Seingat saya saat kelas 2 SMA, saat Ahad sore balik dari kampung menuju kost di selatan SMA, naik sepeda.
Saat itu di perempatan terminal Sragen, saya yang datang dari arah utara mau masuk perempatan, dikagedkan dengan suara "brakkk..."....tabrakan telah terjadi antara truk gandeng dengan motor yang dinaiki seorang bapak dan ibu (istri/ibunya?). Tangisan pilu lantas mengiringi : "ibu..... ibu...."
Taklebih dari 25 meter saya melihat kejadian tersebut pakai mata kepala sendiri.....bukan menolong, saya malah kabur, hati ini perih, menangis, lalu saya pergi meningggalkan tempat tersebut, mengayuh sepeda sekuat tenaga, seperti kesetananan...
Sesampaianya di kost, saya menenangkan diri dengan apa yang terjadi, sedemikian ngeri saya melihat kecelakaan, takutt......
Saya pikir dalam.... apa mungkin saya mau neruskan cita-cita jadi dokter, lihat kecelakaan saja takut, lihat darah saja takut, lihat orang mati saja takut.... gimana mau nolong kalo takut...
"pikir ulang apa cita-citamu" begitu kata hatiku.
Sunday, February 2, 1992
Thursday, December 5, 1991
Ngerjain guru Fisika, ditinggal pulang sekelas
Pengalaman unik dan menarik sewaktu kelas 2 SMA.
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Agak lupa awalnya, tiba-tiba saja ada ide nyleneh dari temen2. Karena pelajaran pertama kosong, maka pelajaran kedua kita ajukan.
Pelajaran terakhir seharusnya Guru Fisika Pak Suripno (wali kelas saya sewaktu di kelas 1 maupun sekarang di kelas 2).
Kita sekelas membuat kompromi jahat; "yuk pulang semua yuk, biar pelajaran pak Suripno kosong saja"..
Teganya temen-temen.... tapi asyik juga sekali-kali mbolos heheeh
Salutnya, pak Suripno orangnya sabar banget dan perhatian, nggak marah, esoknya cuma senyam-senyum; "kemarin pada kemana ya, saya masuk kelas kok takada siswa".....
Monday, July 1, 1991
masuk Kelas II Fisika 2
Pada akhir semester II, diadakan seleksi penjurusan untuk kenaikan ke kelas II. Seleksi dilakukan secara menyeluruh terhadap semua kelas untuk menentukan siapa-siapa yang berminat dan berhak masuk jurusan Fisika (A1), Jurusan Biologi (A2), dan Jurusan Sosial (A3).
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Sedari awal saya sudah digadang Mas Sar untuk masuk Fisika. Logika sederhana yang dibangun waktu itu adalah biasanya Fisika itu pilihan anak2 pinter, sehingga ketika kita bisa survive berkompetisi disitu, insyaAllah kelak untuk berkompetisi di UMPTN lebih mudah. Apalagi waktu itu, hanya anak Fisika dan Biologi saja yang boleh mengambil kuliah jurusan apapun, sedangkan jurusan sosial hanya bisa kuliah di jurusan sosial saja. Mas Sar sebelumnya masuk Biologi karena kalau masuk Fisika takut kepala kumat yang habis kecelekaan waktu kelas 1 sehingga harus istirahat setahun dan tinggal kelas.
Alhamdulillah, saat penerimaan rapot, berdasarkan penilaian, dari I D yang masuk ke Fisika cuma 2 orang, saya dan Edi Wiharsono (kelak Edi jadi temen 1 kost sewaktu kelas III). Dan kami berdua sama-sama ditempatkan di II Fisika 2 (kelas agak pinter) dari 3 kelas Fisika yang ada (Fisika 1, 2, 3). Saat itu, Biologi juga 3 kelas, sedang Sosial 2 kelas. Komposisi ini bisa berbah setiap tahun tergantung minat dan kemampuan siswa. Juara 1 di kelas kami malah minta di kelas sosial karena memang minatnya disitu.
Inget anak2 SMA 1 yang masuk kategori kaya, salah satu yang saya amati adalah banyak diantara mereka yang sore hari selepas sekolah mengikuti kursus. Kalo kursus bahasa inggris banyak banget yg ikut, saya mau ikut gakpunya uang. Padahal bahasa inggris adalah momok saya sejak SMP. Ada juga banyak diantaranya yang pada ikut les, sesuai mata pelajaran di sekolah.
