi yang mau jadi dosen
Papan pengumuman di jurusan TE UGM dipampang pendaftaran beasiswa yang kelak setelah lulus S1 berminat jadi dosen.
Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa S1 tingkat akhir (Elektro, Mesin, Kimia), akan diberikan beasiswa sampai lulus S1 dengan catatan setelah lulus mengabdi pada perguruan tinggi yang memberikan beasiswa. Ada juga informasi iming-iming, kelak disekolahkan dulu S2 di luar negeri (denger2 di Inggris) sebelum mengajar...wah, seneng dan minat banget, sekolah S2 walaupun susah, tapi jalan2nya itu lho yang membuat saya tertarik.
Penawaran ada dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu di Riau (Sumatera) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat). Takperlu lama berpikir, Oke, minat daftar sudah bulat. Tinggal milih mana ya diantara 2 tersebut. Cuma masalahnya, kok dua2nya luar jawa ya, kok jauh dari bapak-ibu, apa ya saya kuat ninggalin mereka.
Mataram? Walaupun dekat, rasanya kok hati kurang sreg, kurang familier. Riau walau jauh terkenal daerah kaya, lagian ada kakak pertama (mas Suparno) yang sudah menetap di Riau.
Ok, bismillah akhirnya saya putuskan daftar beasiswa calon dosen Riau aja.
Tak tahu pasti berapa akhirnya yang menjadi saingan, alhamdulillah saya termasuk salah 1 dari 5 mahasiswa (selang berapa lama ada susulan 5 nama lagi) yang diterima beasiswa calon dosen Riau dari Elektro UGM..... Beruntung, beberapa nama diantaranya akrab yang akan jadi kolega nun jauh disana, seperti Seto Miko 93 (dulu sekelas SMA), Makmur 93 (se-Budi Mulia), dll.
Alhamdulillah, sudah bisa mulai merajut dan menata serta menatap masa depan kelak mau jadi dosen di Riau, sebelum itu terbayang kelak akan sekolah dulu S2 di Inggris...ckckckckck.
Kalo taksalah beasiswa lumayan besar, kalo saat itu beasiswa PPA, Supersemar, Johanna per bulan sekira Rp 100.000, beasiswa ini sekira 320.000 sip dech.
Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa S1 tingkat akhir (Elektro, Mesin, Kimia), akan diberikan beasiswa sampai lulus S1 dengan catatan setelah lulus mengabdi pada perguruan tinggi yang memberikan beasiswa. Ada juga informasi iming-iming, kelak disekolahkan dulu S2 di luar negeri (denger2 di Inggris) sebelum mengajar...wah, seneng dan minat banget, sekolah S2 walaupun susah, tapi jalan2nya itu lho yang membuat saya tertarik.
Penawaran ada dari 2 perguruan tinggi negeri, yaitu di Riau (Sumatera) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat). Takperlu lama berpikir, Oke, minat daftar sudah bulat. Tinggal milih mana ya diantara 2 tersebut. Cuma masalahnya, kok dua2nya luar jawa ya, kok jauh dari bapak-ibu, apa ya saya kuat ninggalin mereka.
Mataram? Walaupun dekat, rasanya kok hati kurang sreg, kurang familier. Riau walau jauh terkenal daerah kaya, lagian ada kakak pertama (mas Suparno) yang sudah menetap di Riau.
Ok, bismillah akhirnya saya putuskan daftar beasiswa calon dosen Riau aja.
Tak tahu pasti berapa akhirnya yang menjadi saingan, alhamdulillah saya termasuk salah 1 dari 5 mahasiswa (selang berapa lama ada susulan 5 nama lagi) yang diterima beasiswa calon dosen Riau dari Elektro UGM..... Beruntung, beberapa nama diantaranya akrab yang akan jadi kolega nun jauh disana, seperti Seto Miko 93 (dulu sekelas SMA), Makmur 93 (se-Budi Mulia), dll.
Alhamdulillah, sudah bisa mulai merajut dan menata serta menatap masa depan kelak mau jadi dosen di Riau, sebelum itu terbayang kelak akan sekolah dulu S2 di Inggris...ckckckckck.
Kalo taksalah beasiswa lumayan besar, kalo saat itu beasiswa PPA, Supersemar, Johanna per bulan sekira Rp 100.000, beasiswa ini sekira 320.000 sip dech.
Friday, September 11, 1998
Efek KP; Setelah lulus mau kerja apa?
Berat kerja di perusahaan, apalagi di Jakarta. Terpikir utk melirik profesi dosen.
Salah satu hikmah yang saya didapatkan saat KP adalah melunturnya keinginan saya untuk kelak bekerja di perusahaan. Terbayang pagi berangkat, sore pulang. Pekerjaan itu-itu saja, serasa kurang dinamis. Kok rasanya hidup monoton banget jadinya.
Kerja di kota besar seperti Jakarta? Wah, takterbayang betapa lebih beratnya. Di perusahaan yang tersedia dalam satu kompleks dengan perumahan saja serasa jenuh, apalagi jika harus naik kendaraan. Bahkan banyak cerita, karena tiap hari macet, kerja di Jakarta tak jarang yang berangkat pagi setelah Shubuh dan pulang dari kantor setelah Maghrib. Berangkat sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari tenggelam. Meninggalkan rumah saat anak masih tidur, pulang sampai rumah anak sudah tidur....wah, gak nyaman banget kalo hidup seperti itu.
Sering berpikir, trus setelah lulus mau berprofesi jadi apa. Entah datangnya darimana, muncul keinginan untuk menjadi akademisi/dosen aja. Profil dosen dalam benak saya waktu itu diantaranya adalah; waktu fleksibel, tidak harus berangkat jam7 pagi dan pulang jam5 sore, tidak terlalu birokratis, atasan kajur/dekan/rektor yang sewaktu-waktu bisa dijabat bergantian (bukan seperti bos dan anak buah di perusahaan), merdeka secara penilaian dan akademis pada umumnya, kelak bisa sekolah lagi bahkan di luar negeri (bisa jalan2 dong hehehe), dan masih banyak lagi kelebihannya.
Kekurangan dosen yang terbayang adalah gajinya kecil. Tapi buru2 terjawab, pegawai negeri pun gajinya juga kecil, semua juga bisa pada hidup. Lagian, sebesar apapun gaji tetep kurang, yang penting bagaimana kita mensyukuri dan rizki Allah tidak terlalu sempit jika kita mau berusaha.... kayaknya dah mantep jadi dosen nih. Yah bismillah, kalo ada kesempatan jadi dosen, saya jadi dosen aja ah....
Salah satu hikmah yang saya didapatkan saat KP adalah melunturnya keinginan saya untuk kelak bekerja di perusahaan. Terbayang pagi berangkat, sore pulang. Pekerjaan itu-itu saja, serasa kurang dinamis. Kok rasanya hidup monoton banget jadinya.
Kerja di kota besar seperti Jakarta? Wah, takterbayang betapa lebih beratnya. Di perusahaan yang tersedia dalam satu kompleks dengan perumahan saja serasa jenuh, apalagi jika harus naik kendaraan. Bahkan banyak cerita, karena tiap hari macet, kerja di Jakarta tak jarang yang berangkat pagi setelah Shubuh dan pulang dari kantor setelah Maghrib. Berangkat sebelum matahari terbit, pulang setelah matahari tenggelam. Meninggalkan rumah saat anak masih tidur, pulang sampai rumah anak sudah tidur....wah, gak nyaman banget kalo hidup seperti itu.
Sering berpikir, trus setelah lulus mau berprofesi jadi apa. Entah datangnya darimana, muncul keinginan untuk menjadi akademisi/dosen aja. Profil dosen dalam benak saya waktu itu diantaranya adalah; waktu fleksibel, tidak harus berangkat jam7 pagi dan pulang jam5 sore, tidak terlalu birokratis, atasan kajur/dekan/rektor yang sewaktu-waktu bisa dijabat bergantian (bukan seperti bos dan anak buah di perusahaan), merdeka secara penilaian dan akademis pada umumnya, kelak bisa sekolah lagi bahkan di luar negeri (bisa jalan2 dong hehehe), dan masih banyak lagi kelebihannya.
Kekurangan dosen yang terbayang adalah gajinya kecil. Tapi buru2 terjawab, pegawai negeri pun gajinya juga kecil, semua juga bisa pada hidup. Lagian, sebesar apapun gaji tetep kurang, yang penting bagaimana kita mensyukuri dan rizki Allah tidak terlalu sempit jika kita mau berusaha.... kayaknya dah mantep jadi dosen nih. Yah bismillah, kalo ada kesempatan jadi dosen, saya jadi dosen aja ah....
Wednesday, September 9, 1998
Adik Sukamti, santai alhamd banyak rejeki
Perempuan satu2nya, alhamd rejeki mudah
Lain adik Suranto, lain adik Sukamti (satu2nya perempuan dari 8 bersaudara). Adik perempuan ini alhamdulillah mudah rejeki. Untuk urusan sekolah, karena memang niatnya jadi bidan, maka tak ikut UMPTN. Satu2nya ya mesti kuliah di Akademi Kebidanan (Akbid) yang saat itupun memang masih sangat langka. Saat itu, Akbid Negeri belum ada, yang ada Akademi Perawat (Akper) negeri hampir di tiap kota besar ada.
Oleh karenanya, untuk perempuan satu2nya ini, ada perlakuan khusus, boleh kuliah di PTS karena jurusan yang diminati takada yang PTN. Pilihannya Akbid Aisyiyah Yogyakarta (berubah dan baru buka Akbid tahun ini, sebelumnya Akper), harapannya (saya, Suranto, Sukamti ngumpul di Jogja), juga dengan PTS islam mudah2an menjadikan dia lebih tahu tentang agama.
Alhamdulillah, walaupun cuma daftar 1 tempat, alhamdulillah keterima. Cuma satu yang aneh, saat pengumuman tidak datang ke Jogja karena pasrah : ”paling nggak ketrima”.. walah-walah saking pasrahnya dan pesimisnya, eh malah Allah memberikan dia rejeki ketrima, alhamdulillah.
Tahun ini, Sukamti juga masuk Akbid Aisyiyah Yogyakarta. Jadi 2 adik masuk kuliah bersamaan, bisa dibayangkan beratnya pontang-panting ortu cari biaya.
Kalau Suranto okelah, biaya kuliah di PTN standard, tapi yang Sukamti.... di Akbid sudah kebayang biayanya mahal, apalagi sumbangannya duh....duh... Kalo tak salah kami sudah ambil batas sumbangan yang minimal Rp 3 juta, itupun masih keteteran. Tiap semester minta penangguhan, hingga lunas baru pada tahun ke-3... kebayang saat yang sama membiayai 3 anak kuliah.
Lain adik Suranto, lain adik Sukamti (satu2nya perempuan dari 8 bersaudara). Adik perempuan ini alhamdulillah mudah rejeki. Untuk urusan sekolah, karena memang niatnya jadi bidan, maka tak ikut UMPTN. Satu2nya ya mesti kuliah di Akademi Kebidanan (Akbid) yang saat itupun memang masih sangat langka. Saat itu, Akbid Negeri belum ada, yang ada Akademi Perawat (Akper) negeri hampir di tiap kota besar ada.
Oleh karenanya, untuk perempuan satu2nya ini, ada perlakuan khusus, boleh kuliah di PTS karena jurusan yang diminati takada yang PTN. Pilihannya Akbid Aisyiyah Yogyakarta (berubah dan baru buka Akbid tahun ini, sebelumnya Akper), harapannya (saya, Suranto, Sukamti ngumpul di Jogja), juga dengan PTS islam mudah2an menjadikan dia lebih tahu tentang agama.
Alhamdulillah, walaupun cuma daftar 1 tempat, alhamdulillah keterima. Cuma satu yang aneh, saat pengumuman tidak datang ke Jogja karena pasrah : ”paling nggak ketrima”.. walah-walah saking pasrahnya dan pesimisnya, eh malah Allah memberikan dia rejeki ketrima, alhamdulillah.
Tahun ini, Sukamti juga masuk Akbid Aisyiyah Yogyakarta. Jadi 2 adik masuk kuliah bersamaan, bisa dibayangkan beratnya pontang-panting ortu cari biaya.
Kalau Suranto okelah, biaya kuliah di PTN standard, tapi yang Sukamti.... di Akbid sudah kebayang biayanya mahal, apalagi sumbangannya duh....duh... Kalo tak salah kami sudah ambil batas sumbangan yang minimal Rp 3 juta, itupun masih keteteran. Tiap semester minta penangguhan, hingga lunas baru pada tahun ke-3... kebayang saat yang sama membiayai 3 anak kuliah.
Sunday, August 30, 1998
Kaltim udah, saatnya ke Kalsel. Pesawat udah, saatnya kapal
Selepas KP selesai, alhamdulillah kami diberikan uang saku karena telah bekerja selama 2 bulan (benernya bukan kerja, tapi ngangguin orang kerja heheh).
Selain itu, kami juga diberikan pilihan dibelikan tiket pesawat Balikpapan-Jogja atau bisa diminta cash saja. Saya dan Ahmad pilih pilihan kedua, minta cash. Ada alasannya, yaitu ingin berpetualang jalan darat naik bus Balikpapan (Kaltim)-Banjarmasin (Kalsel), naik kapal Banjarmasin-Surabaya, lalu naik bus Surabaya-Jogjakarta.
Kaltim udah, saatnya ke propinsi Kalsel. Naik pesawat sudah, saatnya naik kapal. Nggak mau kepenak, malah cari rekoso hehe tapi menyenangkan mau cari banyak pengalaman. Alhamdulillah pula, Ahmad juga nggak masalah dengan rencanaku.
Walaupun badan masih sakit, alhamdulillah selama perjalanan lancar. Pagi dari Bontang, malam naik bus Balikpapan-Banjarmasin, tapi sayang karena malam yang terlihat hanya gelapnya malam, gakbisa lihat pemandangan. Pagi selepas shubuh baru bisa lihat jalan dan kanan-kiri rumah di Martapura sebelum masuk kota Banjarmasin.
Alhamdulillah akhirnya berhasil juga diriku menginjakkan kaki di kota Banjarmasin. Senangnya hatiku.....
Selain itu, kami juga diberikan pilihan dibelikan tiket pesawat Balikpapan-Jogja atau bisa diminta cash saja. Saya dan Ahmad pilih pilihan kedua, minta cash. Ada alasannya, yaitu ingin berpetualang jalan darat naik bus Balikpapan (Kaltim)-Banjarmasin (Kalsel), naik kapal Banjarmasin-Surabaya, lalu naik bus Surabaya-Jogjakarta.
Kaltim udah, saatnya ke propinsi Kalsel. Naik pesawat sudah, saatnya naik kapal. Nggak mau kepenak, malah cari rekoso hehe tapi menyenangkan mau cari banyak pengalaman. Alhamdulillah pula, Ahmad juga nggak masalah dengan rencanaku.
Walaupun badan masih sakit, alhamdulillah selama perjalanan lancar. Pagi dari Bontang, malam naik bus Balikpapan-Banjarmasin, tapi sayang karena malam yang terlihat hanya gelapnya malam, gakbisa lihat pemandangan. Pagi selepas shubuh baru bisa lihat jalan dan kanan-kiri rumah di Martapura sebelum masuk kota Banjarmasin.
Alhamdulillah akhirnya berhasil juga diriku menginjakkan kaki di kota Banjarmasin. Senangnya hatiku.....
Saturday, August 29, 1998
Seharian main air laut, sakit menjelang pulang KP, terpaksa minum obat
Alhamdulillah, KP 2 bulan telah selesai kami jalani dengan baik (anggap aja baik2 saja). Saya dan Ahmad Musthofa (tim TE UGM) telah menyelesaikan semua urusan, dari menyusun laporan KP, presentasi di hadapan seluruh member team maintenance department, hingga jilid laporan. Saatnya pulang balik ke Jogja...
Sehari sebelum pulang dari KP, kami mengadakan acara dolan bersama. Kami temen2 KP jalan2 ke Pulau Beras Basah di tengah laut, difasilitasi oleh seorang staf, mas Farouk (alumni Metalurgi UI) sehingga perjalanan pakai speed boat gratis. Terimakasih sangat Mas Farouk.
Seharian main air, mandi di laut, main pasir...... malamnya langsung teler alias sakit keras, demam, panas tinggi, flu, batuk dll datang bareng2 tanpa ampun. Habislah kesehatanku. Atas desakan teman2, saya dipaksa ke klinik tapi saya tidak mau, akhirnya terakhir dipaksa minum obat. Padahal,seinget saya, saya gakpernah minum obat sejak sakit kaki menjelang lulus SMA tahun 1993 (dah 5 tahunan).
Yah, demi perjalanan dan dolan-dolan esok hari pulang ke Jogja lewat Balikpapan (Kaltim) dan Banjarmasin (Kalsel), saya mengikuti saran baik teman2.
Sehari sebelum pulang dari KP, kami mengadakan acara dolan bersama. Kami temen2 KP jalan2 ke Pulau Beras Basah di tengah laut, difasilitasi oleh seorang staf, mas Farouk (alumni Metalurgi UI) sehingga perjalanan pakai speed boat gratis. Terimakasih sangat Mas Farouk.
Seharian main air, mandi di laut, main pasir...... malamnya langsung teler alias sakit keras, demam, panas tinggi, flu, batuk dll datang bareng2 tanpa ampun. Habislah kesehatanku. Atas desakan teman2, saya dipaksa ke klinik tapi saya tidak mau, akhirnya terakhir dipaksa minum obat. Padahal,seinget saya, saya gakpernah minum obat sejak sakit kaki menjelang lulus SMA tahun 1993 (dah 5 tahunan).
Yah, demi perjalanan dan dolan-dolan esok hari pulang ke Jogja lewat Balikpapan (Kaltim) dan Banjarmasin (Kalsel), saya mengikuti saran baik teman2.
Saturday, August 15, 1998
adik Suranto; Kegigihan dafrar kuliah
Perjuangan Gigih adik Suranto
Adik yang satu ini semangat/keinginan kuliahnya sangat-sangat luar biasa. Kami semua bersaudara sudah ditanamkan sedari awal, ortu hanya mampu dan mau mebiayai kuliah jika ketrima di PTN, tidak mau menyekolahkan di PTS karena mahal sementara anak banyak. Suranto salah satu yang mesti banting tulang untuk memenuhi persyaratan tsb.
Lulus SMA 96 dah ikut Bimbel dan mengikuti bimbingan dan arahan saya, tapi UMPTN gagal. Semua program D3 yang ada di UGM hampir semua juga didaftar (saat itu yang ada hanya D3 Teknik, D3 Ekonomi)
Tahun 97 ikut Bimbel lagi dan saya arahkan lagi, tapi UMPTN gagal lagi. D3 UGM yang ada juga banyak yang didaftarin tetapi tetep gak ada yang nyangkut.
Kesempatan terakhir, tahun 98 saya sudah pasrah ditambah sedang sibuk KKN Wonosobo dilanjutkan KP di Kaltim, saya serahkan semuanya ke dia untuk menentukan pilihannya.
Alhamdulillah, bulan 8 saat saya masih di Kaltim dapat telepon dari dia, alhamdulillah ketrima UMPTN di Administrasi Negara UNSOED Purwokerto...alhamdulillah, perjuanganmu taksia-sia, akhirnya membuahkan hasil, semoga sukses, amien.
Tahun ini, Sukamti juga masuk Akbid Aisyiyah Yogyakarta. Jadi 2 adik masuk kuliah bersamaan, bisa dibayangkan beratnya pontang-panting ortu cari biaya.
Adik yang satu ini semangat/keinginan kuliahnya sangat-sangat luar biasa. Kami semua bersaudara sudah ditanamkan sedari awal, ortu hanya mampu dan mau mebiayai kuliah jika ketrima di PTN, tidak mau menyekolahkan di PTS karena mahal sementara anak banyak. Suranto salah satu yang mesti banting tulang untuk memenuhi persyaratan tsb.
Lulus SMA 96 dah ikut Bimbel dan mengikuti bimbingan dan arahan saya, tapi UMPTN gagal. Semua program D3 yang ada di UGM hampir semua juga didaftar (saat itu yang ada hanya D3 Teknik, D3 Ekonomi)
Tahun 97 ikut Bimbel lagi dan saya arahkan lagi, tapi UMPTN gagal lagi. D3 UGM yang ada juga banyak yang didaftarin tetapi tetep gak ada yang nyangkut.
Kesempatan terakhir, tahun 98 saya sudah pasrah ditambah sedang sibuk KKN Wonosobo dilanjutkan KP di Kaltim, saya serahkan semuanya ke dia untuk menentukan pilihannya.
Alhamdulillah, bulan 8 saat saya masih di Kaltim dapat telepon dari dia, alhamdulillah ketrima UMPTN di Administrasi Negara UNSOED Purwokerto...alhamdulillah, perjuanganmu taksia-sia, akhirnya membuahkan hasil, semoga sukses, amien.
Tahun ini, Sukamti juga masuk Akbid Aisyiyah Yogyakarta. Jadi 2 adik masuk kuliah bersamaan, bisa dibayangkan beratnya pontang-panting ortu cari biaya.
Wednesday, July 29, 1998
Pulau Beras Basah

Sumber Jawapos [ Minggu, 06 Juni 2010 ]
Pulau Beras Basah, Keelokan Pantainya Sungguh Menggugah
Menikmati Kesendirian tanpa Kesepian
Mercusuar itu masih berdiri tegak di Pulau Beras Basah. Pantainya yang berpasir lembut masih memesona dengan air laut yang sebening kristal. Penggemar fotografi juga menganggapnya sebagai sasaran bidik yang mengundang. Tapi, Pula Beras Basah sesungguhnya sedang gelisah.
Irfan, Bontang
---
PULAU Beras Basah -atau disebut juga Sand Island- tercatat sebagai salah satu tujuan wisata yang cukup dikenal di Bontang, Kalimantan Timur. Karena jaraknya kurang dari sejam perjalanan dengan speed boat, pulau kecil nan elok itu sudah lama jadi sarana rekreasi andalan karyawan kilang gas PT LNG Badak.
Pengunjung dari luar Kalimantan bisa memanfaatkan jalur penerbangan ke Balikpapan yang cukup ramai. Dari Balikpapan, pengunjung naik bus ke Bontang. Dengan waktu perjalanan sekitar lima jam, tarif bus AC Balikpapan-Bontang sekitar Rp 85 ribu. Jika dari Samarinda, perjalanan cukup dua jam dengan ongkos bus Rp 20 ribu.
Tiba di Bontang, pengunjung bisa langsung ke Pelabuhan Tanjung Laut. Dari sana, tidak sulit menemukan kapal yang siap membawa kita ke Beras Basah. Tarif sewa kapal Rp 300 ribu-Rp 400 ribu. Satu kapal bisa memuat 10 penumpang. Hanya perlu 40 menit dari pelabuhan untuk sampai ke Pulau Beras Basah.
Yang perlu diingat, jangan lupa membawa bekal. Sebab, kita tidak akan menemukan warung makan-minum di Pulau Beras Basah. Penginapan juga tidak ada.
Pengunjung pulau itu biasanya memang tidak menginap. Mereka datang untuk menikmati hamparan pasir putihnya yang lembut, air lautnya yang bening berkilat seperti kristal, atau mercusuar setinggi 15 meter yang berdiri tegak di sana. Bagi penghobi fotografi, mercusuar yang tegak dalam kesendirian itu seolah menantang untuk diabadikan.
"Saya tertarik saat melihat posisi tegak mercusuar di Pulau Beras Basah. Saya menggunakan lensa wide untuk mendapatkan kesan dramatis dengan posisi low angle," tutur Taufiqurakhman, Kabid Statistik Bappeda Bontang yang juga dikenal sebagai fotografer.
Pulau Beras Basah berada di Selat Makassar. Letaknya cukup strategis di antara kawasan kilang PT LNG Badak dan Pulau Segajah yang muncul saat laut surut dan menghilang saat laut pasang.
Pulau Beras Basah berjarak sekitar tujuh kilometer arah selatan Kota bontang dengan hamparan Selat Makassar di sekelilingnya. Cukup jauh untuk menikmati privasi, tapi tak cukup jauh untuk merasa terisolasi. Pulau itu menawarkan lokasi yang pas bagi mereka yang ingin lepas dari rutinitas sehari-hari.
Menurut cerita warga, nama Pulau Beras Basah muncul saat kapal besar yang membawa beras dari Sulawesi diterjang ombak besar. Khawatir tenggelam, awak kapal menurunkan muatan di pulau tersebut dan menjadi basah. Sebutan Pulau Beras Basah dipakai orang sejak saat itu.
Tidak jelas apakah pernah ada perkampungan di pulau tersebut. Yang jelas, saat ini Pulau Beras Basah hanya dihuni satu keluarga nelayan. Pengunjung Pulau Beras Basah juga tidak seramai dulu.
"Pulau ini pernah ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara pada 1990-an. Tapi, sejak 2000, pulau ini seolah kian terlupakan," kata Samnur, satu-satunya nelayan yang tinggal di Pulau Beras Basah.
Sebagai penghuni yang telah 33 tahun tinggal di Pulau Beras Basah, Samnur menilai pulau tersebut menyimpan sejuta potensi alam yang layak dikembangkan menjadi objek wisata andalan. Sayang, pulau cantik itu seolah lepas dari perhatian pemkot. Jangankan membangun fasilitas baru, mercusuar yang ada pun tak terawat. Kini, sebagian dinding bangunan setinggi 15 meter tersebut jebol.
Yang lebih mengkhawatirkan, luas Pulau Beras Basah terus mengerut akibat abrasi. Dua tiga tahun lalu, luas pulau tersebut diperkirakan 1,5 hektare. Kini, luas pulau itu paling tinggal satu hektare. "Kalau dibiarkan, bisa-bisa pulau ini tinggal kenangan. Terkikis sejengkal demi sejengkal, hilang ditelan ombak," keluhnya. (jpnn/c6/soe)
Wednesday, July 1, 1998
Pertama naik pesawat
Alhamdulillah, sebagai orang kampung akhirnya diriku bisa juga naik pesawat. Gratis lagi heheh.....
Awalnya kami (saya dan Ahmad Musthofa) bingung juga, peswat namanya apa, dimana beli tiket, gimana caranya belinya, naiknya gimana, nanti di peswat gimana, dll. Alhamdulillah tanya kawan sana-sini akhirnya bisa juga.
Kami beli tiket Sempati Jogja-Surabaya(transit)-Balikpapan, bayar Rp 600.000an saja karena dapat discount 30% dengan membawa transkrip nilai jika IP diatas 3,00. (walaupun gratis, sistemnya bayar dulu baru ntar diganti sesampainya di PT Badak).
Alahmdulillah sehari langsung dapat pengalaman naik-turun pesawat dua kali karena pake transit, akhirnya terbiasa juga kaged ketika take off dan landing, biasa pakai seta belt, foto-foto, dll.
Sebenarnya, Balikpapan-Badak akan naik pesawat lagi (meh 3x sehari), pake khusus perusahaan, tapi sayangnya sat itu penumpang penuh. Takpelah, malahan saya suka berpetualang juga menerobos hutan Kaltim dengan bus perusahaan, lebih kurang 5 jam.
Awalnya kami (saya dan Ahmad Musthofa) bingung juga, peswat namanya apa, dimana beli tiket, gimana caranya belinya, naiknya gimana, nanti di peswat gimana, dll. Alhamdulillah tanya kawan sana-sini akhirnya bisa juga.
Kami beli tiket Sempati Jogja-Surabaya(transit)-Balikpapan, bayar Rp 600.000an saja karena dapat discount 30% dengan membawa transkrip nilai jika IP diatas 3,00. (walaupun gratis, sistemnya bayar dulu baru ntar diganti sesampainya di PT Badak).
Alahmdulillah sehari langsung dapat pengalaman naik-turun pesawat dua kali karena pake transit, akhirnya terbiasa juga kaged ketika take off dan landing, biasa pakai seta belt, foto-foto, dll.
Sebenarnya, Balikpapan-Badak akan naik pesawat lagi (meh 3x sehari), pake khusus perusahaan, tapi sayangnya sat itu penumpang penuh. Takpelah, malahan saya suka berpetualang juga menerobos hutan Kaltim dengan bus perusahaan, lebih kurang 5 jam.
Kerja Praktek di Kaltim, ayik jalan2 gratis
Juli-Agustus 1998
Kerja Praktek di PT Badak Kaltim
Niat jalan2 gratis tumbuh ketika sudah semester 6 saatnya untuk Kerja Praktek (KP).
KP bisa dilaksanakan di perusahaan manapun asal apa yang nanti kita kerjakan masih ada terkait dengan Elektro, bahkan di Lab pun bisa. Namun demikian, bagi saya KP di perusahaan, apalagi perusahaan besar dan jauh, dengan fasilitas enak tentu sangat menggiurkan dan menarik hati.
Saya menemukan ide utk jalan2 dan KP di PT Badak Kaltim. Salah satu sebabnya diberikan sedikit gambaran oleh temen di PPBM yang ayahnya kerja disana. Pesawat pp dibayarin, tempat tinggal disediakan, dikasih uang saku...wah ena sekali.
Saya masukkan surat permohonan (yang dibuatkan oleh jurusan) lengkap dengan proposal tentang apa yang ingin saya pelajari. Dalam proposal saya ingin mempelajari bidang kontrol (bukan Telkom, soalnya biar sama dengan temen yang saja ajak dari bidang kontrol, Ahmad Musthofa). Saya mengalokasikan libur akhir semester saja (Juli-Agustus 1998) biar betul2 tidak meninggalkan kuliah.
Karena jauh-jauh hari (lebih dari 6 bulan) kita masukkan proposal dan selalu minta dikawal temen saya, alhamdulillah akhirnya dikabulkan sesuai dengan permintaan kita.
Pesawat Merpati rute Jogjakarta-Surabaya, dilanjutkan ke Balikpapan, lalu naik bus perusahaan sekira 5jam.
Baru sekali ini saya merasakan naik pesawat, duh duh betul2 pengalaman yang sangat berharga.....
di depan masih sangat pengalaman berharga yang insyaAllah akan saja alami, amien.
Kerja Praktek di PT Badak Kaltim
Niat jalan2 gratis tumbuh ketika sudah semester 6 saatnya untuk Kerja Praktek (KP).
KP bisa dilaksanakan di perusahaan manapun asal apa yang nanti kita kerjakan masih ada terkait dengan Elektro, bahkan di Lab pun bisa. Namun demikian, bagi saya KP di perusahaan, apalagi perusahaan besar dan jauh, dengan fasilitas enak tentu sangat menggiurkan dan menarik hati.
Saya menemukan ide utk jalan2 dan KP di PT Badak Kaltim. Salah satu sebabnya diberikan sedikit gambaran oleh temen di PPBM yang ayahnya kerja disana. Pesawat pp dibayarin, tempat tinggal disediakan, dikasih uang saku...wah ena sekali.
Saya masukkan surat permohonan (yang dibuatkan oleh jurusan) lengkap dengan proposal tentang apa yang ingin saya pelajari. Dalam proposal saya ingin mempelajari bidang kontrol (bukan Telkom, soalnya biar sama dengan temen yang saja ajak dari bidang kontrol, Ahmad Musthofa). Saya mengalokasikan libur akhir semester saja (Juli-Agustus 1998) biar betul2 tidak meninggalkan kuliah.
Karena jauh-jauh hari (lebih dari 6 bulan) kita masukkan proposal dan selalu minta dikawal temen saya, alhamdulillah akhirnya dikabulkan sesuai dengan permintaan kita.
Pesawat Merpati rute Jogjakarta-Surabaya, dilanjutkan ke Balikpapan, lalu naik bus perusahaan sekira 5jam.
Baru sekali ini saya merasakan naik pesawat, duh duh betul2 pengalaman yang sangat berharga.....
di depan masih sangat pengalaman berharga yang insyaAllah akan saja alami, amien.
Tuesday, June 9, 1998
KKN berakhir sudah
Bertempat di rumah bapak Kades, pada hari ini tanggal 9 Juni 1998 kami peserta KKN UGM delepas oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemuda.
Trenyuh rasanya, kebersamaan selama 2 bulan memang takseberapa terkait dengan apa yang bisa berikan, namun sebaliknya selama 2 bulan telah memberikan banyak arti pada diri kami.
Semoga apa yang dijalani dan telah sama-sama diberikan (baik oleh peserta KKN maupun penduduk) semakin menguatkan diri selalu membangun diri dan masyarakat, amien.
Trenyuh rasanya, kebersamaan selama 2 bulan memang takseberapa terkait dengan apa yang bisa berikan, namun sebaliknya selama 2 bulan telah memberikan banyak arti pada diri kami.
Semoga apa yang dijalani dan telah sama-sama diberikan (baik oleh peserta KKN maupun penduduk) semakin menguatkan diri selalu membangun diri dan masyarakat, amien.
Wednesday, May 20, 1998
KKN pulkam, ikut demo damai 20 Mei 1998

Pose sebelum longmarch bersama temen2 PPBM
Di sela-sela mengikuti KKN, suasana perpolitikan tanah air sedang menghangat terkait tuntutan reformasi. Beberapa malam sebelumnya, saya pernah ke IKIP Jogja, menakutkan karena suasana demonstrasi mencekam hingga tengah malam.
Saya termasuk salah satu yang balik kampus untuk ikut menyemarakkan demonstrasi damai yang dilaksanakan secara serentak se-Indonesia secara besar-besaran pada tanggal 20 Mei 1998. Saya turut serta (walaupun tidak aktif di garda terdepan) parade massa dari Bunderan UGM menuju Alun-2 Utara Keraton Yogyakarta.
Keesokan harinya, 21 Mei 1998 yang berbarengan dengan ultah saya, di tempat KKN kami menyaksikan layar televisi disiarkan acara langsung pengunduran diri presiden Soeharto dan menyerahkan kekuasaan kepada wapres BJ Habibie. Sontak, masyarakat luas menyambut antusias.
Thursday, April 30, 1998
Beberapa Program Kerja KKN
Selama dua minggu pertama KKN, kami menjalani tahap survei (penduduk, desa, potensi, dll). Keliling kampung ketemu penduduk, apa yang dirasakan, ada masalah apa, ide atau keinginan, dll. Ikut yasinan, barzanji, arisan, kumpulan RT, dll.
Tibalah saatnya menyusun program kerja selama 6 minggu ke depan. Program sesuai dengan background pendidikan masing-masing dan diusahakan ada/banyak program yang saling bersinergi atau kerjasama, setiap kegiatan semua peserta KKN mesti terlibat aktif membantu. Alhamdulillah kami semua kompak pak pak....
Pembangunan fisik (Sunardi Elektro), kesehatan (dokter), Sosial (Dion sastra dan Bu Dewi statistik), pertanian (Yulianto kehutanan dan Riasih perikanan).
Diantara beberapa program kerja kami adalah;
1. Plangisasi. Program ecek-ecek tapi hampir semua melakukan jadi program takterlupakan saat KKN. Kita buat plang-plang penunjuk arah yang sekiranya perlu dan memudahkan orang. Kita kerjasama dengan tukang kayu deket dengan rumah tinggal kami.
2. Pembuatan kolam ikan. Kolam ikan sudah ada dan banyak, tapi kita ingin perbaiki salah satu sebagai percontohan, kita buat secara gotong royong dengan penduduk desa. Ikan kita belikan. ..... Sayang sekali, banyak yang mati karena beli anakan ikan jauh adanya di Magelang. Akhirnya kita belikan lagi, dapet ilmu, mbawanya mesti pakai jerigen dan tanpa ditutup.
3. Perbaikan taman di kantor Kades yang difungsikan sebagai TK. Celakanya, begitu rumput liar diberisihkan, tanaman lama kita rapikan, lho kok malah jadi jelek ya hehehe.... takpa, kita datangkan tanaman-tanaman bunga yang lebih menarik.
4. Perbaikan bak mandai dan bak wudhu masjid. Alhamdulillah dapat dukungan penuh dari warga, minimal dalam bentuk tenaga kerja sukarela. Bak mandi dan tempat wudhu yang sebelumnya rusak dan kotor alhamdulillah kini lebih nyaman dipakai. Mesjid persis di depan tempat tinggal kita.
5. Pekarangan buatan untuk menanam sayuran yang terbuat dari bambu. Juga kita membuat jamur merang. Alhamdulillah, bisa berhasil dengan baik. Teringat kita ragu; ”mengandung racun gak ya tanaman kita”. Kita yang nanam, eh kita pula takut. Tapi alhamdulillah, semua hasil panen ludes termakan dan tak ada efek samping.
6. Praktek kesehatan gigi anak TK, mengajar sekolah SD/SMP, maen sepakbola melawan pemuda kampung, dll asyiknya rame-rame hehe.
Itulah diantara kegiatan KKN yang membuat kita diantara peserta KKN dan warga berbaur dan bercampur menyukseskan program-program bersama, kebersamaan, kekeluargaan, dan keakraban sangat-2 merindukan untuk dikenang.
Tibalah saatnya menyusun program kerja selama 6 minggu ke depan. Program sesuai dengan background pendidikan masing-masing dan diusahakan ada/banyak program yang saling bersinergi atau kerjasama, setiap kegiatan semua peserta KKN mesti terlibat aktif membantu. Alhamdulillah kami semua kompak pak pak....
Pembangunan fisik (Sunardi Elektro), kesehatan (dokter), Sosial (Dion sastra dan Bu Dewi statistik), pertanian (Yulianto kehutanan dan Riasih perikanan).
Diantara beberapa program kerja kami adalah;
1. Plangisasi. Program ecek-ecek tapi hampir semua melakukan jadi program takterlupakan saat KKN. Kita buat plang-plang penunjuk arah yang sekiranya perlu dan memudahkan orang. Kita kerjasama dengan tukang kayu deket dengan rumah tinggal kami.
2. Pembuatan kolam ikan. Kolam ikan sudah ada dan banyak, tapi kita ingin perbaiki salah satu sebagai percontohan, kita buat secara gotong royong dengan penduduk desa. Ikan kita belikan. ..... Sayang sekali, banyak yang mati karena beli anakan ikan jauh adanya di Magelang. Akhirnya kita belikan lagi, dapet ilmu, mbawanya mesti pakai jerigen dan tanpa ditutup.
3. Perbaikan taman di kantor Kades yang difungsikan sebagai TK. Celakanya, begitu rumput liar diberisihkan, tanaman lama kita rapikan, lho kok malah jadi jelek ya hehehe.... takpa, kita datangkan tanaman-tanaman bunga yang lebih menarik.
4. Perbaikan bak mandai dan bak wudhu masjid. Alhamdulillah dapat dukungan penuh dari warga, minimal dalam bentuk tenaga kerja sukarela. Bak mandi dan tempat wudhu yang sebelumnya rusak dan kotor alhamdulillah kini lebih nyaman dipakai. Mesjid persis di depan tempat tinggal kita.
5. Pekarangan buatan untuk menanam sayuran yang terbuat dari bambu. Juga kita membuat jamur merang. Alhamdulillah, bisa berhasil dengan baik. Teringat kita ragu; ”mengandung racun gak ya tanaman kita”. Kita yang nanam, eh kita pula takut. Tapi alhamdulillah, semua hasil panen ludes termakan dan tak ada efek samping.
6. Praktek kesehatan gigi anak TK, mengajar sekolah SD/SMP, maen sepakbola melawan pemuda kampung, dll asyiknya rame-rame hehe.
Itulah diantara kegiatan KKN yang membuat kita diantara peserta KKN dan warga berbaur dan bercampur menyukseskan program-program bersama, kebersamaan, kekeluargaan, dan keakraban sangat-2 merindukan untuk dikenang.
Thursday, April 9, 1998
KKN UGM di Ds Rejosari, kec. Kepil, Wonosobo
9 April - 9 Juni 1998
Saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) saat masa aktif perkuliahan pada semester 8. Awalnya sih mau ikut pas liburan akhir semester 8, tapi karena saat leburan Juli-Agustus sudah ada rencana Kerja Praktek (KP) di PT Badak NGL, Co. Bontang, Kaltim, maka mau tidak mau saya mesti ikut di semester aktif. Padahal saya masih mengulang beberapa mata kuliah yang nilainya jelek (C atau D), tapi mudah2an KKN bisa berjalan lancar, kuliah juga bisa disambi (walaupun tentu sering mbolos kuliah) karena mesti kadang pulang ke Jogja dari Kepil Wonosobo naik motor sekira 3 jam.
Temen2 KKN di Kepil Wonosobo
1. Dion (Sastra Prancis 93)
2. Riasih (Perikanan UGM 93)
3. Dewi (Statistik UGM alih jalur)
4. Agung Rahmadi (Kedokteran 91)
5. Yulianto (Kehutanan 93)
6. Sunardi (Elektro 94)
Kami ditempatkan di desa Rejosari, menginap di salah satu rumah penduduk. Dibagi dalam 2 kamar (kamar laki-laki dan kamar perempuan). Alhamdulillah tambah akrab dan betul2 menikmati suasana hidup di desa (padahal saya emang orang desa). Yang membedakan, mandi di pancuran desa wuih.....
Saya mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) saat masa aktif perkuliahan pada semester 8. Awalnya sih mau ikut pas liburan akhir semester 8, tapi karena saat leburan Juli-Agustus sudah ada rencana Kerja Praktek (KP) di PT Badak NGL, Co. Bontang, Kaltim, maka mau tidak mau saya mesti ikut di semester aktif. Padahal saya masih mengulang beberapa mata kuliah yang nilainya jelek (C atau D), tapi mudah2an KKN bisa berjalan lancar, kuliah juga bisa disambi (walaupun tentu sering mbolos kuliah) karena mesti kadang pulang ke Jogja dari Kepil Wonosobo naik motor sekira 3 jam.
Temen2 KKN di Kepil Wonosobo
1. Dion (Sastra Prancis 93)
2. Riasih (Perikanan UGM 93)
3. Dewi (Statistik UGM alih jalur)
4. Agung Rahmadi (Kedokteran 91)
5. Yulianto (Kehutanan 93)
6. Sunardi (Elektro 94)
Kami ditempatkan di desa Rejosari, menginap di salah satu rumah penduduk. Dibagi dalam 2 kamar (kamar laki-laki dan kamar perempuan). Alhamdulillah tambah akrab dan betul2 menikmati suasana hidup di desa (padahal saya emang orang desa). Yang membedakan, mandi di pancuran desa wuih.....
Saturday, July 12, 1997
Pesantren Anak dan Remaja (PAR) ke-9
30 Juni - 12 Juli 1987 kami para santri Budi Mulia mengadakan kegiatan pesantren kilat untuk anak-anak SD dan SMP yang kami bernama PAR (Pesantren Anak dan Remaja).
Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun oleh Budi Mulia, tahun ini merupakan pelaksanaan ke-9, berarti kegiatan ini sudah berlangsung sejak 9 tahun lalu (tepatnya tahun 1989), berarti sejak jaman santri Budi Mulia angkatan 2 atau 3.
Peserta tahun ini banyak, sekira 120 anak dari berbagai penjuru tanah air, terutama Jawa.
Ketua PAR IX ; Ali Mahrus Al Kafi
Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun oleh Budi Mulia, tahun ini merupakan pelaksanaan ke-9, berarti kegiatan ini sudah berlangsung sejak 9 tahun lalu (tepatnya tahun 1989), berarti sejak jaman santri Budi Mulia angkatan 2 atau 3.
Peserta tahun ini banyak, sekira 120 anak dari berbagai penjuru tanah air, terutama Jawa.
Ketua PAR IX ; Ali Mahrus Al Kafi
Monday, July 7, 1997
Potong2an info mencari jejak guru
Sedikit potongsan2 info, tak menyurutkan langkah kami untuk mencari dan silaturahmi kepada guru SMP kami, dulu lebih dari 5th yang lalu.