Suatu ketika alhamdulillah saya ditawari temen2 untuk ikut bergabung les mata pelajaran kimia, setelah konsultasi sama orang tua diperbolehkan. Karena kimia termasuk pelajaran yang susah tapi masih bisa dipahami daripada bahasa ingris. Kami sekira 10 orang les di rumahnya Bpk. Supomo yang taklain adalah guru pelajaran kimia di kelas I D, ya dengan begitu nilai kami nggak jelek2 amatlah hehe. Les matematika, fisika, biologi, dll untuk sementara saya mesti menyingkir mengingat kantong tak setebal temen-temen lain, lagian masih bisa diatasi hehe.
Monday, July 16, 1990
Masuk SMA, penataran P4 dulu
Sebelum memulai proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti Penataran P4 dulu, untuk SMAN 1 Sragen diadakan pada 16 - 21 Juli 1990.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Yah takda yang berat, cuma mendengarkan ceramah aja kok.
Sunday, July 1, 1990
Alhamd akhirnya sekolah di SMA 1 Sragen
nama siswa : SUNARDI
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
nomor induk: 7629
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa sekolah di SMA N 1 Sragen.
Dari proses pendaftaran SMA ini, saya juga baru sedikit mengenal bahwa selama SMA mas Sar pernah tinggal kost di Bulik Karti di Cantel, tapi juga pernah kost sendiri. Demikian pula, saya juga baru sedikit tahu bahwa Bulik Karti punya anak ragil Riris yang seangkatan denganku, dari SMP Xaverius lalu tahun ini masuk SMA PGRI. Juga, baru tahu bahwa kakaknya Riris, yaitu Juni barusan naik kelas II SMA N 1 Sragen. Sebelumnya hanya tahu sedikit karena memang jarang sekali ketemu. Alhamdulillah, dengan sekolah di Sragen sedikit terbuka wawasan tentang keluarga dan saudara, sebelumnya bener-bener kuper banget.
Saya masuk kelas I D, wali kelas Bpk Suripno (guru Fisika sekaligus wali kelas saya saat kelas 1 dan 2).
Masuk kelas kelompoknya anak-anak berduit, anak2 orang kaya kayaknya. Memang secara umum, yang masuk SMA 1 adalah orang2 kota yang pinter dan kaya, kalo selebihnya hanya 1 atau 2 yang berasal dari satu SMP kampung, itupun biasanya 1 SMP kampung hanya 1 murid saja, seperti saya dari SMPN Mondokan cuma satu-satunya. Dari SMP N Sukodono juga cuma 1 kayaknya, dialah Haris Triyanto (satu2nya temen kelas VI SD saya yang mengalahkan raihan NEM saya).
Teringat banyak kawan yang punya sepeda motor bagus2, saya hanya jalan kaki atau naik sepeda ke sekolah. Dan dari segi akademis, kelas saya termasuk kelas yang yang biasa. Denger-denger, urutan raihan NEM jika diterapkan ke pembagian kelas adalah (urut dari yang kelompok pinter) HGABCDE. Maknyanya, kelas saya nomor 2 terbodoh hehe.
Dari SMP N Mondokan, hanya saya seorang yang masuk SMA 1. Dan kalo dihitung2, NEM-nya temen2 gak bisa masuk dalam list ke SMA 1. Dari SMP N Mondokan yang saya ingat rangking II Sudardo masuk SMA N Sukodono, rangking III Turono karena keterbatasan ekonomi malah gak bisa melanjutkan sekolah, ada Sudarmini yang masuk SMEA Negeri Sragen. Ada pula Sugimin yang masuk STM Muhammadiyah Sragen (kelak jadi temen kost waktu saya kelas III SMA). Yang masuk SMA 2 takda, SMA 3 waktu itu belum ada.
Hikmahnya bergaul dan dalam persaingan orang2 yang nggak pinter, di kelas I D, saya yang juga nggak pinter dan orang kampung bisa mendapat ranking 3 pada semester I, tapi sayang, rangking ‘meningkat’ menjadi 5 pada semester II.
Tuesday, June 12, 1990
Teman2 SMP sekolah dimana aja
Saat itu SMP kami yang desa jarang yang ketika lulus melanjutkan pendidikan ke SMA. Tapi berkah adanya SMAN Sukodono yang mulai membuka pendaftaran siswa pada tahun ini, alhamdulillah banyak temen2 seangkatan saya yang melanjutkan sekolah.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Tercatat ada juara 2 SMP saya si Sudardo sekolah disini. Sementara kasihan pada Turono yang merupakan temen akrab saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Akhirnya dia bekerja menjahit di Surabaya.