Waktu itu saya (sdg kuliah di Jogja) dan Turono (sdg kerja di Surabaya) janjian pulang ke Sragen. Kita merencanakan menjumpai bu Ery. Kami takpunya info lengkap tentang keberadaan beliau saat ini selepas meninggalkan kami sejak 1989/1990, yang jelas lebih dri 5 th.
Potongan2 info yang kita dapat tentang beliau adalah: suami polisi, rumah dekat alun2 kabupaten Ngawi, itu aja.
Ide kami dapatkan ketika lihat2 anak sekolah SMP pada pulang sekolah.
Kita tanya sekolah SMP di Ngawi ada berapa, ada gak guru Matematika yang namanya bu Ery (padahal kita gaktahu apakah beliau sekarang memang masih ngajar/tdk, ngajar SMP/SMA atau sekolah apa/dimana kita juga taktahu)....beberapa murid berbagai sekolah kita tanya takada hasil positif.
Kita mutar2 dekat alun2 juga tidak ada yang kenal dengan beliau. Mungkin ada sekira 5 kali kita tanya sama orang, bahkan ada satu orang yang sampai marah-marah: ”nyari orang kok gaktahu alamatnya, mana bisa”, dalam hati kami: ”kalo kami tahu alamat persis, ya mungkin tidak sampai bingung begini pak”
Ide kami muncul lagi... ohya, suaminya khan polisi.
Akhirnya kita datangi satu kompleks perumahan polisi. Alhamdulillah, ada titik terang benderang, ada warga yang juga polisi gakkenal sih tapi pernah tahu ada polisi yang kerjanya di Ponorogo punya istri guru, eh kebetulan anak tetangga yang kita tanya juga muridnya bu Ery tsb, kloplah....
akhirnya ketemulah kita sama guru yang telah mengajari kita banyak ilmu.. Gak mengira kami bisa berjumpa lagi.
Waktu itu saya (sdg kuliah di Jogja) dan Turono (sdg kerja di Surabaya) janjian pulang ke Sragen. Kita merencanakan menjumpai bu Ery. Kami takpunya info lengkap tentang keberadaan beliau saat ini selepas meninggalkan kami sejak 1989/1990, yang jelas lebih dri 5 th.
Potongan2 info yang kita dapat tentang beliau adalah: suami polisi, rumah dekat alun2 kabupaten Ngawi, itu aja.
Ide kami dapatkan ketika lihat2 anak sekolah SMP pada pulang sekolah.
Kita tanya sekolah SMP di Ngawi ada berapa, ada gak guru Matematika yang namanya bu Ery (padahal kita gaktahu apakah beliau sekarang memang masih ngajar/tdk, ngajar SMP/SMA atau sekolah apa/dimana kita juga taktahu)....beberapa murid berbagai sekolah kita tanya takada hasil positif.
Kita mutar2 dekat alun2 juga tidak ada yang kenal dengan beliau. Mungkin ada sekira 5 kali kita tanya sama orang, bahkan ada satu orang yang sampai marah-marah: ”nyari orang kok gaktahu alamatnya, mana bisa”, dalam hati kami: ”kalo kami tahu alamat persis, ya mungkin tidak sampai bingung begini pak”
Ide kami muncul lagi... ohya, suaminya khan polisi.
Akhirnya kita datangi satu kompleks perumahan polisi. Alhamdulillah, ada titik terang benderang, ada warga yang juga polisi gakkenal sih tapi pernah tahu ada polisi yang kerjanya di Ponorogo punya istri guru, eh kebetulan anak tetangga yang kita tanya juga muridnya bu Ery tsb, kloplah....
akhirnya ketemulah kita sama guru yang telah mengajari kita banyak ilmu.. Gak mengira kami bisa berjumpa lagi.
Tuesday, March 11, 1997
Mas Sarjono wisuda jadi Sarjana
Sarjana pertama di keluarga/kampung kami
Alhamdulillah, perjuangan mas Sarjono untuk menyelesaikan kuliah di Pendidikan Kimia UNS Solo akhirnya terwujud. Sempat putus asa, susah, gak semangat, mesti dilaju dari Sragen, sering ke Jogja untuk diketikkan oleh diriku, dll penuh perjuangan hebat.
Alhamdulillah sekarang sudah menjadi Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Semua terasa istimewa karena dia satu2nya dan pertama menjadi sarjana di keluarga kami, pertama di keluarga besar kami (baik dari trah ibu maupun bapak), dan pertama di kampung kami. (InsyaAllah yang kedua adalah saya segera menyusul, amien).
Alhamdulillah, perjuangan mas Sarjono untuk menyelesaikan kuliah di Pendidikan Kimia UNS Solo akhirnya terwujud. Sempat putus asa, susah, gak semangat, mesti dilaju dari Sragen, sering ke Jogja untuk diketikkan oleh diriku, dll penuh perjuangan hebat.
Alhamdulillah sekarang sudah menjadi Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Semua terasa istimewa karena dia satu2nya dan pertama menjadi sarjana di keluarga kami, pertama di keluarga besar kami (baik dari trah ibu maupun bapak), dan pertama di kampung kami. (InsyaAllah yang kedua adalah saya segera menyusul, amien).
Friday, February 7, 1997
Pengajian I'tikaf Ramadhan (PIR) ke-14
Selain PAR untuk anak dan Remaja, kami santri Budi Mulia juga mengemban amanah untuk mengadakan kegiatan i'tikaf di Budi Mulia, namanya PIR (Pengajian I'tikaf Ramadhan).
Tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-14, maknanya sudah dilaksanakan 14 tahun sejak 1984 (santri angkatan pertama).
PIR ini mengambil konsep i'tikaf seperti jaman rasulullah SAW, dimana pada 10 hari terakhir Ramadhan, umat muslim diminta untuk berdiam di masjid memperbanyak amal ibadah. Namun, karena belum terbiasa atau belum memasyarakat pada saat ini, kami membungkusnya sebagai kegiatan pengajian di hari-hari yang seharusnya i'tikaf.
Kegiatan ini juga diperuntukkan bagi mengumpulkan aktivis-aktivis kerohanian islam di seluruh kampus di Indonesia, peserta hampir semua universitas ada, dari Aceh, Medan, Padang, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dll
Tahun ini PIR ke-14 dilaksanakan 29 Januari s.d 7 Februari 1997 bertepatan dengan 20 - 29 Ramadhan 1417 H. Ketua; Aunurrohim.
Tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-14, maknanya sudah dilaksanakan 14 tahun sejak 1984 (santri angkatan pertama).
PIR ini mengambil konsep i'tikaf seperti jaman rasulullah SAW, dimana pada 10 hari terakhir Ramadhan, umat muslim diminta untuk berdiam di masjid memperbanyak amal ibadah. Namun, karena belum terbiasa atau belum memasyarakat pada saat ini, kami membungkusnya sebagai kegiatan pengajian di hari-hari yang seharusnya i'tikaf.
Kegiatan ini juga diperuntukkan bagi mengumpulkan aktivis-aktivis kerohanian islam di seluruh kampus di Indonesia, peserta hampir semua universitas ada, dari Aceh, Medan, Padang, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dll
Tahun ini PIR ke-14 dilaksanakan 29 Januari s.d 7 Februari 1997 bertepatan dengan 20 - 29 Ramadhan 1417 H. Ketua; Aunurrohim.
Sunday, July 7, 1996
Kuliah Kerja Lapangan/Tour Jakarta
Tahun 1996, tanggal dan bulan persisnya lupa
Kami mahasiswa Teknik Elektro UGM angkatan 1994 mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (=study tour) ke Jakarta.
Tujuan:
1. Pameran Komputer di Jakarta Convention Centre
2. PLN Pusat Gambir
3. Indosat Jatiluhur
4. Scheider
5. Unindo
Foto-foto kenangan yang di-share oleh temen di facebook saya copy-paste disini ya.




Kami mahasiswa Teknik Elektro UGM angkatan 1994 mengadakan Kuliah Kerja Lapangan (=study tour) ke Jakarta.
Tujuan:
1. Pameran Komputer di Jakarta Convention Centre
2. PLN Pusat Gambir
3. Indosat Jatiluhur
4. Scheider
5. Unindo
Foto-foto kenangan yang di-share oleh temen di facebook saya copy-paste disini ya.




Sunday, March 3, 1996
aksyen disela-sela rutinitas ngaji
Monday, January 1, 1996
Nyantri di PPBM awal1996-awal1999
Kisah menarik masuk Pondok Pesantren Budi Mulia.
Saya awalnya taktahu apa-apa. Suatu sore, datanglah Baihaqi ke kost saya di Asrama Putra UGM Cemara Lima. Dia membawa brosur pengumuman penerimaan santri baru angkatan 6 di Pondok Pesantren Budi Mulia (PPBM) di bawah naungan Yayasan Shalahuddin pimpinan Prof. Dr. Amien Rais, MA. Lokasi PPBM lumayan jauh dari UGM, yaitu Jl. Kaliurang Km 8, itupun masuk masuk 1 km kedalam.
Dia ngajak saya untuk mendaftar bersama. Saya kaged, hah... pesantren. Saya takut, saya gaktahu apa-apa tentang agama, saya bodoh, ngaji cuma bisa dikit......
Tapi Baihaqi takhenti2 menasehati, kita coba aja, yang penting niatnya untuk memperbaiki keagamaan kita, justru kalo merasa belum bagus lebih baik ikut...akhirnya ikut ajalah, walau masih ragu apa saya mungkin diterima.
Kita berdua naik sepeda sore itu juga ke PPBM. Dia pakai sepeda balap dan saya pakai sepeda federal kesukaan kita masing2 (tepatny: suka-tidak punyanya ya cuma sepeda itu). Ada sedikit nasib malang, Baihaqi sempat terjungkal dari sepeda ketika melewati jalan yang curam, alhamdulillah gak luka. Hebat benar, perjuangan mencari ilmu, smg Allah meridhoi usaha kami, amien.
Kami disambut kakak santri yang sedang bertugas, namanya bagus; Mas Elvis Idris dari Palembang. Kami sampaikan hasil diskusi kita dan beliau sangat mengharapkan kami mencoba mendaftar dan bergabung. Beliau memberikan banyak penjelasan, diantaranya;
1. PPBM adalah pesantren untuk mahasiswa, sehingga program perkuliahan (materi maupun waktu pelaksanaan) disesuaikandengan kondisi mahasiswa yang beragam. kalau kampus ujian semester, PPBM juga libur. Ngaji menggunakan waktu malam hingga pagi, siang silakan di kampus.
2.PPBM santrinya berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bebagai perguruan tinggi di Jogja; UGM, IKIP, IAIN, UII, dll sehingga bisa bergaul dengan banyak teman dan bertukar pikiran banyak ilmu.
3. PPBM bukan mencari yang sudah pinter ngaji, yang belum pinter asal punya keinginan kuat utk memperdalam dan memperbaiki agama, sangat dihargai.
Alhamdulillah, akhirnya kami berdua semakin mantap untuk melengkapi persyaratan (surat permohonan, transkrip nilai, foto) dan akan mendaftar secepatnya.
Tibalah saatnya mendaftar, selang berapa hari tibalah menghadapi ujian, ada ujian baca tulis al qur’an dengan kakak santri (yang paling susah menerjemahkan), wawancara tentang wawasan, juga wawancara dengan pengurus yayasan.... waduh malu banget ya kelihatan bodonya.
Alhamdulillah, saya dinyatakan sebagai salah satu yang diberikan kesempatan untuk belajar di PPBM. Kalo nggak salah pendafatr sekira 80-an dan diterima 50 saja.
Program PPBM selama 6 semester (3 tahun), bagi saya bersamaan dengan kuliah di TE UGM semester 4 s.d 9 (bermula awal 1996 hingga awal 1999). Mudah2an kuliah di TE dan di PPBM bisa rampung hampir bersamaan, amien.
Saya awalnya taktahu apa-apa. Suatu sore, datanglah Baihaqi ke kost saya di Asrama Putra UGM Cemara Lima. Dia membawa brosur pengumuman penerimaan santri baru angkatan 6 di Pondok Pesantren Budi Mulia (PPBM) di bawah naungan Yayasan Shalahuddin pimpinan Prof. Dr. Amien Rais, MA. Lokasi PPBM lumayan jauh dari UGM, yaitu Jl. Kaliurang Km 8, itupun masuk masuk 1 km kedalam.
Dia ngajak saya untuk mendaftar bersama. Saya kaged, hah... pesantren. Saya takut, saya gaktahu apa-apa tentang agama, saya bodoh, ngaji cuma bisa dikit......
Tapi Baihaqi takhenti2 menasehati, kita coba aja, yang penting niatnya untuk memperbaiki keagamaan kita, justru kalo merasa belum bagus lebih baik ikut...akhirnya ikut ajalah, walau masih ragu apa saya mungkin diterima.
Kita berdua naik sepeda sore itu juga ke PPBM. Dia pakai sepeda balap dan saya pakai sepeda federal kesukaan kita masing2 (tepatny: suka-tidak punyanya ya cuma sepeda itu). Ada sedikit nasib malang, Baihaqi sempat terjungkal dari sepeda ketika melewati jalan yang curam, alhamdulillah gak luka. Hebat benar, perjuangan mencari ilmu, smg Allah meridhoi usaha kami, amien.
Kami disambut kakak santri yang sedang bertugas, namanya bagus; Mas Elvis Idris dari Palembang. Kami sampaikan hasil diskusi kita dan beliau sangat mengharapkan kami mencoba mendaftar dan bergabung. Beliau memberikan banyak penjelasan, diantaranya;
1. PPBM adalah pesantren untuk mahasiswa, sehingga program perkuliahan (materi maupun waktu pelaksanaan) disesuaikandengan kondisi mahasiswa yang beragam. kalau kampus ujian semester, PPBM juga libur. Ngaji menggunakan waktu malam hingga pagi, siang silakan di kampus.
2.PPBM santrinya berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bebagai perguruan tinggi di Jogja; UGM, IKIP, IAIN, UII, dll sehingga bisa bergaul dengan banyak teman dan bertukar pikiran banyak ilmu.
3. PPBM bukan mencari yang sudah pinter ngaji, yang belum pinter asal punya keinginan kuat utk memperdalam dan memperbaiki agama, sangat dihargai.
Alhamdulillah, akhirnya kami berdua semakin mantap untuk melengkapi persyaratan (surat permohonan, transkrip nilai, foto) dan akan mendaftar secepatnya.
Tibalah saatnya mendaftar, selang berapa hari tibalah menghadapi ujian, ada ujian baca tulis al qur’an dengan kakak santri (yang paling susah menerjemahkan), wawancara tentang wawasan, juga wawancara dengan pengurus yayasan.... waduh malu banget ya kelihatan bodonya.
Alhamdulillah, saya dinyatakan sebagai salah satu yang diberikan kesempatan untuk belajar di PPBM. Kalo nggak salah pendafatr sekira 80-an dan diterima 50 saja.
Program PPBM selama 6 semester (3 tahun), bagi saya bersamaan dengan kuliah di TE UGM semester 4 s.d 9 (bermula awal 1996 hingga awal 1999). Mudah2an kuliah di TE dan di PPBM bisa rampung hampir bersamaan, amien.
Sunday, December 31, 1995
Lepas semua aktivitas kampus, fokus di PPBM
Mengakhiri tahun 1995, semua urusan aktivitas kemahasiswaan di KOPMA dan BEM UGM yang telah memberikan banyak pengalaman mesti saya tinggalkan.
Saatnya saya fokus nyantri di PPBM (Pondok Pesantren Budi Mulia). Terlalu riskan jika semua masih saya ikuti dan jalani, takutnya malah gak ada yang beres. Sudah jauh, malam dan pagi selalu ada kegiatan di pondok, siang kuliah....
satu dua kegiatan yang masih berjalan sambil diselesaikan, terutama juga kegiatan di Sie Kerohanian Islam (SKI) Jurusan Teknik Elektro yang diamanahi sebagai ketua Bidang Pewarnaan Kampus periode akademik 1995/1996.
Saatnya saya fokus nyantri di PPBM (Pondok Pesantren Budi Mulia). Terlalu riskan jika semua masih saya ikuti dan jalani, takutnya malah gak ada yang beres. Sudah jauh, malam dan pagi selalu ada kegiatan di pondok, siang kuliah....
satu dua kegiatan yang masih berjalan sambil diselesaikan, terutama juga kegiatan di Sie Kerohanian Islam (SKI) Jurusan Teknik Elektro yang diamanahi sebagai ketua Bidang Pewarnaan Kampus periode akademik 1995/1996.
Tuesday, December 12, 1995
Kursus latihan pakai komputer
Komputer adalah barang mahal dan takpernah saya miliki hingga hari ini.
Ada kesempatan (karena mendapat diskon khusus sebagai orang KOPMA UGM) saya ikut kursus latian pakai komputer, tepatnya Kursus Word Perfect 5.1 di Gama Informatika Jl. Gejayan (sengaja cari yang deket kost, biar jalan kaki saja cukup). Kursus selama 1 bulan (18 November s.d 12 Des 1995)
Mau dilanjutkan dengan kursus Microsoft Word, Microsoft Excel...ntar dulu, gak ada diskon sich, duitnya siapa.
Walaupun di Teknik Elektro UGM ada konsentrasi Ilmu Komputer dan satunya lagi Informatika, rasanya saya gak mungkin masuk konsentrasi tsb, komputer aja gakpunya, minta dibelikan orangtua gaktega, beli sendiri gakpunya uang.... yah, masuk konsentrasi lainnya aja.
Muga kedepan ada rejeki untuk memperdalam ilmu komputer, amien.
Ada kesempatan (karena mendapat diskon khusus sebagai orang KOPMA UGM) saya ikut kursus latian pakai komputer, tepatnya Kursus Word Perfect 5.1 di Gama Informatika Jl. Gejayan (sengaja cari yang deket kost, biar jalan kaki saja cukup). Kursus selama 1 bulan (18 November s.d 12 Des 1995)
Mau dilanjutkan dengan kursus Microsoft Word, Microsoft Excel...ntar dulu, gak ada diskon sich, duitnya siapa.
Walaupun di Teknik Elektro UGM ada konsentrasi Ilmu Komputer dan satunya lagi Informatika, rasanya saya gak mungkin masuk konsentrasi tsb, komputer aja gakpunya, minta dibelikan orangtua gaktega, beli sendiri gakpunya uang.... yah, masuk konsentrasi lainnya aja.
Muga kedepan ada rejeki untuk memperdalam ilmu komputer, amien.
Saturday, September 9, 1995
Mulai dapat Beasiswa
Semester 3 (Sept 1995)
Alhamdulillah, yang ditunggu2 akhirnya datang juga. Saatnya menginjak semester 3, sudah punya nilai 2 semester (jika prestasi layak) berhak untuk mengajukan beasiswa.
Beberapa beasiswa yang bisa diraih diantaranya yang umum adalah Supersemar, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), PII (Persatuan Insinyur Indonesia). Saya nyoba daftar beasiwa yang saat itu belum umum dan hanya ditawarkan utk jurusan-jurusan yang terbatas, yaitu Johanna de Rider Foundation (gaktahu sebenarnya lembaga apa ini, Cuma kedengarannya seperti nama Perancis). Semua persyaratan saya lengkapi, diantaranya transkrip nilai, surat keterangan dari kelurahan, kartu keluarga, dll.
Setelah menunggu beberapa lama, alhamdulillah saya termasuk dalam daftar mahasiswa penerima beasiswa Johanna de Rider Foundation....Alhamdulillah ya Allah, bisa mengurangi beban orang tua dalam menanggung mahalnya biaya kuliah.
[alhamdulillah, tiap tahun beasiswa bisa diperpanjang hingga lulus asal prestasi akademik bisa dipertahankan, dan terbukti saya mendapatkan beasiswa tersebut hingga lulus, berawal dari Rp 50.000/bulan s.d terakhir Rp 150.000/bulan] .
Alhamdulillah, yang ditunggu2 akhirnya datang juga. Saatnya menginjak semester 3, sudah punya nilai 2 semester (jika prestasi layak) berhak untuk mengajukan beasiswa.
Beberapa beasiswa yang bisa diraih diantaranya yang umum adalah Supersemar, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), PII (Persatuan Insinyur Indonesia). Saya nyoba daftar beasiwa yang saat itu belum umum dan hanya ditawarkan utk jurusan-jurusan yang terbatas, yaitu Johanna de Rider Foundation (gaktahu sebenarnya lembaga apa ini, Cuma kedengarannya seperti nama Perancis). Semua persyaratan saya lengkapi, diantaranya transkrip nilai, surat keterangan dari kelurahan, kartu keluarga, dll.
Setelah menunggu beberapa lama, alhamdulillah saya termasuk dalam daftar mahasiswa penerima beasiswa Johanna de Rider Foundation....Alhamdulillah ya Allah, bisa mengurangi beban orang tua dalam menanggung mahalnya biaya kuliah.
[alhamdulillah, tiap tahun beasiswa bisa diperpanjang hingga lulus asal prestasi akademik bisa dipertahankan, dan terbukti saya mendapatkan beasiswa tersebut hingga lulus, berawal dari Rp 50.000/bulan s.d terakhir Rp 150.000/bulan] .
punya sepeda, saatnya tambah aktif dan nyari penghasilan
Bermodalkan sepeda, saya bisa sedikit lincah untuk bergerak, tambah aktif di organisasi, dan mencoba mencari penghasilan.
Saya pergunakan kemampuan saya untuk menambah uang saku dengan jalan menjadi tentor lembaga pendidikan privat bagi anak-anak SD-SMP-SMA. Teringat ada siswa SD di baratnya Kraton dan anak SMA di sawit sari pernah saya ajar. Selain itu, saya juga menjadi penjaga toko KOPMA 2x seminggu, sempat juga di Wartel KOPMA.
Untuk berorganisasi, saya aktif di Sie Kerohanian Islam Teknik Elektro, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, dan KOPMA UGM sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Sebelumnya saat di Peternakan UGM, saya aktif di Pramuka (tepatnya ikut2an Baihaqi), terutama seneng ikut saat Bakti Sosial.