Yang melanjutkan ke SMA1 ya cuma saya sendiri, SMA2 takda. Ada seorang (Sudarmini) yang sekolah SMEAN. Ada juga beberapa di SMEA/STM swasta.
Jadilah saya seorang diri takda teman se-SMP di SMA1 atau bahkan sepi temen dari kampung ke Sragen. Nasib baik,ada temen SD dulu (Haris Triyanto) yang juga sekolah di SMA1, lumayanlah bisa jadi temen, lagian kami dalam satu kelas 1D. Dia sebelumnya sekolah di SMPN Sukodono.
Monday, June 11, 1990
Gakjadi SMA 2 tapi SMA 1
Tengah 1990
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Teringat lika-liku masuk SMA, mas Sar yang paling berperan sehingga akhirnya saya masuk SMAN 1 Sragen. Mas Sar sangat rajin mengajak saya tiap hari ke sekolah SMA1 dan SMA2 utk memantau perkembangan pendaftar. Setiap siang, kedua sekolah tsb menempel jumlah total pendaftar untuk setiap nilai, misalanya pendaftar dengan NEM 35 berapa orang, pendaftar dengan NEM 36 berapa orang dst.
Dengan hitung2an yang dilakukan mas Sar, saya masih bisa bersaing di SMA 1. Akhirnya diputuskan bahwa pada hari terakhir dan di jam-jam terakhir pendaftaran, saya cabut pendaftaran di SMA 2 dan saya mendaftar di SMA 1. Hitung2anya, NEM saya masih masuklah pada kelompok kelas terakhir (total ada 8 kelas @48 siswa).
Pengumuman tiba, alhamdulillah, ternyata benar perhitungan kami, saya masih bisa diterima di SMAN 1 Sragen, alhamdulillah,...
Sunday, June 10, 1990
Lulus SMP masuk SMA mana ya?
Tengah tahun 1990
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Terlepas berhasil atau tidak meraih lulusan terbaik dari SMPN Mondokan, telah lama ada keinginan dalam diri saya untuk bisa melanjutkan sekolah ke kota Sragen. Soalnya, saya yakin akan banyak pengalaman dan alam kompetisi yang lebih baik bagi saya kedepan. Namun sayangnya saat itu, adalah masa yang bersamaan dibuka SMA Negeri Sukodono yang jaraknya Cuma 2 km dari rumah kami. Kalo SMP saya mesti menempuh sekira 8 km, jarak ini tentulah sangat dekat. Wah, mengacaukan keinginanku saja nih.
Pertentangan akhirnya terjadi. Bapak ngotot untuk menyekolahkan saya di SMA baru ini, betul2 baru, gedung pun baru sebagian. Beliau berkata; ”dekat, gakperlu kost, bisa mbantu kerja orangtua”. Saya tidak menafikan apa yang disampaikan bapak, tapi hati ini rasanya mau berontak, saya mau sesuatu yang baru.
Alhamdulillah, satu hari kami ketemu rekan bapak, beliau dipahamkan bahwa sebaiknya mengikuti kemauan anak, lagian sebagai hadiah karena juara 1, sayang kalo hanya sekolah SMA di desa, alhamdulillah akhirnya hati bapak luluh.
Akhirnya saya diantar bapak mendaftar SMAN 2 Sragen, sekolahnya Mas Sar yang baru saja lulus.
Tuesday, June 5, 1990
Bahagianya Lulus SMP jadi Juara I
Saya taktahu pasti tanggalnya dan bulannya....
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
tapi yang jelas pertengahan tahun 1990
Diadakanlah perpisahan dan pengumuman kelulusan SMPN Mondokan, di Gedung pertemuan sebelah barat SMP, dihadiri semua anak kelas 3 beserta orangtua/wali.
Tibalah saatnya pengumuman yang sangat membahagiakan hati ini,
Lulusan Terbaik Tahun ini adalah SUNARDI
NEM benernya gakbagus-bagus amat, tapi dah terbaik se-SMP.
Alhamdulillah, hadiahnya dikalungin slayer oleh kepala sekolah....
Pulang mbonceng sepeda onthel bapak dengan senyum mengembang
Monday, June 4, 1990
Nilai NEM kami...
Walaupun banyak pelajaran sulit, bahkan pelajaran fisika dan matematika yang awalnya sangat terasa mudah, tapi karena semester2 akhr ganti guru akhirnya jadi susah juga, saat Ebtanas nilai saya masih terbaik se-SMP.
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Teringat waktu pra-Ebta, saya kalah telak dengan teman-teman. Kalo taksalah ada Nindyo (anak pak Lurah Kedawung) dari IIIb bisa dapat nilai 46, ada Turono 44, saya cuma 42. Tapi sewaktu acara perpisahaan di gedung sewa, yang menghadirkan semua murid dan orang tua wali, semua seolah berbalik kebahagiaan bagi diriku, disebutlah nama Sunardi dengan raihan NEM tertinggi untuk SMPN Mondokan, alhamdulillah.
Saat Ebtanas, semua raihan nilai turun dibanding pra-Ebta. Saya mendapatkan 39.98, hanya kurang 0.02 untuk mencapai angka psikologis 40. Padahal pelajaran ada 6 (PMP, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Fisika, Biologi), jadi kalo dirata-rata, nilai saya hanya 6.xx, itupun udah terbaik hehe. Di bawah saya ada Sudardo kalau taksalah nilainya 38.20 dan Turono 37.88. Saat itulah masa paling bahagia melewati masa SMP dengan hasil terbaik, dikalungi slayer oleh kepala sekolah pak Supardjo (waktu itu merangkap menjadi anggota DPRD Kab. Sragen).
Dalam konstelasi raihan rata-rata NEM saat itu, disampaikan kepala sekolah bahwa di dalam kelompok SMP-SMP di Sragen di utara Sungai Bengawan Solo (Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar), kita masuk jajaran atas.
Nilai NEM saya tertanggal 4 Juni 1990 (malu-maluin terutama B Inggrisnya);
1. PMP 7.33
2. Bahasa Indonesia 7.33
3. Bahasa Inggris 4.20
4. IPS 5.67
5. Matematika 7.78
6. IPA 7.67
Jumlah 39.98
Thursday, May 31, 1990
Mengingat guru SMP
Christiani Ery Purwanti
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Guru Matematika SMP sejak semester 2 hingga semester 5
Beliau adalah guru terbaik yang pernah saya dapatkan di SMP. Matematika seolah menjadi satu pelajaran yang sangat2 mudah, seingat saya baru dapat nilai ulangan harian 8.5 selama sekali saja, selain itu elalu dapat 9, 9.5, atau 10. selalu demikian...
sehingga nilai raport tiap semester selalu 9.....
Satu ungkapan yang takterlupakan yang mana beliau sangat bangga adalah ketika saya diminta untuk mengerjakan satu soal di depan dan dapat saya selesaikan dengan baik. Demikian kira2 ungkapan beliau: ”coba kalau semua murid saya seperti sunardi, wah betapa senangnya saya”
Demikian beliau sangat berkesan dalam hati, pernah suatu ketika sangat kuat keinginan hati ini utk silaturahmi menjupai beliau, insyaAllah kesampaian.
Temen sekelas 1c dan 3c SMP
Naik kelas 2 kami dipisahkan, masuk kelas 3 kami disatukan kembali.
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Inilah formasi tim kelas 1C yang berlanjut ke 3C (harusnya ada 48)
Ari santi
Dian Purnama
Munawar Eko Setyowati Utami
Nurul Marfuah
Saptuti Handayani
Suryastani
Sugiyo
Suhardi
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Suparman
Suparno
Sri
Turono
Umi Nasyirah
Wednesday, May 16, 1990
14-16 Mei 1990 Ebtanas
Ujian berat menantang kami berupa EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) dilakukan serentak tanggal 14 hingga 16 Mei 1990 untuk 6 mata pelajaran yang diujikan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Data saya;
nomor peserta : 14029118
sekolah asal : SMP Negeri Mondokan
Ujian terasa berat dan susah banget, semoga lulus, amien.
Nilai ini sebagai senjata untuk bersaing meraih kursi di SMA terbaik yang diinginkan.
Wednesday, April 25, 1990
Pelajaran SMP banyak yg susah
Pelajaran di SMP saya rasakan banyak yang susah.
Ada pelajaran biologi yang ngapalkan nama-nama latin, duh susahnya..