Saya pergunakan kemampuan saya untuk menambah uang saku dengan jalan menjadi tentor lembaga pendidikan privat bagi anak-anak SD-SMP-SMA. Teringat ada siswa SD di baratnya Kraton dan anak SMA di sawit sari pernah saya ajar. Selain itu, saya juga menjadi penjaga toko KOPMA 2x seminggu, sempat juga di Wartel KOPMA.
Untuk berorganisasi, saya aktif di Sie Kerohanian Islam Teknik Elektro, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, dan KOPMA UGM sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Sebelumnya saat di Peternakan UGM, saya aktif di Pramuka (tepatnya ikut2an Baihaqi), terutama seneng ikut saat Bakti Sosial.
Thursday, August 31, 1995
BEM UGM sebulan penuh kegiatan 50 Th Indonesia Merdeka
1-31 Agustus 1995 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM mengadakan penuh kegiatan dalam Rangkaian Merah Putih UGM, menyambut 50 tahun merdeka.
Kegiatan yang saya ikuti (jadi panitia dan peserta) diantaranya adalah seminar, bakti sosial, dan hening malam (istilahnya lupa).
Banyak temen2 yang tergabung dalam kegiatan ini sehingga makin akrab dengan teman2 yang aktif di berbagai organisasi kegiatan kemahasiswaan.
Kegiatan yang saya ikuti (jadi panitia dan peserta) diantaranya adalah seminar, bakti sosial, dan hening malam (istilahnya lupa).
Banyak temen2 yang tergabung dalam kegiatan ini sehingga makin akrab dengan teman2 yang aktif di berbagai organisasi kegiatan kemahasiswaan.
Tuesday, August 8, 1995
naik sepeda onthel Sragen-Solo-Jogja
Keinginan untuk memiliki kendaraan alhamdulillah kesampaian. Di rumah ada sepeda nganggur, karena adikku Kamti dibelikan sepeda jengki, sepeda federal yang dia miliki akhirnya bisa saya pakai. Apalagi sekarang kost di asrama Cemara Lima jauh kalo mesti jalan kaki.
Takterpikir paket karena mahal bagi kami, maka pagi-pagi sehabis shubuh sekira jam5 saya mulai mengayuh sepeda onthel federal. Ternyata terengah2 juga saya dibuatnya. sekira jam9 baru sampai kota Solo. Sekitar Ashar baru nyampe Jogja.
Betul-betul perjuangan hebat
Takterpikir paket karena mahal bagi kami, maka pagi-pagi sehabis shubuh sekira jam5 saya mulai mengayuh sepeda onthel federal. Ternyata terengah2 juga saya dibuatnya. sekira jam9 baru sampai kota Solo. Sekitar Ashar baru nyampe Jogja.
Betul-betul perjuangan hebat
Friday, July 7, 1995
kost 4; Asrama Mhs, OPSPEKnya hiii ngeri
Nomaden lagi......
Menjelang akan habisnya masa kost di Karangmalang D7, ada informasi bahwa asrama mahasiswa UGM Cemara Lima Jl. Kaliurang km 5.5 membuka pendaftaran penghuni baru. Saya tertarik mendaftar karena murah (kalo gaksalah Rp 15.000/bulan). Gedung berupa flat 5 lantai, tiap rumah berisi 3 kamar utk bertiga (lengkap dengan kamar mandi, dapur, ruang tamu).
Saya mencoba daftar dan alhamdulillah ketrima, walaupun sangat pahit menjalani masa-masa orientasi sebagai warga baru. Serasa OPSPEK di UGM selama 4 hari tidak ada apa-apanya dibanding OPSPEK asrama yang betul2 diuji mental luar biasa.
Opspek tiap sabtu sore s.d minggu selama 1 bulan, selama itu pula kami dianggap sebagai penghuni kelas kedua, saat hari2 biasa akrab, eh saat opspek dicuekin dan dibentak2, terlebih atribut yang kami pakai terkesan lucu2.
Yang paling ngeri adalah opspek terakhir, waktu itu malam hari, semua dikumpulkan dan satu persatu suruh masuk kubiran dan wajib mengunjungi pos-pos yang telah ditentukan, lengkap dengan lilin, petunjuk arah, dan arahan/tugas. Diantaranya yang ngeri adalah;
1. Diminta duduk menghadap kuburan seseorang yang baru dikubur tadi sore serasa diminta mendoakan
2. Diminta menimba di sumur tua kuburan, ternyata dalam ember ada guling putih dan muncul kakak asrama berteriak mengagetkan dari ujung depan....hiii takut hampir copot jantungku....
Alhamdulillah akhirnya semua bisa dilalui dan menjadi warga asrama normal seperti yang lain.
Teringat temen2 seperjuangan masuk asrama Cemara Lima
1. Muhammad Yasin (peternakan UGM 94)
2. Abeng (Ilmu Komunikasi UGM 93)
3. Widiantoro (Kehutanan UGM 94)
4. Aulia Muflih
Menjelang akan habisnya masa kost di Karangmalang D7, ada informasi bahwa asrama mahasiswa UGM Cemara Lima Jl. Kaliurang km 5.5 membuka pendaftaran penghuni baru. Saya tertarik mendaftar karena murah (kalo gaksalah Rp 15.000/bulan). Gedung berupa flat 5 lantai, tiap rumah berisi 3 kamar utk bertiga (lengkap dengan kamar mandi, dapur, ruang tamu).
Saya mencoba daftar dan alhamdulillah ketrima, walaupun sangat pahit menjalani masa-masa orientasi sebagai warga baru. Serasa OPSPEK di UGM selama 4 hari tidak ada apa-apanya dibanding OPSPEK asrama yang betul2 diuji mental luar biasa.
Opspek tiap sabtu sore s.d minggu selama 1 bulan, selama itu pula kami dianggap sebagai penghuni kelas kedua, saat hari2 biasa akrab, eh saat opspek dicuekin dan dibentak2, terlebih atribut yang kami pakai terkesan lucu2.
Yang paling ngeri adalah opspek terakhir, waktu itu malam hari, semua dikumpulkan dan satu persatu suruh masuk kubiran dan wajib mengunjungi pos-pos yang telah ditentukan, lengkap dengan lilin, petunjuk arah, dan arahan/tugas. Diantaranya yang ngeri adalah;
1. Diminta duduk menghadap kuburan seseorang yang baru dikubur tadi sore serasa diminta mendoakan
2. Diminta menimba di sumur tua kuburan, ternyata dalam ember ada guling putih dan muncul kakak asrama berteriak mengagetkan dari ujung depan....hiii takut hampir copot jantungku....
Alhamdulillah akhirnya semua bisa dilalui dan menjadi warga asrama normal seperti yang lain.
Teringat temen2 seperjuangan masuk asrama Cemara Lima
1. Muhammad Yasin (peternakan UGM 94)
2. Abeng (Ilmu Komunikasi UGM 93)
3. Widiantoro (Kehutanan UGM 94)
4. Aulia Muflih
Saturday, April 1, 1995
jadi Penjaga Toko Kopma UGM
01 April - 30 Juni 1995 (4 bulan) kedepan disela-sela tugas belajar saya membuat kontrak kesepakatan dengan KOPMA UGM untuk menjadi penjaga toko KOPMA UGM.
Pengalaman baru bagi saya, sebagai anak petani yang merasa asing dengan jual-beli, apalagi jaga toko. Bismillah, mencari pengalaman dan sedikit penghasilan.
Saya kebagian di lantai 2 (cinderamata; pakaian, stieker, dll).
Pengalaman baru bagi saya, sebagai anak petani yang merasa asing dengan jual-beli, apalagi jaga toko. Bismillah, mencari pengalaman dan sedikit penghasilan.
Saya kebagian di lantai 2 (cinderamata; pakaian, stieker, dll).
Sunday, December 11, 1994
Studi Islam Efektif (SIE) Masjid Syuhada
18 Sept s.d 11 Des 1994 mengikuti Studi Islam Efektif (SIE) di Masjid Syuhada.
Kegiatan dilaksanakan seminggu 2x (kalo taksalah) dan biasanya hari Sabtu malam s.d Ahad pagi ada acara menginap.
Saya awalnya diajak sama ketua penyelenggara (Mufti, temen se-kost di Karangmalang), Juga Baihaqi. Eh ketemu Hakim (elektro 94) yg juga ikutan.
Nggak nyangka juga, sering ketemu Andi Wijanarko (temen sekelas SMA) yang sekarang di Akabri AU Jogja sering serombongan diwajibkan ngaji di masjid Syuhada tiap Ahad pagi.
Alhamdulillah, banyak ilmu, banyak teman.
Kegiatan dilaksanakan seminggu 2x (kalo taksalah) dan biasanya hari Sabtu malam s.d Ahad pagi ada acara menginap.
Saya awalnya diajak sama ketua penyelenggara (Mufti, temen se-kost di Karangmalang), Juga Baihaqi. Eh ketemu Hakim (elektro 94) yg juga ikutan.
Nggak nyangka juga, sering ketemu Andi Wijanarko (temen sekelas SMA) yang sekarang di Akabri AU Jogja sering serombongan diwajibkan ngaji di masjid Syuhada tiap Ahad pagi.
Alhamdulillah, banyak ilmu, banyak teman.
Sunday, December 4, 1994
DikDasKop
26-27 November 1994 saya mengikuti Pendidikan Dasar Koperasi ke-26 tingkat DIY yang diselenggarakan oleh KOPMA (Koperasi Mahasiswa) UGM.
Materi pendidikan;
1. Pemuda dan Koperasi
2. Kewirausahaan
3. Sejarah dan Ideologi Koperasi
4. Pelaku-pelaku Ekonomi Indonesia
5. Organisasi dan Manajemen KOPMA
6. Sistem Ekonomi Nasional dan Internasional
Alhamdulillah dapat nilai A. Ketua KOPMA saat itu adalah Mas Alvitra Bermana
Materi pendidikan;
1. Pemuda dan Koperasi
2. Kewirausahaan
3. Sejarah dan Ideologi Koperasi
4. Pelaku-pelaku Ekonomi Indonesia
5. Organisasi dan Manajemen KOPMA
6. Sistem Ekonomi Nasional dan Internasional
Alhamdulillah dapat nilai A. Ketua KOPMA saat itu adalah Mas Alvitra Bermana
Monday, October 24, 1994
Pendidikan Manajemen Koperasi
24 Oktober 1994 mengikuti Pendidikan Manajemen Koperrasi dengan materi Manajemen Pemasaran (teori dan praktek).
Saturday, October 1, 1994
kost 3; Karangmalang D7
Lagi-lagi saya mulai muncul sifat suka hidup nomaden hehe... Menginjak tahun ke-2 di Jogja, dan berpindah kuliah dari Peternakan ke Teknik Elektro, saya mencari suasana kost baru.
Awalnya sih mau mencari di daerah Pogung yang dekat dengan Teknik, tapi fulus tidak terjangkau, biaya kost terlalu mahal bagi saya. Akhirnya saya tetep di Karangmalang, cuma beda rumah, dulu di E22 sekarang di D7, rumah lebih sepi dan bergabung dengan tuan rumah, harga kost juga Rp 250.000 berdua sama Muniroh (temen se-kost sebelumnya, tapi beda kamar).
Karangmalang ada di timur UGM, sementara Teknik adalah UGM paling barat. Karena saya takda kendaraan sepeda maupun motor, mau naik bus juga terlalu mahal bagi saya (Rp 100 utk mahasiswa), maka tiap hari saya mesti jalan kaki dari Karangmalang ke kampus, menerobos lembah UGM yang masih banyak rumput liar dengan jalan setapak, nglewati Fak Hukum, Fisipol, Gd Pusat, Farmasi/MIPA, KU, dan barulah sampai Teknik.
Awalnya sih mau mencari di daerah Pogung yang dekat dengan Teknik, tapi fulus tidak terjangkau, biaya kost terlalu mahal bagi saya. Akhirnya saya tetep di Karangmalang, cuma beda rumah, dulu di E22 sekarang di D7, rumah lebih sepi dan bergabung dengan tuan rumah, harga kost juga Rp 250.000 berdua sama Muniroh (temen se-kost sebelumnya, tapi beda kamar).
Karangmalang ada di timur UGM, sementara Teknik adalah UGM paling barat. Karena saya takda kendaraan sepeda maupun motor, mau naik bus juga terlalu mahal bagi saya (Rp 100 utk mahasiswa), maka tiap hari saya mesti jalan kaki dari Karangmalang ke kampus, menerobos lembah UGM yang masih banyak rumput liar dengan jalan setapak, nglewati Fak Hukum, Fisipol, Gd Pusat, Farmasi/MIPA, KU, dan barulah sampai Teknik.
Friday, September 9, 1994
Penataran lagi, Opspek lagi...
Pernah kuliah setahun di Peternakan UGM, mestinya tidak wajib lagi bagi diriku utk mengikuti Penataran P4 100 jam (sekira 2 minggu). Namun, saya malas mengurus prosedur yang kadang susah dan berbelit, akhirnya saya ikutin lagi aja penataran.
Udah mbayar, tinggal duduk manis dengarkan ceramah, makan dikasih, malahan sekalian sebagai ajang berkenalan dengan teman2 baru di Elektro. Akhirnya saya ikuti aja penataran lagi, jenuh juga sih, tapi yah dinikmati aja. Saat itu, saya kebagian penataran di KU, gabungan antara KU dan Teknik.
OPSPEK benernya saya malas ngikuti lagi. Mestinya saya bisa takperlu ikut OPSPEK tingkat Universitas yang berlangsung selama 2 hari (tahun lalu sudah), tapi ya kembali lagi malas ribet urus sana-sini. Lagian, OPSPEK 2 hari yang diselenggarakan fakultas Teknik mesti saya ikuti (tahun lalu khan beda fakultas). Akhirnya saya ikuti juga.
Tapi banyak pengalaman menarik dan merasa ringan OPSPEK tahun ini. Saya pernah merasakan OPSPEK, yang dipentingkan adalah mental kita mesti kuat, harus kompak, disiplin, dimarahin karena salah, temen salah ikut dihukum, gakberbuat salah juga dihukum karena gaktoleran, dll ya udahlah santai aja, lakukan sebisanya. Bahkan saking santainya, terlebih sudah punya banyak pasukan temen se-kost, saya bisa masih sempat nyuci dan nyetrika. Tugas-2 saya pasrahkan sama temen2; tlg kamu buatin slempang, tolong kamu dengerin berita malam ini, tolong si C carikan aku ini-itu, dll.
Alhamdulillah semua berjalan lancar, termasuk acara nyebur ke sungai Code di belakang Teknik hingga Maghrib juga lancar.
Udah mbayar, tinggal duduk manis dengarkan ceramah, makan dikasih, malahan sekalian sebagai ajang berkenalan dengan teman2 baru di Elektro. Akhirnya saya ikuti aja penataran lagi, jenuh juga sih, tapi yah dinikmati aja. Saat itu, saya kebagian penataran di KU, gabungan antara KU dan Teknik.
OPSPEK benernya saya malas ngikuti lagi. Mestinya saya bisa takperlu ikut OPSPEK tingkat Universitas yang berlangsung selama 2 hari (tahun lalu sudah), tapi ya kembali lagi malas ribet urus sana-sini. Lagian, OPSPEK 2 hari yang diselenggarakan fakultas Teknik mesti saya ikuti (tahun lalu khan beda fakultas). Akhirnya saya ikuti juga.
Tapi banyak pengalaman menarik dan merasa ringan OPSPEK tahun ini. Saya pernah merasakan OPSPEK, yang dipentingkan adalah mental kita mesti kuat, harus kompak, disiplin, dimarahin karena salah, temen salah ikut dihukum, gakberbuat salah juga dihukum karena gaktoleran, dll ya udahlah santai aja, lakukan sebisanya. Bahkan saking santainya, terlebih sudah punya banyak pasukan temen se-kost, saya bisa masih sempat nyuci dan nyetrika. Tugas-2 saya pasrahkan sama temen2; tlg kamu buatin slempang, tolong kamu dengerin berita malam ini, tolong si C carikan aku ini-itu, dll.
Alhamdulillah semua berjalan lancar, termasuk acara nyebur ke sungai Code di belakang Teknik hingga Maghrib juga lancar.
Thursday, September 8, 1994
Opspek 5-8 September 1994
Nama : SUNARDI
nim : 94/96541/TK/19194
telah mengikuti OPSPEK 5-8 September 1994.
alhamdulillah selamat masih hidup heheh stelah mengikuti OPSPEK yang luar biasa berat, terutama saat 2 hari di tingkat fakultas teknik.
Inget;
- Universitas mensyaratkan rambut max 2 cm, eh fakultas maunya max 1 cm
- dijemur diatas pelataran teknik yang masih gersang dan di atas conblock yang sangat panas atas dan bawah sengatan matahari
- diceburkan kedalam sungai code
nim : 94/96541/TK/19194
telah mengikuti OPSPEK 5-8 September 1994.
alhamdulillah selamat masih hidup heheh stelah mengikuti OPSPEK yang luar biasa berat, terutama saat 2 hari di tingkat fakultas teknik.
Inget;
- Universitas mensyaratkan rambut max 2 cm, eh fakultas maunya max 1 cm
- dijemur diatas pelataran teknik yang masih gersang dan di atas conblock yang sangat panas atas dan bawah sengatan matahari
- diceburkan kedalam sungai code
Thursday, September 1, 1994
Konversi, cuma Agama dan Pancasila yg bisa
Kuliah selama satu tahun di Peternakan UGM telah memberikan banyak pengalaman, ilmu, dan nilai yang sangat banyak. Pengalaman dan ilmu takkan hilang, demikian juga nilai saya coba untuk berguna dengan cara konversi. Tapi sayang, yang bisa diakui cuma nilai Agama Islam I (2 SKS) dan Pancasila (2 SKS), yang lainnya takbisa dikonversi, wah....Soalnya, bidang ilmunya jauh, sehingga muatan keilmuannya walaupun masih dasar juga berbeda, atau malah karena dasar itu mesti kuat.
Ya udahlah, nikmati aja, malahan tambah kuat dan ilmu banyak. Seperti Matematika (Pt 2x2SKS, TE 2x3SKS), Fisika (Pt 2x2SKS, TE 2x3SKS), dll. Bahkan ilmu Pengetahuan Lingkungan yg sama2 2 SKS, materi sama, dosen sama dari Pertanian, tetap diminta ambil ulang (khusus matakuliah ini, saya dah tahu resepnya di Peternakan dan alhamdulillah dapat A)
Ya udahlah, nikmati aja, malahan tambah kuat dan ilmu banyak. Seperti Matematika (Pt 2x2SKS, TE 2x3SKS), Fisika (Pt 2x2SKS, TE 2x3SKS), dll. Bahkan ilmu Pengetahuan Lingkungan yg sama2 2 SKS, materi sama, dosen sama dari Pertanian, tetap diminta ambil ulang (khusus matakuliah ini, saya dah tahu resepnya di Peternakan dan alhamdulillah dapat A)
Monday, August 8, 1994
Surat Pengunduran Diri dari Peternakan
Ada peraturan di UGM bahwa mahasiswa tidak boleh ndobel kuliah di 2 jurusan yang berbeda, oleh karenanya saya mesti membuat surat pengunduran diri dari Fakultas Peternakan UGM, surat ditujukan ke Rektor UGM melalui Dekan Fakultas Peternakan.
Kepada Yth. Rektor UGM Yogyakarta
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya;
Nama : SUNARDI
NIM : 93/90849/PT/02999
mohon mengundurkan diri dari Fakultas Peternakan UGM karena diterima di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM untuk tahun akademik 1994/1995.
Atas terkabulnya permohonan ini saya ucapkan banyak terima kasih.
Yogyakarta, 8 Agustus 1994
Hormat saya,
SUNARDI
Kepada Yth. Rektor UGM Yogyakarta
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya;
Nama : SUNARDI
NIM : 93/90849/PT/02999
mohon mengundurkan diri dari Fakultas Peternakan UGM karena diterima di Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM untuk tahun akademik 1994/1995.
Atas terkabulnya permohonan ini saya ucapkan banyak terima kasih.
Yogyakarta, 8 Agustus 1994
Hormat saya,
SUNARDI
Friday, July 8, 1994
Pindah Elektro, UGM pas naik SPP
Momen pindah Elektro bukan momen yang pas untuk hitungan SPP, karena mulai tahun 1994 ini, UGM menaikkan SPP (biasanya SPP 2 tahun sekali naik, yg naik khusus mhs baru).
Nah, pas tahun 1994 ini, SPP naik dari Rp 180.000 menjadi Rp 250.000 (eksakta) dan dari Rp 150.000 menjadi Rp 225.000 (non eksakta). Yah, belum beruntung masuk Elektro tahun lalu.
Kalo gaksalah besaran biaya SPP ini banyak menuai protes dari mahasiswa, tapi tetep dipertahankan. Kompensasinya (gaktahu negosiasi dan dealnya seperti apa), besaran SPP ini bertahan sangat lama (tidak dinaikkan) dalam jangka 4/5 tahun kedepan,
Nah, pas tahun 1994 ini, SPP naik dari Rp 180.000 menjadi Rp 250.000 (eksakta) dan dari Rp 150.000 menjadi Rp 225.000 (non eksakta). Yah, belum beruntung masuk Elektro tahun lalu.
Kalo gaksalah besaran biaya SPP ini banyak menuai protes dari mahasiswa, tapi tetep dipertahankan. Kompensasinya (gaktahu negosiasi dan dealnya seperti apa), besaran SPP ini bertahan sangat lama (tidak dinaikkan) dalam jangka 4/5 tahun kedepan,
Thursday, July 7, 1994
Diterima S1 Teknik Elektro UGM
Ditemani Baihaqi, temen setiaku....
Pagi-pagi kami jalan2 olahraga (jalan kaki beneran) dari kost di Karangmalang menuju Kantor Pusat UGM sambil mau minta koran gratis yang memuat pengumuman kelulusan UMPTN 94.
Dag-dig-dug rasanya hati ini, tetep di Peternakan, pindah Elektro, atau pindah KU. Semua tentu ada plus minusnya, pasrahkan Allah pilihkan terbaik utk saya, insyaAllah.