Ada pelajaran sejarah ngapalin juga banyak, awalnya ada guru yang enak crita terus di depan kelas, tapi kita nggak sempat nyatat karena asyik mendengarkan cerita. Eh, pernah pula diganti guru lain, isinya banyak soal-jawab saja, susah banget.
Lebih lagi pelajaran bahasa Inggris, makanan apa lagi nih, 3 tahun blas nggak tahu apa-apa. Apalagi kelas II, sering kosong pelajaranya karena guru hamil dan tidak ada pengganti. Rada sedikit ngerti itupun dikit waktu kelas III, karena wali kelas IIIC adalah guru bahasa Inggris, kalo gak salah sengaja diecer-ecer, selama seminggu tatap muka sampai 4 kali.
Lain lagi pelajaran kesenian, emang dasarnya saya gak bisa menggambar dll. Bahkan ketika kelas III, pelajarannya adalah main gitar, udah gakpunya, pinjam orang lain untuk ngajarin pun tetep gakbisa. Untung saat itu ujiannya tertutup, hanya ada siswa dan guru, jrang-jreng semaunya, semalu-malunya biarin aja hehehe.
Yang rada lumayan bagus dan seneng adalah pelajaran olahraga. Kalo fisik mungkin sering kalah sama temen2, inget mukul bola volley aja sering nggak bisa melampaui net. Tapi kalo teori lumayan jago lah, nilai 8, 9 atau 10 terus. Inget dulu pernah satu kali eyel2n dengan pak Margono, lebih banyak vitaminnya mana antara tempe dan telor. Saya njawabnya tempe, disalahkan, yg benar telor.
Pelajaran yang agak suka lagi adalah Fisika. Gurunya masih muda, grapyak, sering naik sepeda mini bareng dengan kita-kita. Tapi ketika kelas III, guru diganti dan hilanglah kesukaan saya pada pelajaran fisika.
Pelajaran paling saya suka selama SMP adalah Matematika. Ya, sejak kelas 1 hingga kelas III, pelajaran ini adalah favorit saya. Gurunya kecil, muda, cantik. Bu Christiana Eri Purwanti.
Tapi, lagi-lagi pelajaran berubah menjadi tak menarik tatkala guru kita diganti. Masuk semester VI, bu Eri yang barusan menikah kemudian hamil dan mengajukan pindah ke daerah asal, yaitu Ngawi... jatuhlah nilai matematika saya.
Diajar oleh guru yang sama sekali baru dan asing bagi saya yang sejak kelas I diajar bu Eri, seringkali ulangan harian/mingguna saya betul-betul jeblok. Pernah satu ketika, dari 5 soal yang diberikan, taksatupun saya mampu menjawab dengan benar.
Ada pelajaran biologi yang ngapalkan nama-nama latin, duh susahnya..
Ada pelajaran sejarah ngapalin juga banyak, awalnya ada guru yang enak crita terus di depan kelas, tapi kita nggak sempat nyatat karena asyik mendengarkan cerita. Eh, pernah pula diganti guru lain, isinya banyak soal-jawab saja, susah banget.
Lebih lagi pelajaran bahasa Inggris, makanan apa lagi nih, 3 tahun blas nggak tahu apa-apa. Apalagi kelas II, sering kosong pelajaranya karena guru hamil dan tidak ada pengganti. Rada sedikit ngerti itupun dikit waktu kelas III, karena wali kelas IIIC adalah guru bahasa Inggris, kalo gak salah sengaja diecer-ecer, selama seminggu tatap muka sampai 4 kali.
Lain lagi pelajaran kesenian, emang dasarnya saya gak bisa menggambar dll. Bahkan ketika kelas III, pelajarannya adalah main gitar, udah gakpunya, pinjam orang lain untuk ngajarin pun tetep gakbisa. Untung saat itu ujiannya tertutup, hanya ada siswa dan guru, jrang-jreng semaunya, semalu-malunya biarin aja hehehe.
Yang rada lumayan bagus dan seneng adalah pelajaran olahraga. Kalo fisik mungkin sering kalah sama temen2, inget mukul bola volley aja sering nggak bisa melampaui net. Tapi kalo teori lumayan jago lah, nilai 8, 9 atau 10 terus. Inget dulu pernah satu kali eyel2n dengan pak Margono, lebih banyak vitaminnya mana antara tempe dan telor. Saya njawabnya tempe, disalahkan, yg benar telor.
Pelajaran yang agak suka lagi adalah Fisika. Gurunya masih muda, grapyak, sering naik sepeda mini bareng dengan kita-kita. Tapi ketika kelas III, guru diganti dan hilanglah kesukaan saya pada pelajaran fisika.