Dan akhirnya, alhamdulillah, tertulis nama SUNARDI sebagai salah seorang yang diterima di S1 Teknik Elektro UGM, cocok dengan nomor ujian yang sama miliki....
Alhamdulillahi rabbil aalamien. Girangnya hatiku, berbunga-bunga berjalan kaki kembali ke KarangMalang dengan penuh kebahagiaan.
Namun sayang, temen seperjuangan sekamar Teguh tidak ketrima, ikhtiar dan doa setahun terakhir bukan sia2, tapi mungkin Peternakan itulah yg terbaik utkmu
Pagi-pagi kami jalan2 olahraga (jalan kaki beneran) dari kost di Karangmalang menuju Kantor Pusat UGM sambil mau minta koran gratis yang memuat pengumuman kelulusan UMPTN 94.
Dag-dig-dug rasanya hati ini, tetep di Peternakan, pindah Elektro, atau pindah KU. Semua tentu ada plus minusnya, pasrahkan Allah pilihkan terbaik utk saya, insyaAllah.
Dan akhirnya, alhamdulillah, tertulis nama SUNARDI sebagai salah seorang yang diterima di S1 Teknik Elektro UGM, cocok dengan nomor ujian yang sama miliki....
Alhamdulillahi rabbil aalamien. Girangnya hatiku, berbunga-bunga berjalan kaki kembali ke KarangMalang dengan penuh kebahagiaan.
Namun sayang, temen seperjuangan sekamar Teguh tidak ketrima, ikhtiar dan doa setahun terakhir bukan sia2, tapi mungkin Peternakan itulah yg terbaik utkmu
Wednesday, June 1, 1994
Milih Elektro lagi atau cita2 awal ambil Kedokteran
Setelah memastikan dan memutuskan ambil formulir, tibalah saatnya kebimbangan muncul lagi. Mau milih jurusan apa? Mau pindah kemana??? UGM jelas, mau pindah niversitas mana lagi yang lebih baik dan relatif dekat Sragen, cuma jurusan apa masih bingung.
Sama seperti halnya tahun lalu yang bingung milih jurusan, cuma sekarang sedikit lebih paham tentang jurusan-2 yang ada di UGM. Yang jelas saya hanya perlu milih 2 jurusan IPA di UGM.
Selain Peternakan, jurusan IPA di UGM serasa tidak ada yang sangat menarik bagiku; MIPA, Kehutanan, Pertanian, Kedokteran Hewan, Kedokteran Gigi, Kedokteran Umum (KU).
Eh, setelah saya fikir2, saya teringat bahwa dulu saat kelas 2 SMA, selain ingin jadi Guru Matematika/Fisika saya sempat pernah punya cita-cita jadi dokter, apa sekarang saatnya saya ndaftar KU ya. Saya pikir2, saya khan sudah kuliah dengan menghafal banyak bahasa latin di Peternakan, paling di KU juga lebih kurang sama ngapalin2 juga. Cuma, daripada susah2 ngapalin kuliah di Peternakan, mending KU aja ya.
Tapi kalo ntar bisa masuk KU tapi nggak bisa lulus karena susahnya, gimana? Yah, kuliah dimanapun kemungkinan gakbisa lulus itu selalu ada, Okelah akhirnya mantap diambil.... ya dapat 1. KU. Eh, tapi takut dengan darah dan orang mati nggakbisa ilang, gimana nih....sementara biaran aja, ntar lama-2 juga nggak takut hehe
Saatnya kembali milih Teknik, tak ada lain selain Teknik Elektro (TE). Selain bergengsi (denger2 persaingannya paling ketat), yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Berarti T. Arsitektur, T. Sipil, T. Mesin, T. Geodesi, T. Geologi gak masuk.
T Kimia juga tidak masuk perhitungan (walaupun tidak ada nggambarnya) karena tidak suka pelajaran Kimia. Nuklir, takut, lagian daya tampungnya dikit, ntar temennya juga dikit. Wah, pilihan di Teknik terbatas sekali. Elektro lah satu-satunya, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak. Ohya, kata temen di Elektro ntar ambil arus kuat aja, nggak ada elektronikanya hehehe.
Okelah dapat pilihan 1 lagi; Teknik Elektro akan kucoba lagi..
Akhirnya mantaplah sudah, sudah punya pilihan 1. KU dan pilihan 2. TE.
Tibalah mendekati hari untuk mengembalikan formulir pendaftaran, kebimbanganlagi-lagi hadir.
Kalo KU nomor 1, ntara gimana kalo ketrima, apa mau susah2 ngapalin istilah latin lagi, dan dijamin lebih sulit dan lebih seabrek, apalagi ada darah, orang mati, hi... takut. Denger2 juga, pilihan 1-2 KU dan TE tuch kebalik, mestinya pilihan 1-2 TE-KU sesuai dengan persaingan masuk yang lebih susah/ketat. Padahal takada yang tahu sebenarnya mana yang lebih tinggi/susah persainggannya, dan bisa jadi selalu berubah setiap tahun. Wah jadi bingung nih.
Ya Allah, gimana nih..... akhirnya keputusan saya ambil setelah sholat shubuh di Masjid Karang Malang, yah, saya harus mantap, milih sesuai urutan yang dianggap orang2 bener, 1. TE, 2. KU. Keduanya sama susahnya, pasrahkan pada Allah, kalo sekiranya TE terbaik bagi diriku, masukkan saya di pilihan 1. Jika terbaik KU bagi diriku, masukkan pilihan 2. Jika keduanya tidak baik bagi diriku, ya Peternakan tempat saya.
Sama seperti halnya tahun lalu yang bingung milih jurusan, cuma sekarang sedikit lebih paham tentang jurusan-2 yang ada di UGM. Yang jelas saya hanya perlu milih 2 jurusan IPA di UGM.
Selain Peternakan, jurusan IPA di UGM serasa tidak ada yang sangat menarik bagiku; MIPA, Kehutanan, Pertanian, Kedokteran Hewan, Kedokteran Gigi, Kedokteran Umum (KU).
Eh, setelah saya fikir2, saya teringat bahwa dulu saat kelas 2 SMA, selain ingin jadi Guru Matematika/Fisika saya sempat pernah punya cita-cita jadi dokter, apa sekarang saatnya saya ndaftar KU ya. Saya pikir2, saya khan sudah kuliah dengan menghafal banyak bahasa latin di Peternakan, paling di KU juga lebih kurang sama ngapalin2 juga. Cuma, daripada susah2 ngapalin kuliah di Peternakan, mending KU aja ya.
Tapi kalo ntar bisa masuk KU tapi nggak bisa lulus karena susahnya, gimana? Yah, kuliah dimanapun kemungkinan gakbisa lulus itu selalu ada, Okelah akhirnya mantap diambil.... ya dapat 1. KU. Eh, tapi takut dengan darah dan orang mati nggakbisa ilang, gimana nih....sementara biaran aja, ntar lama-2 juga nggak takut hehe
Saatnya kembali milih Teknik, tak ada lain selain Teknik Elektro (TE). Selain bergengsi (denger2 persaingannya paling ketat), yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Berarti T. Arsitektur, T. Sipil, T. Mesin, T. Geodesi, T. Geologi gak masuk.
T Kimia juga tidak masuk perhitungan (walaupun tidak ada nggambarnya) karena tidak suka pelajaran Kimia. Nuklir, takut, lagian daya tampungnya dikit, ntar temennya juga dikit. Wah, pilihan di Teknik terbatas sekali. Elektro lah satu-satunya, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak. Ohya, kata temen di Elektro ntar ambil arus kuat aja, nggak ada elektronikanya hehehe.
Okelah dapat pilihan 1 lagi; Teknik Elektro akan kucoba lagi..
Akhirnya mantaplah sudah, sudah punya pilihan 1. KU dan pilihan 2. TE.
Tibalah mendekati hari untuk mengembalikan formulir pendaftaran, kebimbanganlagi-lagi hadir.
Kalo KU nomor 1, ntara gimana kalo ketrima, apa mau susah2 ngapalin istilah latin lagi, dan dijamin lebih sulit dan lebih seabrek, apalagi ada darah, orang mati, hi... takut. Denger2 juga, pilihan 1-2 KU dan TE tuch kebalik, mestinya pilihan 1-2 TE-KU sesuai dengan persaingan masuk yang lebih susah/ketat. Padahal takada yang tahu sebenarnya mana yang lebih tinggi/susah persainggannya, dan bisa jadi selalu berubah setiap tahun. Wah jadi bingung nih.
Ya Allah, gimana nih..... akhirnya keputusan saya ambil setelah sholat shubuh di Masjid Karang Malang, yah, saya harus mantap, milih sesuai urutan yang dianggap orang2 bener, 1. TE, 2. KU. Keduanya sama susahnya, pasrahkan pada Allah, kalo sekiranya TE terbaik bagi diriku, masukkan saya di pilihan 1. Jika terbaik KU bagi diriku, masukkan pilihan 2. Jika keduanya tidak baik bagi diriku, ya Peternakan tempat saya.
Wednesday, May 25, 1994
Tak terencana dg baik, eh ikut UMPTN lagi
Perjalanan hampir setahun kuliah di Fakultas Peternakan UGM, rasanya diri ini sudah mantap, sudah pas, kecuali utk satu hal yang menjadi momok saya, yaitu HAFALAN istilah latin.
Teguh Widagdo asal Pati, temen kuliah dan temen sekamar, sudah sedari awal masuk kuliah takbegitu berminat. Dia sudah punya keinginan kuat untuk UMPTN lagi. Tahun 1992 dan 1993 dia dah nyoba menjadikan pilihan utama Teknik Kimia, tapi selalau gak lolos dan 1994 keterima pilihan kedua Peternakan. Tahun 1994 dia masih belum patah arang dan berniat mendaftar lagi. Akhirnya kuliah di Peternakan dia nomorduakan, dia lebih fokus untuk belajar soal-soal dan mempersiapkan UMPTN 1994.
Lain halnya dengan diriku, sekali ndaftar UMPTN 1993 Teknik Elektro UGM sbg pilihan pertama kok gak keterima dan akhirnya keterima di Peternakan UGM, rasanya saya sudah mantap dan bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan selama ini. Saya hanya ingin fokus study aja, nggak mau sibuk mikir ndaftar lagi, rasanya sudah banyak waktu, tenaga, pikiran yang saya curahkan selama 2 semester, masak mau saya tinggalkan percuma.
Namun, pikiran itu berubah. Disaat Teguh dengan semangatnya mengambil formulir UMPTN, saya kok berfikir ulang; ndaftar gak ya, daftar gak ya.........
berkecamuk fikiran di dalam hatiku beserta dorongan2;
- Ndaftar aja belum tentu ketrima, apalagi kalo nggak daftar ya nggak mungkin ketrima.
- Saya nggak mau merasa bersalah karena tidak mau mencoba untuk kedua kali, siapa tahu pertama gagal, kedua berhasil.
- Apa salahnya nyoba ndaftar, ketrima syukur, nggak ketrima ya gakpapa
- Jika ndaftar dan akhirnya ketrima, silakan, masih ada waktu untuk mikir dan milih pindah atau tetap di Peternakan, kalo nggak daftar ya nggak ada pilihan lain
- Untuk menghindari (siapa tahu) kelak menyesal kuliah di Peternakan, mumpung masih memungkinkan, coba aja daftar. Yang penting pernah berusaha selagi ada kesempatan.
Akhirnya kuputuskan ambil formulir UMPTN di UGM dengan pilihan IPA, kalo gaksalah bayar formulir Rp 35.000. berarti keputusan ini hanya sekira 2 atau 3 minggu sebelum UMPTN dilaksanakan.
Bismillah, smg Allah pilihkan yang terbaik bagi diriku.
Teguh Widagdo asal Pati, temen kuliah dan temen sekamar, sudah sedari awal masuk kuliah takbegitu berminat. Dia sudah punya keinginan kuat untuk UMPTN lagi. Tahun 1992 dan 1993 dia dah nyoba menjadikan pilihan utama Teknik Kimia, tapi selalau gak lolos dan 1994 keterima pilihan kedua Peternakan. Tahun 1994 dia masih belum patah arang dan berniat mendaftar lagi. Akhirnya kuliah di Peternakan dia nomorduakan, dia lebih fokus untuk belajar soal-soal dan mempersiapkan UMPTN 1994.
Lain halnya dengan diriku, sekali ndaftar UMPTN 1993 Teknik Elektro UGM sbg pilihan pertama kok gak keterima dan akhirnya keterima di Peternakan UGM, rasanya saya sudah mantap dan bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan selama ini. Saya hanya ingin fokus study aja, nggak mau sibuk mikir ndaftar lagi, rasanya sudah banyak waktu, tenaga, pikiran yang saya curahkan selama 2 semester, masak mau saya tinggalkan percuma.
Namun, pikiran itu berubah. Disaat Teguh dengan semangatnya mengambil formulir UMPTN, saya kok berfikir ulang; ndaftar gak ya, daftar gak ya.........
berkecamuk fikiran di dalam hatiku beserta dorongan2;
- Ndaftar aja belum tentu ketrima, apalagi kalo nggak daftar ya nggak mungkin ketrima.
- Saya nggak mau merasa bersalah karena tidak mau mencoba untuk kedua kali, siapa tahu pertama gagal, kedua berhasil.
- Apa salahnya nyoba ndaftar, ketrima syukur, nggak ketrima ya gakpapa
- Jika ndaftar dan akhirnya ketrima, silakan, masih ada waktu untuk mikir dan milih pindah atau tetap di Peternakan, kalo nggak daftar ya nggak ada pilihan lain
- Untuk menghindari (siapa tahu) kelak menyesal kuliah di Peternakan, mumpung masih memungkinkan, coba aja daftar. Yang penting pernah berusaha selagi ada kesempatan.
Akhirnya kuputuskan ambil formulir UMPTN di UGM dengan pilihan IPA, kalo gaksalah bayar formulir Rp 35.000. berarti keputusan ini hanya sekira 2 atau 3 minggu sebelum UMPTN dilaksanakan.
Bismillah, smg Allah pilihkan yang terbaik bagi diriku.
Monday, April 4, 1994
Susahnya menghafal banyak istilah latin
Kuliah di Peternakan sebenarnya banyak enaknya juga. Temen-temennya ramah dan baik hati, mungkin karena kebanyakan dari kampung seperti diriku. Sehingga pola hidup dll
lebih kurang sama.
Secara keilmuan, saya juga suka dengan berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan. Sedari awal saya sudah mantap akan masuk jurusan Budidaya Peternakan. Saya mau mengembangkan diri pada usaha peternakan.
Namun sayang, ilmunya tidak seperti yang saya harapkan dalam hal-hal praktis bagaimana membudidayakan ternak. Yang banyak malah menghafal istilah-istilah latin yang sedemikian banyaknya, terutama pada di Mata Kuliah Zoologi, Botani.
Apalagi praktikum Zoologi (semester 1) dilaksanakan di Fakultas Biologi, asisten praktikum galak-galak, serasa opsek terus setiap praktikum. Saking susahnya, saking tegangnya, nilai pretest (ujian sebelum praktikum) selalu dapat nilai jelek. Bahkan satu ketika, karena baru mendadak balik dari Sragen, waktu menghafal kurang, hafalan rontok semua di jalan, jadilah bobrok nilaiku.
Kalau Praktikum Botani, walaupun di Biologi, suasananya lain (semester 2), asistennya enak, santai, dan helpfull. Kalo lihat preparat pakai mikroskop nggak bisa lihat, tinggal panggil mbak asisten, dengan senang hati dia akan membantu menemukan sebenarnya apa yang akan kita cari dan lihat.
Ada juga kuliah tapi ada nggambarnya, wah malu nggak bisa nggambar. Diminta dosen menggambar kerbau, eh jadinya kok kayak gambar kucing hehehe.
Yang mengasyikkan di tahun pertama malah adanya Mata Kuliah Dasar berupa Fisika dan Matematika. Serasa kayak di SMA, walaupun lebih rumit tapi bisa dinikmati, tapi ada pula Kuliah Kimia, nah ini juga susah banget.
lebih kurang sama.
Secara keilmuan, saya juga suka dengan berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan. Sedari awal saya sudah mantap akan masuk jurusan Budidaya Peternakan. Saya mau mengembangkan diri pada usaha peternakan.
Namun sayang, ilmunya tidak seperti yang saya harapkan dalam hal-hal praktis bagaimana membudidayakan ternak. Yang banyak malah menghafal istilah-istilah latin yang sedemikian banyaknya, terutama pada di Mata Kuliah Zoologi, Botani.
Apalagi praktikum Zoologi (semester 1) dilaksanakan di Fakultas Biologi, asisten praktikum galak-galak, serasa opsek terus setiap praktikum. Saking susahnya, saking tegangnya, nilai pretest (ujian sebelum praktikum) selalu dapat nilai jelek. Bahkan satu ketika, karena baru mendadak balik dari Sragen, waktu menghafal kurang, hafalan rontok semua di jalan, jadilah bobrok nilaiku.
Kalau Praktikum Botani, walaupun di Biologi, suasananya lain (semester 2), asistennya enak, santai, dan helpfull. Kalo lihat preparat pakai mikroskop nggak bisa lihat, tinggal panggil mbak asisten, dengan senang hati dia akan membantu menemukan sebenarnya apa yang akan kita cari dan lihat.
Ada juga kuliah tapi ada nggambarnya, wah malu nggak bisa nggambar. Diminta dosen menggambar kerbau, eh jadinya kok kayak gambar kucing hehehe.
Yang mengasyikkan di tahun pertama malah adanya Mata Kuliah Dasar berupa Fisika dan Matematika. Serasa kayak di SMA, walaupun lebih rumit tapi bisa dinikmati, tapi ada pula Kuliah Kimia, nah ini juga susah banget.
Sunday, October 10, 1993
kost 2; Karangmalang E22
Sebulan bersama Ibnu Mashar dan Warsito di Karangasem, status saya masih numpang. Benernya kamar cuma 4, tapi yang kost mana yang numpang mana saya sendiri juga gakbegitu jelas. Sedemikian akrabnya mereka sehingga seolah sudah menjadi sebuah keluarga. Banayakn sudah semester tua, ada yg dari Teknik, Kehutanan, dll.
Bagi saya, karena numpang harus segera mencari kost yang definitif. Saatnya kost yang saya idamkan datang. Saat itu berawal dari adanya bimbingan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan setiap Ahad oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalam Sie Kerohanian Islam (SKI) Fak Peternakan. Dalam 1 forum diskusi kecil, saat ta'aruf/perkenalan dengan teman2, termasuk tentang kost, akhirnya saya diajak oleh salah satu mereka untuk bergabung di tempat kost yang saya inginkan.
Teguh Widagdo, itulah temen saya itu berasal dari Pati, mengajak kost bareng di Karangmalang E22. Kita akhirnya menyewa 1 kamar dengan sewa Rp 250.000/tahun ditanggung berdua. Rumah bagian belakang ditempati oleh tuan rumah. Kost bentuknya ada rumah depan, ada 6 kamar kebanyakan diisi @ 2 orang dan kebanyak mhs IKIP Negeri (Karangmalang memang berdampingan dengan IKIP, juga di belakang Fpeternakan UGM). Teringat Ikhsan Gunungkidul (Math IKIP 92), Untung Klaten (Sastra Jawa 93), Muniroh Salatiga (laki2 lho, Kimia IKIP 94), juga ada Mufti Pemalang (Peternakan 93 juga).
Ada juga kost yang lebih banyak lagi posisi bangunannya di depan samping kiri (mungkin 10-an kamar). Salah satu yang paling akrab adalah Baihaqi dari Pekalongan (kelak hingga berpuluh2 tahun kami tetep akrab).
Ada juga kost putri, posisi bangunannya depan kanan, tapi alhamdulillah kami dijaga betul sama tuan rumah untuk tidak berhubungan dengan mereka, alias kita betul2 terjaga dari hal2 yang tidak diinginkan, bahkan kenal mereka pun tidak.
Alhamdulillah, dah dapt kost sesuai yang diinginkan. Walaupun kost 2 x 3meter berdua, berdinding tripleks, beralaskan tikar, kami bisa menikmatinya
Bagi saya, karena numpang harus segera mencari kost yang definitif. Saatnya kost yang saya idamkan datang. Saat itu berawal dari adanya bimbingan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang diselenggarakan setiap Ahad oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalam Sie Kerohanian Islam (SKI) Fak Peternakan. Dalam 1 forum diskusi kecil, saat ta'aruf/perkenalan dengan teman2, termasuk tentang kost, akhirnya saya diajak oleh salah satu mereka untuk bergabung di tempat kost yang saya inginkan.
Teguh Widagdo, itulah temen saya itu berasal dari Pati, mengajak kost bareng di Karangmalang E22. Kita akhirnya menyewa 1 kamar dengan sewa Rp 250.000/tahun ditanggung berdua. Rumah bagian belakang ditempati oleh tuan rumah. Kost bentuknya ada rumah depan, ada 6 kamar kebanyakan diisi @ 2 orang dan kebanyak mhs IKIP Negeri (Karangmalang memang berdampingan dengan IKIP, juga di belakang Fpeternakan UGM). Teringat Ikhsan Gunungkidul (Math IKIP 92), Untung Klaten (Sastra Jawa 93), Muniroh Salatiga (laki2 lho, Kimia IKIP 94), juga ada Mufti Pemalang (Peternakan 93 juga).
Ada juga kost yang lebih banyak lagi posisi bangunannya di depan samping kiri (mungkin 10-an kamar). Salah satu yang paling akrab adalah Baihaqi dari Pekalongan (kelak hingga berpuluh2 tahun kami tetep akrab).
Ada juga kost putri, posisi bangunannya depan kanan, tapi alhamdulillah kami dijaga betul sama tuan rumah untuk tidak berhubungan dengan mereka, alias kita betul2 terjaga dari hal2 yang tidak diinginkan, bahkan kenal mereka pun tidak.
Alhamdulillah, dah dapt kost sesuai yang diinginkan. Walaupun kost 2 x 3meter berdua, berdinding tripleks, beralaskan tikar, kami bisa menikmatinya
Monday, September 6, 1993
Opspek 6-9 September 1993
Opsepek = Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus.
Setelah melalui dan mengalami sendiri, ternyata baru tahu....o...opspek begini toh, pantesan banyak yang membicarakan dan berpendapat terlalu berat dan mesti dievaluasi keberadaannya.
Setiap kampus mungkin berbeda menu kegiatan dan jangka waktunya, tapi di UGM dilaksanakan dalam 4 hari, yang terbagi kedalam 2 hari Universitas dan 2 hari fakultas dengan pola U-F-F-U.
Hal-hal yang kaged dan tidak mengenakkan sebagai ujian mental selama Opspek;
1. Saat datang hari pertama ke fakultas utk dikumpulkan dan digiring ke Universitas, saya berjalan dengan santainya seperti penataran P4. Eh lha kok dibentak2 sama kakak kelas, ada apa tho ini, terlambat dikit aja lho, salah saya apa, pikirku seperti itu
2. Saat saya angkat jari menjawab siapa yg belum sarapan dengan harapan dikasihani dan tak dihukum berat, eh malah dibentak lebih keras dan dihukum tambahan, piye tho iki
3. Saat dikumpulkan di lapangan tingkat universitas, saya tidak dapat kelompok, karena warna pink saya beda dengan warna pink lainnya, waduh... kayak buta warna aja nih (saya gak tahu warna-warna, tanya penjual bilang pink dikasih merah ya manut aja)
Setelah melalui dan mengalami sendiri, ternyata baru tahu....o...opspek begini toh, pantesan banyak yang membicarakan dan berpendapat terlalu berat dan mesti dievaluasi keberadaannya.
Setiap kampus mungkin berbeda menu kegiatan dan jangka waktunya, tapi di UGM dilaksanakan dalam 4 hari, yang terbagi kedalam 2 hari Universitas dan 2 hari fakultas dengan pola U-F-F-U.
Hal-hal yang kaged dan tidak mengenakkan sebagai ujian mental selama Opspek;
1. Saat datang hari pertama ke fakultas utk dikumpulkan dan digiring ke Universitas, saya berjalan dengan santainya seperti penataran P4. Eh lha kok dibentak2 sama kakak kelas, ada apa tho ini, terlambat dikit aja lho, salah saya apa, pikirku seperti itu
2. Saat saya angkat jari menjawab siapa yg belum sarapan dengan harapan dikasihani dan tak dihukum berat, eh malah dibentak lebih keras dan dihukum tambahan, piye tho iki
3. Saat dikumpulkan di lapangan tingkat universitas, saya tidak dapat kelompok, karena warna pink saya beda dengan warna pink lainnya, waduh... kayak buta warna aja nih (saya gak tahu warna-warna, tanya penjual bilang pink dikasih merah ya manut aja)
Sunday, September 5, 1993
OPSPEK itu apaan sich
Sewaktu penataran P4, banyak temen2 yang sering mengungkit dan menanyakan tentang OPSPEK yang dikatakan sebagai kurang baik dan perlu perbaikan.
Sering saya mendengarkan kata-kata Opspek, tapi sebenarnya saya tak paham dan kurang tertarik utk mencari makna yang sebenarnya.
Saya baru tahu sedikit setelah penataran P4 selesai dan kemudian dilanjutkan Opsepk. Sehari menjelang opspek, kami dikumpulkan oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas. oh...Opspek itu kayak penataran, tapi ada tugas2 yang mesti dikerjakan, tidak seperti P4 yg hanya duduk dan mendengarkan, sederhana pikirku sampai saat ini.
Okelah, takmasalah, walaupun ada yang sedikit rada aneh-aneh;
- buat tas dari karung gandum, kenapa mesti demikian
- pakai topi desain khusus (=aneh2)
- buat papan nama sendiri di dada, tapi besar banget
- buat potongan lambang UGM
- bawa telor mentah dan mateng
- pakai kaos (fakultas), baju putih panjang (universitas)
- gak boleh ini itu
Benernya Opspek itu kegiatan apaan sich heheh mulai bingung dech
Sering saya mendengarkan kata-kata Opspek, tapi sebenarnya saya tak paham dan kurang tertarik utk mencari makna yang sebenarnya.
Saya baru tahu sedikit setelah penataran P4 selesai dan kemudian dilanjutkan Opsepk. Sehari menjelang opspek, kami dikumpulkan oleh kakak-kakak kelas yang tergabung dalama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), baik di tingkat fakultas maupun tingkat universitas. oh...Opspek itu kayak penataran, tapi ada tugas2 yang mesti dikerjakan, tidak seperti P4 yg hanya duduk dan mendengarkan, sederhana pikirku sampai saat ini.
Okelah, takmasalah, walaupun ada yang sedikit rada aneh-aneh;
- buat tas dari karung gandum, kenapa mesti demikian
- pakai topi desain khusus (=aneh2)
- buat papan nama sendiri di dada, tapi besar banget
- buat potongan lambang UGM
- bawa telor mentah dan mateng
- pakai kaos (fakultas), baju putih panjang (universitas)
- gak boleh ini itu
Benernya Opspek itu kegiatan apaan sich heheh mulai bingung dech
Wednesday, September 1, 1993
kost 1; susahnya cari kost yg sesuai
Memasuki masa perkuliahan di UGM, salah satu kesulitan yang saya alami adalah mencari tempat kost.
Berawal dari keinginan untuk selalu bersama orang tua yang akan menjadi benteng pergaulan, saya menginginkan kost seperti saat masih SMA, yaitu kost yang serumah dengan tuan rumah. Maunya kost dengan bentuk rumah. Bukan kost-kostan yang berderet panjang, takkenal dan cuek siapa2 teman kost atau tuan rumah. Satu lagi, syaratnya adalah harga terjangkau bagi kami sebagai anak petani desa.
Tempat yang saya idamkan saat itu sulit saya dapatkan, berhari2 keliling sekitar kampus Peternakan UGM tak saya dapatkan, bahkan satu ketika saya ajak Mas Sarjono muter2 seharianpun juga takda hasil.
Akhirnya, karena takada yang ideal, pilihan jatuh pada kost2an kecil dengan hanya 4 kamar, walaupun bukan berbentuk rumah dengan tuan rumah, kumpulan orang2 yang sholeh saya dapatkan, mudah2an saya ikut terbawa dalam arus kesholehan, amien. Kost terletak di Karangasem berdasar ajakan Ibnu Mashar temen Peternakan 93 (dulu SMAN 1 Sragen juga, seangkatan tapi tidak kenal saat SMA). Senengnya lagi, selain saya dan Ibnu, ada juga Warsito (Klaten) yang sama2 1 kelas, sehingga bisa belajar bareng dan kuliah bareng.
Berawal dari keinginan untuk selalu bersama orang tua yang akan menjadi benteng pergaulan, saya menginginkan kost seperti saat masih SMA, yaitu kost yang serumah dengan tuan rumah. Maunya kost dengan bentuk rumah. Bukan kost-kostan yang berderet panjang, takkenal dan cuek siapa2 teman kost atau tuan rumah. Satu lagi, syaratnya adalah harga terjangkau bagi kami sebagai anak petani desa.
Tempat yang saya idamkan saat itu sulit saya dapatkan, berhari2 keliling sekitar kampus Peternakan UGM tak saya dapatkan, bahkan satu ketika saya ajak Mas Sarjono muter2 seharianpun juga takda hasil.
Akhirnya, karena takada yang ideal, pilihan jatuh pada kost2an kecil dengan hanya 4 kamar, walaupun bukan berbentuk rumah dengan tuan rumah, kumpulan orang2 yang sholeh saya dapatkan, mudah2an saya ikut terbawa dalam arus kesholehan, amien. Kost terletak di Karangasem berdasar ajakan Ibnu Mashar temen Peternakan 93 (dulu SMAN 1 Sragen juga, seangkatan tapi tidak kenal saat SMA). Senengnya lagi, selain saya dan Ibnu, ada juga Warsito (Klaten) yang sama2 1 kelas, sehingga bisa belajar bareng dan kuliah bareng.
Monday, August 23, 1993
Penataran P4: 23/08 - 09/09 1993
Mengawali aktivitas sebagai mahasiswa baru UGM, Penataran P4 pola 100 jam yang melelahkan siap dilaksanakan.
23 Agustus s.d 9 September 1993 (termasuk 6-9 September OPSPEK)
NAMA : SUNARDI
NOMOR MHS ; 93/90849/PT/02999
23 Agustus s.d 9 September 1993 (termasuk 6-9 September OPSPEK)
NAMA : SUNARDI
NOMOR MHS ; 93/90849/PT/02999
Monday, August 16, 1993
Jual sapi utk biaya kuliah
Berita ketrima kuliah sangat membahagiakan bagi keluarga kami. Disatu sisi, sedih bagaimana kami ahrus membiayai biaya kuliah yang tidak murah, belum lagi kost, dan biaya hidup.
SPP UGM per semester waktu itu adalah Rp 180.000 (Eksakta) dan Rp 150.000 (non eksakta). Lebih murah UNS (tempat kuliah mas Sarjono) Spp cuma Rp 120.000 (angkatan 1990). Kost murah-murahan seadanya di Jogja kita prediksi sekira Rp 200.000/tahun. Belum lagi biaya makan minum,biaya praktikum dan tugas kuliah ini itu, takterbayangkan betapa mahal ongkos kuliah bagi kami.
Saat itu, keluarga tidak punya cukup uang, akhirnya yang bisa diandalkan adalah menjual sapi (tepatnya anak sapi) satu2nya hewan peliharaan yang kami miliki. Teringat, bapak menuntun sapi didepan, saya berjalan membawa kayu utk menggiring sapi ke pasar Sukodono, trenyuh saya sedemikian pengorbanan orangtua untuk membiayai anak sekolah.
Semoga kelak berhasil, membahagiakan orangtua yg telah susah payah segalanya untuk kita, amien.
SPP UGM per semester waktu itu adalah Rp 180.000 (Eksakta) dan Rp 150.000 (non eksakta). Lebih murah UNS (tempat kuliah mas Sarjono) Spp cuma Rp 120.000 (angkatan 1990). Kost murah-murahan seadanya di Jogja kita prediksi sekira Rp 200.000/tahun. Belum lagi biaya makan minum,biaya praktikum dan tugas kuliah ini itu, takterbayangkan betapa mahal ongkos kuliah bagi kami.
Saat itu, keluarga tidak punya cukup uang, akhirnya yang bisa diandalkan adalah menjual sapi (tepatnya anak sapi) satu2nya hewan peliharaan yang kami miliki. Teringat, bapak menuntun sapi didepan, saya berjalan membawa kayu utk menggiring sapi ke pasar Sukodono, trenyuh saya sedemikian pengorbanan orangtua untuk membiayai anak sekolah.
Semoga kelak berhasil, membahagiakan orangtua yg telah susah payah segalanya untuk kita, amien.
Sunday, August 15, 1993
Diterima di Fak. Peternakan UGM
Berhari-hari saya pening kepala memikirkan jalan hidupo saya mau kemana jika sampai UMPTN tidak keterima. Sekolah di PTS jelas tidak mungkin karena orangtua hanya mau menyekolahkan jika hanya keterima di PTN (itupun sudah dengan ngos-ngosan bayarnya). Saya hanya bisa menantikan detik2 pengumuman tiba serasa berdoa semoga keterima, terlebih malam hari menjelang pengumuman saya gakbisa tidur.
Alhamdulillah, kebimbangan akan langkah apa yang saya lalui, terjawab sudah. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mas Sarjono siang hari sepulang dari Solo membawa koran yang memuat pengumuman hasil UMPTN 1993. Hasil test UMPTN tercatat nama saya diterima pada pilihan ke-2: Fakultas Peternakan UGM.
Alhamdulillah, berarti saya akan punya aktivitas sebagai seorang mahasiswa, bukan pengangguran, bukan pekerja kasar yang entah apa kerjanya dan dimana. Alhamdulillah
Seakan membenarkan prediksi sebuah lembaga yang pernah mengadakan test psikologi (atau apa ya namanya), bahwa dari hasil test menyatakan saya bisa diterima di Fak. Peternakan UGM maupun IPB.
Adapun pilihan ke-1: Teknik Elektro UGM saya dinyatakan tidak diterima, wah maknanya saya lebih bodoh daripada temen2 TE UGM 93 ya hehe... (apa iya begitu).
Alhamdulillah, kebimbangan akan langkah apa yang saya lalui, terjawab sudah. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mas Sarjono siang hari sepulang dari Solo membawa koran yang memuat pengumuman hasil UMPTN 1993. Hasil test UMPTN tercatat nama saya diterima pada pilihan ke-2: Fakultas Peternakan UGM.
Alhamdulillah, berarti saya akan punya aktivitas sebagai seorang mahasiswa, bukan pengangguran, bukan pekerja kasar yang entah apa kerjanya dan dimana. Alhamdulillah
Seakan membenarkan prediksi sebuah lembaga yang pernah mengadakan test psikologi (atau apa ya namanya), bahwa dari hasil test menyatakan saya bisa diterima di Fak. Peternakan UGM maupun IPB.
Adapun pilihan ke-1: Teknik Elektro UGM saya dinyatakan tidak diterima, wah maknanya saya lebih bodoh daripada temen2 TE UGM 93 ya hehe... (apa iya begitu).
Sunday, August 8, 1993
TIDAK diterima di D3 Teknik Elektro UGM
Salah satu penantian panjang tlah berujung....Namun keberuntungan belum merapat.
Kebahagiaan belum mendekat, saya tidak diterima di D3 Teknik Elektro UGM...
Duh gusti, adhem panas badan saya ketika membaca koran yang tak dijumpai nama saya tertera disana.....Serasa lemas setelah kesana kemari di Sragen mencari koran pengumuman hasil ujian masuk D3 Teknik UGM, lama dicari-cari banyak koran habis, eh begitu dapat, nama pun tak ada, ya Allah sedemikian berat ujian pada diriku ya Allah.
Harapan satu2nya tinggal pengumuman UMPTN seminggu lagi, jika tak ketrima juga, kemana ku melangkah belum pasti, hiks hiks hiks
Kebahagiaan belum mendekat, saya tidak diterima di D3 Teknik Elektro UGM...
Duh gusti, adhem panas badan saya ketika membaca koran yang tak dijumpai nama saya tertera disana.....Serasa lemas setelah kesana kemari di Sragen mencari koran pengumuman hasil ujian masuk D3 Teknik UGM, lama dicari-cari banyak koran habis, eh begitu dapat, nama pun tak ada, ya Allah sedemikian berat ujian pada diriku ya Allah.
Harapan satu2nya tinggal pengumuman UMPTN seminggu lagi, jika tak ketrima juga, kemana ku melangkah belum pasti, hiks hiks hiks
Wednesday, June 30, 1993
IAIN, itu sekolah apa ya?
Saat mendaftar D3 Teknik UGM, Sutarto dkk sudah tidak kost lagi di Jogja. Wah nginap dimana ya?
Putar otak, akhirnya ketemulah ide untuk menumpang sementara di kakaknya Thohir (teman kost kelas 1 dan 2) di timur kampus IAIN. Beliau kuliah di IAIN. Saya yang kuper baru tahu, oh ada tho perguruan tinggi negeri selain yang tercantum dalam daftar Buku Panduan UMPTN. Tenyata IAIN = Institut Agama Islam Negeri (kelak berubah nama menjadi UIN = Universitas Islam Negeri).
Terbayang dalam pikirku; oh ini sekolahnya tentang agama semua, orang2 yang pinter ngaji, ujian ada bahasa Arabnya, dll. Hampir semua kota besar ada IAIN, seperti IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Walisongo Semarang, Sunan Ampel Surabaya, dll.
IAIN berada di bawah koordinasi Departemen Agama, sedang universitas yg tergabung bersama-sama dalam UMPTN di bawah koordinasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
O..... saya yang bodoh dan kuper, tambah ilmu lagi, alhamdulillah baru daftar kuliah di Jogja aja sudah banyak tambah ilmu, apalagi kalo nanti kuliah dan tinggal di Jogja ckckckc...
Putar otak, akhirnya ketemulah ide untuk menumpang sementara di kakaknya Thohir (teman kost kelas 1 dan 2) di timur kampus IAIN. Beliau kuliah di IAIN. Saya yang kuper baru tahu, oh ada tho perguruan tinggi negeri selain yang tercantum dalam daftar Buku Panduan UMPTN. Tenyata IAIN = Institut Agama Islam Negeri (kelak berubah nama menjadi UIN = Universitas Islam Negeri).
Terbayang dalam pikirku; oh ini sekolahnya tentang agama semua, orang2 yang pinter ngaji, ujian ada bahasa Arabnya, dll. Hampir semua kota besar ada IAIN, seperti IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Walisongo Semarang, Sunan Ampel Surabaya, dll.
IAIN berada di bawah koordinasi Departemen Agama, sedang universitas yg tergabung bersama-sama dalam UMPTN di bawah koordinasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
O..... saya yang bodoh dan kuper, tambah ilmu lagi, alhamdulillah baru daftar kuliah di Jogja aja sudah banyak tambah ilmu, apalagi kalo nanti kuliah dan tinggal di Jogja ckckckc...
Thursday, June 24, 1993
UMPTN 23-24 Juni 1993
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) diadakan serentak secara nasional pada tanggal 23 dan 24 Juni 1993.
Saya kebagian tempat ujian di Teknik Sipil UGM.
Hari pertama; Kemampuan Dasar
1. Pancasila (15 soal)
2. Bahasa Indonesia (40 soal)
3. Matematika Dasar (30 soal)
Ujian berlangsung selama 150 menit (09.00-11.30)
Hari kedua; Kemampuan IPA
1. Matematika IPA (10 soal)
2. Fisika (15 soal)
3. Kimia (15 soal)
4. Biologi (15 soal)
5. IPA Terpadu (20 soal)
Ujian berlangsung selama 120 menit (09.00-11.00)
sedangkan Kemampuan IPS 12.00-14.00 (saya gak ikut IPS)
Hasil jian akan dimumkan kira-kira pertengahan Agustus 1993.
Saya kebagian tempat ujian di Teknik Sipil UGM.
Hari pertama; Kemampuan Dasar
1. Pancasila (15 soal)
2. Bahasa Indonesia (40 soal)
3. Matematika Dasar (30 soal)
Ujian berlangsung selama 150 menit (09.00-11.30)
Hari kedua; Kemampuan IPA
1. Matematika IPA (10 soal)
2. Fisika (15 soal)
3. Kimia (15 soal)
4. Biologi (15 soal)
5. IPA Terpadu (20 soal)
Ujian berlangsung selama 120 menit (09.00-11.00)
sedangkan Kemampuan IPS 12.00-14.00 (saya gak ikut IPS)
Hasil jian akan dimumkan kira-kira pertengahan Agustus 1993.
Tuesday, June 22, 1993
Duh Kakiku kayak mati rasa
Sakit kaki; bengkak, agak mati rasa
Saat-saat ini, saya sedang terserang penyakit yang aneh. Kaki bengkak, membesar, lemas, dipijit tidak terasa/mati rasa, jalan kaki tak bertenaga, mesti diseret dikit. Sudah dipijitkan dan diobato dokter dimana-mana belum sembuh.
Teringat sudah disuntik di Puskesmas, tidak sembuh. Ke dokter di Gemolong, tidak sembuh. Ke RS di Solo, tidak sembuh. Alhamdulillah, terakhir bisa sembuh lewat seorang dokter di Batu Jamus.
Masih ingat, suatu sore, 2 hari menjelang UMPTN, saya diajak bapak dengan Yamaha L2Super warna merah ke Batu Jamus. Dokter pasiennya suangat banyak, sehingga antrian sudah sedemikian panjang. Saya dapat antrian ke-61 walah-walah, tengah malam pun bisa jadi belum diobati, padahal dokter juga perlu istirahat. Akhirnya saya disarankan tetep ambil nomor, tapi datangnya besok pagi-pagi saja. Sip, akhirnya kita ikuti saran suster.
Pagi setelah shubuh, saya dan bapak kesana lagi, alhamdulillah antrian belum panjang dan takberapa lama dilayani. Oleh dokter, saya dikatakan sakit yang terkait dengan sistem syaraf. Saya diberondong oleh 8 suntikan sekaligus, 4 di kaki kanan dan 4 di kaki kiri. Walah-walah, kayaknya baru kali ini suntikan yang sedemikian banyak.
Karena besok pagi mau UMPTN di Jogja, maka pagi itu saya langsung naik bus ke Jogja. Alhamdulillah, sampai di Jogja serasa perkembangan kaki sudah sembuh 50% persih, esoknya saat UMPTN seolah sudah sembuh 75%, dan pulang ke Sragen setelah UMPTN hari kedua seolah sudah betul2 sembuh 100%. Alhamdulillah, bersyukur pada-MU...kakiku sudah sembuh seperti sedia kala.
Saat-saat ini, saya sedang terserang penyakit yang aneh. Kaki bengkak, membesar, lemas, dipijit tidak terasa/mati rasa, jalan kaki tak bertenaga, mesti diseret dikit. Sudah dipijitkan dan diobato dokter dimana-mana belum sembuh.
Teringat sudah disuntik di Puskesmas, tidak sembuh. Ke dokter di Gemolong, tidak sembuh. Ke RS di Solo, tidak sembuh. Alhamdulillah, terakhir bisa sembuh lewat seorang dokter di Batu Jamus.
Masih ingat, suatu sore, 2 hari menjelang UMPTN, saya diajak bapak dengan Yamaha L2Super warna merah ke Batu Jamus. Dokter pasiennya suangat banyak, sehingga antrian sudah sedemikian panjang. Saya dapat antrian ke-61 walah-walah, tengah malam pun bisa jadi belum diobati, padahal dokter juga perlu istirahat. Akhirnya saya disarankan tetep ambil nomor, tapi datangnya besok pagi-pagi saja. Sip, akhirnya kita ikuti saran suster.
Pagi setelah shubuh, saya dan bapak kesana lagi, alhamdulillah antrian belum panjang dan takberapa lama dilayani. Oleh dokter, saya dikatakan sakit yang terkait dengan sistem syaraf. Saya diberondong oleh 8 suntikan sekaligus, 4 di kaki kanan dan 4 di kaki kiri. Walah-walah, kayaknya baru kali ini suntikan yang sedemikian banyak.
Karena besok pagi mau UMPTN di Jogja, maka pagi itu saya langsung naik bus ke Jogja. Alhamdulillah, sampai di Jogja serasa perkembangan kaki sudah sembuh 50% persih, esoknya saat UMPTN seolah sudah sembuh 75%, dan pulang ke Sragen setelah UMPTN hari kedua seolah sudah betul2 sembuh 100%. Alhamdulillah, bersyukur pada-MU...kakiku sudah sembuh seperti sedia kala.
Saturday, June 12, 1993
Milih UGM 1. Elektro, 2. Peternakan
Saatnya milih jurusan dalam UMPTN, mau jurusan apa?
rasanya tak ada banyak pilihan, semua susah.
Kalau kampus, pilih yang terbaik dan terdekat aja, UGM Yogyakarta yang paling mungkin. UNS sudah ada Mas Sarjono.
Trus mau milih jurusan apa?
1. Kedokteran Umum (KU) ? keinginan jadi dokter sudah saya lupakan sejak peristiwa tabrakan di depan mata tahun kemarin yang membuatku lari tunggang langgang karena ngeri dan takut darah. Orangtua seneng kalo saya masuk KU, tapi daripada penuh penderitaan waktu kuliah, nggak ah.
2. Guru Fisika atau Matematika? Sementara jadi guru saya kesampingkan karena Mas sarjono sudah ambil FKIP pendidikan Kimia, sudah cukup 1 saudara jadi guru, saya jadi insinyur saja.
3. Pilihan terakhir akhirnya mau jadi insinyur..... (nasib, tahun ini penamaan gelar Ir. dan Drs./Dra. sudah ditiadakan, diganti dengan bidang ilmu. Kalo insinyur teknik diganti Sarjana teknik (ST), kalo insinyur Peternakan diganti Sarjana peternakan (S.Pt.)
Yang paling mudah menentukan pilihan ke-2 dulu, yaitu jadi insinyur Peternakan karena kalo dilihat dari grade/tingkat jurusan termasuk golongan menengah, cocok utk pilihan ke-2, persaingan relatif tidak ketat (daya tampung 95, pelamar tahun 1992: 1269). Ini juga berdasar test psikologi di SMA dan tempat bimbingan belajar, sesuai bakat, minat, dan kemampuan maka saya bisa masuk jurusan Peternakan UGM.
Sekarang pilihan pertama.
Teringat suasana di kelas Fisika, jurusan Teknik selalu menggema dan selalu jadi pembicaraan temen2. Saya ikut melirik kira2 teknik apa yang saya suka, padahal juga belum tahu detail dalamnya. Selidik punya selidik, ada jurusan Teknik Elektro UGM, katanya bergengsi, persaingan paling ketat (daya tampung 92, pelamar taun 1992: 2056). Yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Elektro lah satu-satunya pilihan saat itu, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak.
Okelah, bismillah dah mantep;
pilihan 1; Teknik Elektro UGM
pilihan 2; Peternakan UGM
rasanya tak ada banyak pilihan, semua susah.
Kalau kampus, pilih yang terbaik dan terdekat aja, UGM Yogyakarta yang paling mungkin. UNS sudah ada Mas Sarjono.
Trus mau milih jurusan apa?
1. Kedokteran Umum (KU) ? keinginan jadi dokter sudah saya lupakan sejak peristiwa tabrakan di depan mata tahun kemarin yang membuatku lari tunggang langgang karena ngeri dan takut darah. Orangtua seneng kalo saya masuk KU, tapi daripada penuh penderitaan waktu kuliah, nggak ah.
2. Guru Fisika atau Matematika? Sementara jadi guru saya kesampingkan karena Mas sarjono sudah ambil FKIP pendidikan Kimia, sudah cukup 1 saudara jadi guru, saya jadi insinyur saja.
3. Pilihan terakhir akhirnya mau jadi insinyur..... (nasib, tahun ini penamaan gelar Ir. dan Drs./Dra. sudah ditiadakan, diganti dengan bidang ilmu. Kalo insinyur teknik diganti Sarjana teknik (ST), kalo insinyur Peternakan diganti Sarjana peternakan (S.Pt.)
Yang paling mudah menentukan pilihan ke-2 dulu, yaitu jadi insinyur Peternakan karena kalo dilihat dari grade/tingkat jurusan termasuk golongan menengah, cocok utk pilihan ke-2, persaingan relatif tidak ketat (daya tampung 95, pelamar tahun 1992: 1269). Ini juga berdasar test psikologi di SMA dan tempat bimbingan belajar, sesuai bakat, minat, dan kemampuan maka saya bisa masuk jurusan Peternakan UGM.
Sekarang pilihan pertama.
Teringat suasana di kelas Fisika, jurusan Teknik selalu menggema dan selalu jadi pembicaraan temen2. Saya ikut melirik kira2 teknik apa yang saya suka, padahal juga belum tahu detail dalamnya. Selidik punya selidik, ada jurusan Teknik Elektro UGM, katanya bergengsi, persaingan paling ketat (daya tampung 92, pelamar taun 1992: 2056). Yang lebih penting adalah tidak ada nggambarnya hehe karena saya tidak bisa dan tidak suka menggambar. Elektro lah satu-satunya pilihan saat itu, padahal saya gak suka Elektronika, tapi yah bergengsi dan harapannya besok kerjanya mudah dan enak.
Okelah, bismillah dah mantep;
pilihan 1; Teknik Elektro UGM
pilihan 2; Peternakan UGM
Friday, June 11, 1993
Malioboro, nama apa itu?
Ternyata Sutarto kost bersama dengan temen2 dari SMA1 Sragen juga, temen2ku juga seangkatan, tapi dasar saya kurang gaul, banyak diantara mereka yang tidak saya kenal, demikian pula sebaliknya karena diriku juga tidak terkenal maka mereka juga tidak mengenal diriku...kuper sekali...
Biar pengalaman, ada diantara mereka yang menyuruh saya untuk mengenal Jogja dengan jalan-jalan di Malioboro.... Lagi-lagi karena kuper, saya berpikir; Malioboro iku apa sich. Seingat saya sempat kira-kira tahu dikit ada rokok namanya Marlboro. Apa pabriknya di Jogja ya, pikirku yang memang tak paham....[paham setelah berkali-kali di Jogja, bahwa Malioboro adalah kawasan belanja yang terkenal]. Bahkan ada nyanyian spesial Kla-Project: Jogjakarta (masak gitu aja juga gak tahu, malu jadinya).
Biar pengalaman, ada diantara mereka yang menyuruh saya untuk mengenal Jogja dengan jalan-jalan di Malioboro.... Lagi-lagi karena kuper, saya berpikir; Malioboro iku apa sich. Seingat saya sempat kira-kira tahu dikit ada rokok namanya Marlboro. Apa pabriknya di Jogja ya, pikirku yang memang tak paham....[paham setelah berkali-kali di Jogja, bahwa Malioboro adalah kawasan belanja yang terkenal]. Bahkan ada nyanyian spesial Kla-Project: Jogjakarta (masak gitu aja juga gak tahu, malu jadinya).
Bayar dan Ambil Formulir di UGM
Bayar dan ambil formulir di Sekip (dulu: kompleks D3 Mesin UGM).
Kagednya diriku begitu mengetahui sedemikian mesti antri setelah sholat shubuh dan sedemikian panjang antrian untuk mendapatkan formulir UMPTN...weleh-weleh, sedemikian banyak mau UMPTN semua, semua mau ketrima ckckckck... ini baru di UGM saja, belum di kampus UNS, IKIP, dll.
Udah gitu, baru merasakan betapa ribetnya. Pertama mesti ikut antrian panjang; loket bayar. Dah bayar dapat kuitansi, ikut antrian panjang lagi; loket ambil formulir. Mbok ya dijadikan 1 aja ya lebih simpel; bayar selesai njuk langsung dikasih formulir, khan enak dan cepat. Tapi taulah pertimbangannya apa kok dibuat ribet kayak gitu.
Formulir dibawa pulang untuk diisi di rumah, dalam formulir sudah ada ketentuan, nomor anda sekian, sehingga anda terjadwal balikin formulir kapan, tempatnya mbalikin formulir di Gedung Fisipol lama.
Kagednya diriku begitu mengetahui sedemikian mesti antri setelah sholat shubuh dan sedemikian panjang antrian untuk mendapatkan formulir UMPTN...weleh-weleh, sedemikian banyak mau UMPTN semua, semua mau ketrima ckckckck... ini baru di UGM saja, belum di kampus UNS, IKIP, dll.
Udah gitu, baru merasakan betapa ribetnya. Pertama mesti ikut antrian panjang; loket bayar. Dah bayar dapat kuitansi, ikut antrian panjang lagi; loket ambil formulir. Mbok ya dijadikan 1 aja ya lebih simpel; bayar selesai njuk langsung dikasih formulir, khan enak dan cepat. Tapi taulah pertimbangannya apa kok dibuat ribet kayak gitu.
Formulir dibawa pulang untuk diisi di rumah, dalam formulir sudah ada ketentuan, nomor anda sekian, sehingga anda terjadwal balikin formulir kapan, tempatnya mbalikin formulir di Gedung Fisipol lama.
Thursday, June 10, 1993
Jadwal pendaftaran UMPTN 1993
Berikut Jadwal Pendaftaran UMPTN 1993
1. Pembayaran biaya ujian dan pengambilan formulir pendaftaran.
Tanggal 17 Mei - 17 Juni 1993 (biasanya awal2 utk pendaftaran lulusan 1 atau 2 tahun sebelumnya). Boleh diwakilkan
Kelompok IPA formulir warna UNGU bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok IPS-BAHASA formulir warna MERAH bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok CAMPURAN formulir warna BIRU bayar Rp 40.000 (dengan 3 pilihan)
(sedari awal saya akan fokus saja 2 pilihan IPA)
2. Pengembalian formulir pendaftaran, tidak boleh diwakilkan.
Tanggal 7-17 Juni 1993
3. Ujian Tulis UMPTN
23-24 Juni 1993
Tambahan Ujian Ketrampilan 25 Juni - 3 Juli 1993 utk jurusan Olahraga dan Seni (saya nggak ah)
1. Pembayaran biaya ujian dan pengambilan formulir pendaftaran.
Tanggal 17 Mei - 17 Juni 1993 (biasanya awal2 utk pendaftaran lulusan 1 atau 2 tahun sebelumnya). Boleh diwakilkan
Kelompok IPA formulir warna UNGU bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok IPS-BAHASA formulir warna MERAH bayar Rp 25.000 (dengan 2 pilihan)
Kelompok CAMPURAN formulir warna BIRU bayar Rp 40.000 (dengan 3 pilihan)
(sedari awal saya akan fokus saja 2 pilihan IPA)
2. Pengembalian formulir pendaftaran, tidak boleh diwakilkan.
Tanggal 7-17 Juni 1993
3. Ujian Tulis UMPTN
23-24 Juni 1993
Tambahan Ujian Ketrampilan 25 Juni - 3 Juli 1993 utk jurusan Olahraga dan Seni (saya nggak ah)
Pertama kali ke Jogja
Seingat saya, seumur hidup saya pertama kali ke Jogja ya saat akan mendaftar kuliah di UGM. Persisnya saat akan mengambil formulir pendaftaran UMPTN di UGM. Benernya, untuk UMPTN (walaupun daftar jurusan2 di UGM) tetep bisa ambil formulir dan test di UNS Solo, tapi karena biar sekalian merasakan aura UGM dan Jogja, saya putuskan untuk daftar di UGM sekalian.
Sebenarnya, bus-bus Surabaya-Jogja selalu singgah dan sering saya lihat di terminal Sragen, tapi belum pernah naik, baik ke Surabaya maupun ke Jogja.
Untuk tumpangan selama ndaftar di Jogja, saya sudah kontak dengan temen kost saat kelas 2 SMA (Sutarto), dia kost di Jogja dalam rangka ikut Bimbel. Saya menumpang menginap di kost dia di daerah Kentungan.
Dia pesan; naik bus Surabaya-Jogja, ntar bilang kernet turun di nJanti, setelah itu naik Bus Kota Jalur 7 bayar Rp 100, turun di perempatan Kentungan, trus lengkap dengan denah/alamat kost dia. Semua terasa asing di telingaku: nJanti, Bus Kota, Jalur 7, Kentungan.
Alhamdulillah, perjalanan pertama ke Jogja lancar.
Sebenarnya, bus-bus Surabaya-Jogja selalu singgah dan sering saya lihat di terminal Sragen, tapi belum pernah naik, baik ke Surabaya maupun ke Jogja.
Untuk tumpangan selama ndaftar di Jogja, saya sudah kontak dengan temen kost saat kelas 2 SMA (Sutarto), dia kost di Jogja dalam rangka ikut Bimbel. Saya menumpang menginap di kost dia di daerah Kentungan.
Dia pesan; naik bus Surabaya-Jogja, ntar bilang kernet turun di nJanti, setelah itu naik Bus Kota Jalur 7 bayar Rp 100, turun di perempatan Kentungan, trus lengkap dengan denah/alamat kost dia. Semua terasa asing di telingaku: nJanti, Bus Kota, Jalur 7, Kentungan.
Alhamdulillah, perjalanan pertama ke Jogja lancar.
Monday, June 7, 1993
Temen duduk terdekat; Kurniawan, SriSumarni, Darwati
Teringat waktu kelas II Fisika 2 (IIA1-2) dan kelas III Fisika 2 (IIIA1-2), saya selalu duduk semeja dengan Kurniawan yang terkenal pendiam.
Selama kelas II dan II pula, di depan saya selalu setia juga dua perempuan Darwati dan Sri Sumarni. Sri ini yang kelak berteman akrab sejak sama-sama kuliah di UGM hingga kini. Dia yg dulu ngebet masuk Teknik, eh malah malah jadi dokter. Sedangkan saya dulu ngebet jadi dokter, karena takut darah lalu masuk Teknik. Yah lika-likunya cita-cita dan hidup yang sebenarnya.
Selama kelas II dan II pula, di depan saya selalu setia juga dua perempuan Darwati dan Sri Sumarni. Sri ini yang kelak berteman akrab sejak sama-sama kuliah di UGM hingga kini. Dia yg dulu ngebet masuk Teknik, eh malah malah jadi dokter. Sedangkan saya dulu ngebet jadi dokter, karena takut darah lalu masuk Teknik. Yah lika-likunya cita-cita dan hidup yang sebenarnya.
Sunday, June 6, 1993
Mengingat temen sekelas SMA Fisika 2
Mengingat temen sekelas SMA Fisika 2
SMA Negeri 1 Sragen, Jawa Tengah
(kelas 2 dilanjut kelas 3) 1991/1992 dan 1992/1993
Agus Purwanto (Sipil UNS)
Agus Suwondo (Elektro UNIBRAW)
Agus Sriyanto
Agustinus (UNS)
Andi (sekolah perkapalan)
Andi Wijanarko (AKABRI AU)
Antonius Sulistyo (Kehutanan IPB)
Bagus Sutrisno (Matematika UNS)
Budi Setiyarso (STTNas)
Cahyo (Peternakan UNDIP)
Darwati
Dwi Hartono (STTNas)
Eddy Wiharsono (D3 Teknik Energi UNDIP)
Endang Lestari
Etik Setyawati
Guntur Wibisono (Industri UII)
Intianu Arinto (Peternakan UNDIP)
Irfan Suparno
Joko Warsito (Sipil UNS)
Kristo Fani
Kurniawan (D3 Teknik Elektro UNDIP)
Kusriyanto (KU UNDIP)
Maryono (D3 Teknik Mesin UGM)
Ning Saputri
"Oshin" (STAN)
Pena (UMS)
Puji Astuti (KU Unissula)
Ratih Sari Dewi
Rima (FKM UNAIR)
Roswanti (Ekonomi UPN Jogja)
Seto Wahyu Jatmiko (Teknik Elektro UGM)
Sri Sumarni (KG UGM 93/KU UGM 94)
Sri Suyatmi (masuk UMS)
Sunardi (Peternakan UGM 93/Elektro UGM 94)
Supriyanto (Hukum Un Jember)
Sutarto
Suwanto (Pertanian UNS)
Yoga Adinata (masuk UMM)
walah, dari 48 kok cuma hafal segitu ya... itupun belum tentu benar
SMA Negeri 1 Sragen, Jawa Tengah
(kelas 2 dilanjut kelas 3) 1991/1992 dan 1992/1993
Agus Purwanto (Sipil UNS)
Agus Suwondo (Elektro UNIBRAW)
Agus Sriyanto
Agustinus (UNS)
Andi (sekolah perkapalan)
Andi Wijanarko (AKABRI AU)
Antonius Sulistyo (Kehutanan IPB)
Bagus Sutrisno (Matematika UNS)
Budi Setiyarso (STTNas)
Cahyo (Peternakan UNDIP)
Darwati
Dwi Hartono (STTNas)
Eddy Wiharsono (D3 Teknik Energi UNDIP)
Endang Lestari
Etik Setyawati
Guntur Wibisono (Industri UII)
Intianu Arinto (Peternakan UNDIP)
Irfan Suparno
Joko Warsito (Sipil UNS)
Kristo Fani
Kurniawan (D3 Teknik Elektro UNDIP)
Kusriyanto (KU UNDIP)
Maryono (D3 Teknik Mesin UGM)
Ning Saputri
"Oshin" (STAN)
Pena (UMS)
Puji Astuti (KU Unissula)
Ratih Sari Dewi
Rima (FKM UNAIR)
Roswanti (Ekonomi UPN Jogja)
Seto Wahyu Jatmiko (Teknik Elektro UGM)
Sri Sumarni (KG UGM 93/KU UGM 94)
Sri Suyatmi (masuk UMS)
Sunardi (Peternakan UGM 93/Elektro UGM 94)
Supriyanto (Hukum Un Jember)
Sutarto
Suwanto (Pertanian UNS)
Yoga Adinata (masuk UMM)
walah, dari 48 kok cuma hafal segitu ya... itupun belum tentu benar
Saturday, June 5, 1993
Tak ikut ambil surat kelulusan SMA
Saat pengumuman kelulusan, saya tak datang ke sekolah, dan takpernah mengambil surat kelulusan/surat ketidaklulusan.
Sebenarnya dari Solo (tempat Bimbel) saya sudah berpakaian sekolah naik bus ke Sragen. Sesampainya di terminal Sragen, saya ketemu Haris yang sedang bergembira karena sudah dapat kepastian lulus, dah dari sekolah dan mau balik ke rumah. Saking senengnya, dia merangkul saya, tapi tiba-tiba kami berdua malah terjatuh karena saya takkuat mengimbangi badannya karena sakit kaki yang saat itu sedang saya derita.
Haris pulang, saya berjalan dengan menyeret kaki menuju SMA sekira 1 km,. Sesampainya di tengah perjalanan, di samping SMEA Negeri, saya berpapasan dengan rombongan Suwanto dkk. Taktega dengan keadaan saya, mereka mengajak saya balik ke terminal dan pulang. Mereka meyakinkan, insyaAllah lulus lah. Saya yang memang sangat kepayahan, saya ikuti saran mereka.
Yah, akhirnya tetep gakjadi ambil pengumuman, hanya yakin saja insyaAllah mesti lulus.
Sebenarnya dari Solo (tempat Bimbel) saya sudah berpakaian sekolah naik bus ke Sragen. Sesampainya di terminal Sragen, saya ketemu Haris yang sedang bergembira karena sudah dapat kepastian lulus, dah dari sekolah dan mau balik ke rumah. Saking senengnya, dia merangkul saya, tapi tiba-tiba kami berdua malah terjatuh karena saya takkuat mengimbangi badannya karena sakit kaki yang saat itu sedang saya derita.
Haris pulang, saya berjalan dengan menyeret kaki menuju SMA sekira 1 km,. Sesampainya di tengah perjalanan, di samping SMEA Negeri, saya berpapasan dengan rombongan Suwanto dkk. Taktega dengan keadaan saya, mereka mengajak saya balik ke terminal dan pulang. Mereka meyakinkan, insyaAllah lulus lah. Saya yang memang sangat kepayahan, saya ikuti saran mereka.
Yah, akhirnya tetep gakjadi ambil pengumuman, hanya yakin saja insyaAllah mesti lulus.
Lulus SMA biasa-biasa saja
Lulus SMA biasa-biasa saja. Bahkan surat kelulusan pun takpernah saya ambil, sehingga disampaikan wali kelas Bu Alva Tiastati (guru Biologi) saat perpisahan, ada satu siswa SUNARDI yang belum ambil surat kelulusan, pertanyaan retoris saya; "saya lulus gak bu?", jawab beliau ngeles: "ya gak tahu, wong belum kamu ambil dan buka"....
Wah, tapi tetep aja gak saya ambil karena saya yakin lulus walau dengan nilai dan prestasi yang biasa-biasa saja. Teringat ranking SMA selalu bertambah tiap semester,
Semester 1 s.d semester 6; 3-5-11-10-13
Berantakan kesempatan untuk meraih peluang masuk PTN tanpa test (istilahnya PMDK= Penelusuran Minat dan Kemampuan), biasanya mensyaratkan ranking menanjak eh kok saya malah jadi ranking banyak.
Diberikan kesempatan mencoba PMDK UNS ambil Teknik Sipil dan Matematika, itu pun takditerima....
Wah, tapi tetep aja gak saya ambil karena saya yakin lulus walau dengan nilai dan prestasi yang biasa-biasa saja. Teringat ranking SMA selalu bertambah tiap semester,
Semester 1 s.d semester 6; 3-5-11-10-13
Berantakan kesempatan untuk meraih peluang masuk PTN tanpa test (istilahnya PMDK= Penelusuran Minat dan Kemampuan), biasanya mensyaratkan ranking menanjak eh kok saya malah jadi ranking banyak.
Diberikan kesempatan mencoba PMDK UNS ambil Teknik Sipil dan Matematika, itu pun takditerima....
Friday, June 4, 1993
SMA 3 thn, 3 tempat kost
Tiga tahun di SMA, 3 tempat kost pula saya berada.
Kost saat kelas 1
Kost pertama saya tinggal sekira 300 meter di utara sekolah, bersama dengan Thohir (Suwatu) dan Sujar (Pantirejo), keduanya kakak kelas. Thohir II Fisika, Sujar II Sosial. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan. Dalam 1 kost tersebut juga ada 2 anak kost putri sekolah di SMEA Negeri Sragen, tapi saya lupa namanya. Keduanya masih ada talian saudara dengan ibu kost, asalnya Jenar. Anak kost laki-laki di kamar sebelah kiri sedang perempuang di sebelah kanan dari bangunan rumah induk bu kost sehingga kita terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selama satu tahun saya, Thohir, dan Sujar tinggal disitu. Kita masak nasi bareng, masing-masing setiap minggu pulang kampung dan datang mbawa beras, kadang mbawa lauk sebisanya. Untuk hari-hari biasa, kita iuran dan bergantian beli lauk/sayur, paling sering beli sayur buncis di kantin RSU Sragen, sekira 1 km, tapi kalo nrabas lewat sawah Cuma ½ km. Biasanya setiap beli sekali, untuk makan 2x. Kadang pakai sepeda, kadang jalan kaki.
kost saat kelas dua
Kost kedua saya tinggal persis di selatan sekolah, cuma dipisahkan pagar sekolah. Saya pindah karena diajak Thohir yang mencari suasana baru dan temen2nya banyak. Tercatat ada Thohir, Yatno, Supri yang sesama kelas III Fisika. Sedang kelas III biologi ada Harsono dan II sosial ada Suprapto. Sedang kelas II Fisika hanya saya seorang. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan.
Dari kost ini, nuansa belajar sangat terasa, terlebih banyak yang kelas III yang tentu akan mempersiapkan diri sebaik2nya untuk menghadapi Ebtanas dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), pengganti nama Sipenmaru. Saya juga terpacu untuk semangat belajar, dan sedikit-sedikit mencoba untuk mengerjakan soal-soal UMPTN, terutama Matematika dan Fisika. Pernah satu ketika dilarang oleh Yatno: Jangan belajar UMPTN dulu, kamu baru kelas dua, takutnya nanti malah gak fokus, prematuer, dan pada saatnya kelas tiga nanti malah sudah drop semangat.
Pemilik kost ini sangat baik memperlakukan dan melayani anak-anak kost yang semuanya laki-laki. Walaupun bukan dari keluarga yang berkecukupan, suami pengemudi becak, istri jualan sayur di pasar, tapi keluarga ini sedari awal bertekad untuk selalu menyediakan sayur untuk makan malam kami. Kami hanya masak nasi aja, sedang sayur disediakan oleh ibu kost, udah gitu gratis alias gak bayar.
Bu kost ini punya 2 anak; Tarwoko saat itu masih SMP dan Tarwati saat itu belum sekolah.
Kost ketiga saat kelas tiga
Menginjak tahun ketiga, setelah Thohir dan temen2 pada lulus, saya ketemu Sugimin (temen SMP Mondokan yg sekarang sekolah di STM Muhammadiyah) dan mengajak kost bareng dengan dia, agak jauh, di Widoro, sekira 1 km dari sekolah.
Kalau taksalah biaya kost masih juga sama dengan kost-kost sebelumnya, yaitu Rp 3000/bulan. Yang membedakan adalah fasilitas. Walaupun tambah jauh, ada free sarapan pagi, duh enak dan murahnya.
Lagipula, tahun ini saya berhasil mengajak Edy Suharsono (temen sekelas sejak kelas 1) utk kost bersama, sebelumnya selama 2 tahun dia nglaju dari Banaran, Sambungmacan.
Kost saat kelas 1
Kost pertama saya tinggal sekira 300 meter di utara sekolah, bersama dengan Thohir (Suwatu) dan Sujar (Pantirejo), keduanya kakak kelas. Thohir II Fisika, Sujar II Sosial. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan. Dalam 1 kost tersebut juga ada 2 anak kost putri sekolah di SMEA Negeri Sragen, tapi saya lupa namanya. Keduanya masih ada talian saudara dengan ibu kost, asalnya Jenar. Anak kost laki-laki di kamar sebelah kiri sedang perempuang di sebelah kanan dari bangunan rumah induk bu kost sehingga kita terlindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selama satu tahun saya, Thohir, dan Sujar tinggal disitu. Kita masak nasi bareng, masing-masing setiap minggu pulang kampung dan datang mbawa beras, kadang mbawa lauk sebisanya. Untuk hari-hari biasa, kita iuran dan bergantian beli lauk/sayur, paling sering beli sayur buncis di kantin RSU Sragen, sekira 1 km, tapi kalo nrabas lewat sawah Cuma ½ km. Biasanya setiap beli sekali, untuk makan 2x. Kadang pakai sepeda, kadang jalan kaki.
kost saat kelas dua
Kost kedua saya tinggal persis di selatan sekolah, cuma dipisahkan pagar sekolah. Saya pindah karena diajak Thohir yang mencari suasana baru dan temen2nya banyak. Tercatat ada Thohir, Yatno, Supri yang sesama kelas III Fisika. Sedang kelas III biologi ada Harsono dan II sosial ada Suprapto. Sedang kelas II Fisika hanya saya seorang. Kalau taksalah biaya kost Rp 3000/bulan.
Dari kost ini, nuansa belajar sangat terasa, terlebih banyak yang kelas III yang tentu akan mempersiapkan diri sebaik2nya untuk menghadapi Ebtanas dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), pengganti nama Sipenmaru. Saya juga terpacu untuk semangat belajar, dan sedikit-sedikit mencoba untuk mengerjakan soal-soal UMPTN, terutama Matematika dan Fisika. Pernah satu ketika dilarang oleh Yatno: Jangan belajar UMPTN dulu, kamu baru kelas dua, takutnya nanti malah gak fokus, prematuer, dan pada saatnya kelas tiga nanti malah sudah drop semangat.
Pemilik kost ini sangat baik memperlakukan dan melayani anak-anak kost yang semuanya laki-laki. Walaupun bukan dari keluarga yang berkecukupan, suami pengemudi becak, istri jualan sayur di pasar, tapi keluarga ini sedari awal bertekad untuk selalu menyediakan sayur untuk makan malam kami. Kami hanya masak nasi aja, sedang sayur disediakan oleh ibu kost, udah gitu gratis alias gak bayar.
Bu kost ini punya 2 anak; Tarwoko saat itu masih SMP dan Tarwati saat itu belum sekolah.
Kost ketiga saat kelas tiga
Menginjak tahun ketiga, setelah Thohir dan temen2 pada lulus, saya ketemu Sugimin (temen SMP Mondokan yg sekarang sekolah di STM Muhammadiyah) dan mengajak kost bareng dengan dia, agak jauh, di Widoro, sekira 1 km dari sekolah.
Kalau taksalah biaya kost masih juga sama dengan kost-kost sebelumnya, yaitu Rp 3000/bulan. Yang membedakan adalah fasilitas. Walaupun tambah jauh, ada free sarapan pagi, duh enak dan murahnya.
Lagipula, tahun ini saya berhasil mengajak Edy Suharsono (temen sekelas sejak kelas 1) utk kost bersama, sebelumnya selama 2 tahun dia nglaju dari Banaran, Sambungmacan.
Saturday, May 15, 1993
Ikut Bimbel sebulan di Solo
Alhamdulillah akhirnya rencana dan keinginan saya terlaksana, setelah EBTANAS selesai, sesuai janji ibu-bapak saya dibolehkan ikut Bimbel Intensif Primagama selama 1 bulan di Sekarpace, Solo (karena Sragen belum ada).
Saya sengaja kost di belakangnya karena takut kecapekan dan mahal di ongkos jika mesti bolak-balik Sragen-Solo. Ada temen kost anak Pati lulusan tahun kemarin [tapi lupa takpernah minta nama dan alamat persis]. Runtang-runtung berdua.
Senangnya ikut Bimbel, tiap Ahad diadakan try-out, gratis (karena dah include dalam bayaran Bimbel). Ingat Try out se-Solo pertama, posisi nilai saya terpampang pada ranking 1000-an, wah rendah/bodoh sekali diriku....Untuk try-out selanjutnya alhamdulillah naik jadi ranking 750an dst bias dipertahankan.
Berdasarkan hasil try-out, diskusi dengan bagian psikologi Bimbel menyatakan prediksi bahwa jika mau ambil jurusan Teknik Elektro UGM agak berat dan perlu peningkatan, kalo jurusan Peternakan UGM masih oke.
Saya sengaja kost di belakangnya karena takut kecapekan dan mahal di ongkos jika mesti bolak-balik Sragen-Solo. Ada temen kost anak Pati lulusan tahun kemarin [tapi lupa takpernah minta nama dan alamat persis]. Runtang-runtung berdua.
Senangnya ikut Bimbel, tiap Ahad diadakan try-out, gratis (karena dah include dalam bayaran Bimbel). Ingat Try out se-Solo pertama, posisi nilai saya terpampang pada ranking 1000-an, wah rendah/bodoh sekali diriku....Untuk try-out selanjutnya alhamdulillah naik jadi ranking 750an dst bias dipertahankan.
Berdasarkan hasil try-out, diskusi dengan bagian psikologi Bimbel menyatakan prediksi bahwa jika mau ambil jurusan Teknik Elektro UGM agak berat dan perlu peningkatan, kalo jurusan Peternakan UGM masih oke.
Sunday, January 3, 1993
Rela berkorban segalanya demi anak
Awal semester 6, ada keinginan saya untuk mengikuti Bimbel (Bimbingan Belajar) Primagama Solo selama 1 semester. (saat itu Sragen belum ada). Harapan saya adalah lulus SMA dengan NEM bagus dan sekaligus untuk mempersiapkan UMPTN biar ketrima.
Namun sayang, saat itu kondisi keuangan bapak-ibu tidak memungkinkan, lagian ortu kasihan kalo tiap 3 kali seminggu saya mesti bolak-balik Sragen-Solo. (Kurniawan temen satu meja denganku ikut). Ya udah akhirnya saya mesti mengikhlaskan untuk tidak jadi. Janji bp-ibu, mudah2an kelak bisa ikut Bimbel yang 1 bulan intensif tiap hari masuk (setelah Ebtanas dan menjelang UMPTN), bayarnya lebih murah.
Ahad sore seperti biasa, saya naik sepeda dari kampung ke kost di kota, mengayuh sepeda sekira 20 km. Tak mengira, esok malamnya, ibu datang dengan diantar tetangga membawakan uang (kalo taksalah Rp 500.000) untuk pendaftaran bimbingan belajar saya. Lho, saya khan sudah ikhlas nggak ikut. Lagian ini khan uang hutang tetangga, saya nggak tetep nggak mau dan takmasalah kelak ikut yang 1 bulan aja.
Selidik punya selidik, ternyata uang saku saya yang Rp 5.000 untuk satu minggu ketinggalan di rumah, dikira saya marah karena nggak dibolehkan ikut bimbingan....Makanya bapak-ibu lalu pontang-panting cari utangan untuk saya. Subhanallah, kasih sayang orang tua tak terbatas, apapun dilakukan demi anak. Surgalah insyaAllah utk kedua orangtuaku, amien.
Namun sayang, saat itu kondisi keuangan bapak-ibu tidak memungkinkan, lagian ortu kasihan kalo tiap 3 kali seminggu saya mesti bolak-balik Sragen-Solo. (Kurniawan temen satu meja denganku ikut). Ya udah akhirnya saya mesti mengikhlaskan untuk tidak jadi. Janji bp-ibu, mudah2an kelak bisa ikut Bimbel yang 1 bulan intensif tiap hari masuk (setelah Ebtanas dan menjelang UMPTN), bayarnya lebih murah.
Ahad sore seperti biasa, saya naik sepeda dari kampung ke kost di kota, mengayuh sepeda sekira 20 km. Tak mengira, esok malamnya, ibu datang dengan diantar tetangga membawakan uang (kalo taksalah Rp 500.000) untuk pendaftaran bimbingan belajar saya. Lho, saya khan sudah ikhlas nggak ikut. Lagian ini khan uang hutang tetangga, saya nggak tetep nggak mau dan takmasalah kelak ikut yang 1 bulan aja.
Selidik punya selidik, ternyata uang saku saya yang Rp 5.000 untuk satu minggu ketinggalan di rumah, dikira saya marah karena nggak dibolehkan ikut bimbingan....Makanya bapak-ibu lalu pontang-panting cari utangan untuk saya. Subhanallah, kasih sayang orang tua tak terbatas, apapun dilakukan demi anak. Surgalah insyaAllah utk kedua orangtuaku, amien.
Friday, January 1, 1993
1993, listrik masuk desa kami
Selama ini, takada jaringan listrik yang lewat di kampung kami. Bahkan SMP saya juga belum ada listrik. Praktis, di rumah mengandalkan lampu teplok untuk belajar.
Saat itu keluarga kami sempat punya TV dan satu-satunya di kampung kami, setiap 1 atau 2 minggu sekali kami nyetrumkan ke Bedono (sekira 5 km). Saat itu hanya ada siaran TVRI stasiun Solo dan Surabaya dan siaran hanya malam saja. TV hitam putih tsbkalo sore kita keluarkan di atas meja tamu depan, kalo malam selepas tetangga pulang semua, kita masukkan lagi.
Alhamdulillah, nyetrum aki tahun ini akan berakhir, aliran listrik masuk ke desa kami setelah tiang2 telah ditegakkan sekira setahun lalu.
Teringat cerita kala itu, desa kami tidak bisa dialiri listrik seperti desa-desa lain karena warganya terlalu sedikit sekira 60 KK, sehingga tidak ekonomis. Akhirnya disepakati, diminta 10 orang dari KK yang ada (termasuk keluarga kami) diwajibkan ambil yg 900 watt, bukan 450 watt seperti yang lain, dengan konsekuensi bayaran awal dan bulanan lebih mahal. Tapi demi listrik mengalir, alhamdulillah disepakati siapa2 yang termasuk 10 orang tsb.
Alhamdulillah akhirnya terang juga kampung kami.
Saat itu keluarga kami sempat punya TV dan satu-satunya di kampung kami, setiap 1 atau 2 minggu sekali kami nyetrumkan ke Bedono (sekira 5 km). Saat itu hanya ada siaran TVRI stasiun Solo dan Surabaya dan siaran hanya malam saja. TV hitam putih tsbkalo sore kita keluarkan di atas meja tamu depan, kalo malam selepas tetangga pulang semua, kita masukkan lagi.
Alhamdulillah, nyetrum aki tahun ini akan berakhir, aliran listrik masuk ke desa kami setelah tiang2 telah ditegakkan sekira setahun lalu.
Teringat cerita kala itu, desa kami tidak bisa dialiri listrik seperti desa-desa lain karena warganya terlalu sedikit sekira 60 KK, sehingga tidak ekonomis. Akhirnya disepakati, diminta 10 orang dari KK yang ada (termasuk keluarga kami) diwajibkan ambil yg 900 watt, bukan 450 watt seperti yang lain, dengan konsekuensi bayaran awal dan bulanan lebih mahal. Tapi demi listrik mengalir, alhamdulillah disepakati siapa2 yang termasuk 10 orang tsb.
Alhamdulillah akhirnya terang juga kampung kami.
Saturday, August 15, 1992
Bhs Inggris.... Kursus pun kok tetep susah ya
Bahasa Inggris.... rasanya pelajaran yang satu ini kok gak pernah terasa mudah. Dah dapat pelajaran di SMP 3 selama tahun pun terasa hampa, apa yang telah kudapat, apa yang aku bisa??.....SMA sama, pening rasanya kalo belajar yang satu ini.
Menimbang;
1. Tempat kursus berdekatan dengan kost
2. Harga murah dan terjangkau
3. Tentor adalah guru kelas di SMAN Sragen shg sgt menunjang pelajaran di sekolah
maka saya putuskan untuk kursus Bahasa Inggris dimulai dari kelas yang paling bawah, pre-elementary, 2 bulan dapat lulus dengan Excellent (A) wah hebat....
Dilanjutkan dengan kelas atasnya, Elementary, 2 bulan lulus dengan nilai satisfactory (B).... lho kok menurun....
Selanjutnya jadi pesimis.... kok lama-lama jadi susah lagi nih....Akhirnya malah nggak nglanjutin kursus, kasihan dengan sponsor penyandang dana
Menimbang;
1. Tempat kursus berdekatan dengan kost
2. Harga murah dan terjangkau
3. Tentor adalah guru kelas di SMAN Sragen shg sgt menunjang pelajaran di sekolah
maka saya putuskan untuk kursus Bahasa Inggris dimulai dari kelas yang paling bawah, pre-elementary, 2 bulan dapat lulus dengan Excellent (A) wah hebat....
Dilanjutkan dengan kelas atasnya, Elementary, 2 bulan lulus dengan nilai satisfactory (B).... lho kok menurun....
Selanjutnya jadi pesimis.... kok lama-lama jadi susah lagi nih....Akhirnya malah nggak nglanjutin kursus, kasihan dengan sponsor penyandang dana
Sunday, February 2, 1992
Lihat kecelakaan, ngeri dan lari......
Seingat saya saat kelas 2 SMA, saat Ahad sore balik dari kampung menuju kost di selatan SMA, naik sepeda.
Saat itu di perempatan terminal Sragen, saya yang datang dari arah utara mau masuk perempatan, dikagedkan dengan suara "brakkk..."....tabrakan telah terjadi antara truk gandeng dengan motor yang dinaiki seorang bapak dan ibu (istri/ibunya?). Tangisan pilu lantas mengiringi : "ibu..... ibu...."
Taklebih dari 25 meter saya melihat kejadian tersebut pakai mata kepala sendiri.....bukan menolong, saya malah kabur, hati ini perih, menangis, lalu saya pergi meningggalkan tempat tersebut, mengayuh sepeda sekuat tenaga, seperti kesetananan...
Sesampaianya di kost, saya menenangkan diri dengan apa yang terjadi, sedemikian ngeri saya melihat kecelakaan, takutt......
Saya pikir dalam.... apa mungkin saya mau neruskan cita-cita jadi dokter, lihat kecelakaan saja takut, lihat darah saja takut, lihat orang mati saja takut.... gimana mau nolong kalo takut...
"pikir ulang apa cita-citamu" begitu kata hatiku.
Saat itu di perempatan terminal Sragen, saya yang datang dari arah utara mau masuk perempatan, dikagedkan dengan suara "brakkk..."....tabrakan telah terjadi antara truk gandeng dengan motor yang dinaiki seorang bapak dan ibu (istri/ibunya?). Tangisan pilu lantas mengiringi : "ibu..... ibu...."
Taklebih dari 25 meter saya melihat kejadian tersebut pakai mata kepala sendiri.....bukan menolong, saya malah kabur, hati ini perih, menangis, lalu saya pergi meningggalkan tempat tersebut, mengayuh sepeda sekuat tenaga, seperti kesetananan...
Sesampaianya di kost, saya menenangkan diri dengan apa yang terjadi, sedemikian ngeri saya melihat kecelakaan, takutt......
Saya pikir dalam.... apa mungkin saya mau neruskan cita-cita jadi dokter, lihat kecelakaan saja takut, lihat darah saja takut, lihat orang mati saja takut.... gimana mau nolong kalo takut...
"pikir ulang apa cita-citamu" begitu kata hatiku.
Thursday, December 5, 1991
Ngerjain guru Fisika, ditinggal pulang sekelas
Pengalaman unik dan menarik sewaktu kelas 2 SMA.
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Monday, July 1, 1991
masuk Kelas II Fisika 2
Pada akhir semester II, diadakan seleksi penjurusan untuk kenaikan ke kelas II. Seleksi dilakukan secara menyeluruh terhadap semua kelas untuk menentukan siapa-siapa yang berminat dan berhak masuk jurusan Fisika (A1), Jurusan Biologi (A2), dan Jurusan Sosial (A3).
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Monday, July 16, 1990
Masuk SMA, penataran P4 dulu
Sebelum memulai proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti Penataran P4 dulu, untuk SMAN 1 Sragen diadakan pada 16 - 21 Juli 1990.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Sunday, July 1, 1990
Alhamd akhirnya sekolah di SMA 1 Sragen
nama siswa : SUNARDI
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
Tuesday, June 12, 1990
Teman2 SMP sekolah dimana aja
Saat itu SMP kami yang desa jarang yang ketika lulus melanjutkan pendidikan ke SMA. Tapi berkah adanya SMAN Sukodono yang mulai membuka pendaftaran siswa pada tahun ini, alhamdulillah banyak temen2 seangkatan saya yang melanjutkan sekolah.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Monday, June 11, 1990
Gakjadi SMA 2 tapi SMA 1
Tengah 1990
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Sunday, June 10, 1990
Lulus SMP masuk SMA mana ya?
Tengah tahun 1990
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Tuesday, June 5, 1990
Bahagianya Lulus SMP jadi Juara I
Saya taktahu pasti tanggalnya dan bulannya....
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
Monday, June 4, 1990
Nilai NEM kami...
Walaupun banyak pelajaran sulit, bahkan pelajaran fisika dan matematika yang awalnya sangat terasa mudah, tapi karena semester2 akhr ganti guru akhirnya jadi susah juga, saat Ebtanas nilai saya masih terbaik se-SMP.
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Thursday, May 31, 1990
Mengingat guru SMP
Christiani Ery Purwanti
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Temen sekelas 1c dan 3c SMP
Naik kelas 2 kami dipisahkan, masuk kelas 3 kami disatukan kembali.
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Wednesday, May 16, 1990
14-16 Mei 1990 Ebtanas
Ujian berat menantang kami berupa EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dilakukan serentak tanggal 14 hingga 16 Mei 1990 untuk 6 mata pelajaran yang diujikan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