Pelajaran paling saya suka selama SMP adalah Matematika. Ya, sejak kelas 1 hingga kelas III, pelajaran ini adalah favorit saya. Gurunya kecil, muda, cantik. Bu Christiana Eri Purwanti.
Tapi, lagi-lagi pelajaran berubah menjadi tak menarik tatkala guru kita diganti. Masuk semester VI, bu Eri yang barusan menikah kemudian hamil dan mengajukan pindah ke daerah asal, yaitu Ngawi... jatuhlah nilai matematika saya.
Diajar oleh guru yang sama sekali baru dan asing bagi saya yang sejak kelas I diajar bu Eri, seringkali ulangan harian/mingguna saya betul-betul jeblok. Pernah satu ketika, dari 5 soal yang diberikan, taksatupun saya mampu menjawab dengan benar.
Tuesday, August 1, 1989
Elektronik susah, Jasa aja
Waktu kelas 3, kami diberikan pilihan pelajaran ketrampilan tambahan, yaitu Ketrampilan Jasa atau Ketrampilan Elektronik.
Sebelumnya pernah dapat pelajaran elektronika di kelas II, isinya rangkaian2 elektronika yang susah, tidak mudheng blas. Akhirnya saya milih ketrampilan jasa aja, sudah pelajarannya enak, gurunya gak galak, kalo gak salah namanya bu Ayu, udah gitu nilainya mudah. Diajarin ngitung pembukuan, kenal debet dan kredit saja sudah seneng banget rasanya.
Ingat debet-kredit, saya pernah diajak ikut membuka tabungan TABANAS oleh Sumidi ke BRI deket dengan SMP, tapi karena jarang pegang uang, gaktahu sampai jumlah berapa tabungan saya saat itu, dan gak saya lanjutkan lagi selepas lulus SMP.
Sebelumnya pernah dapat pelajaran elektronika di kelas II, isinya rangkaian2 elektronika yang susah, tidak mudheng blas. Akhirnya saya milih ketrampilan jasa aja, sudah pelajarannya enak, gurunya gak galak, kalo gak salah namanya bu Ayu, udah gitu nilainya mudah. Diajarin ngitung pembukuan, kenal debet dan kredit saja sudah seneng banget rasanya.
Ingat debet-kredit, saya pernah diajak ikut membuka tabungan TABANAS oleh Sumidi ke BRI deket dengan SMP, tapi karena jarang pegang uang, gaktahu sampai jumlah berapa tabungan saya saat itu, dan gak saya lanjutkan lagi selepas lulus SMP.
Saturday, July 1, 1989
Study Tour SMP ke Kebumen
Saat kenaikan kelas II ke kelas III, SMP mengadakan study tour.
Saat itulah saya pertma kalinya mengenal wisata/piknik. Saking semangatnya, sejak malam kami menginap di SMP bersama teman-teman, rencana berangkat setelah shubuh, walaupun akhirnya kami harus puas baru bisa diberangkatkan pukul 8 pagi. Tujuan wisata ke kebumen; Goa Jatijajar, Pantai Ayah, Waduk Sempor. Bus seat 2-3 kita serasa nikmat.
Saya taktahu peta sama sekali, kebumen itu mana, lewat mana, blas gaktahu. Tahu2 kita bisa masuk Goa, pantai, dan wduk. Masih inget, waktu itu saya dikasih bekal nasi dan mentimun. Alhamdulillah gakpakai mabuk, padahal itu mungkin pertamakalinya saya naik bus untuk perjalanan jauh.
Acara study tour cuma 1 hari, takada nginap, so tengah malam barulah kita sampai rumah lagi.
Saat itulah saya pertma kalinya mengenal wisata/piknik. Saking semangatnya, sejak malam kami menginap di SMP bersama teman-teman, rencana berangkat setelah shubuh, walaupun akhirnya kami harus puas baru bisa diberangkatkan pukul 8 pagi. Tujuan wisata ke kebumen; Goa Jatijajar, Pantai Ayah, Waduk Sempor. Bus seat 2-3 kita serasa nikmat.
Saya taktahu peta sama sekali, kebumen itu mana, lewat mana, blas gaktahu. Tahu2 kita bisa masuk Goa, pantai, dan wduk. Masih inget, waktu itu saya dikasih bekal nasi dan mentimun. Alhamdulillah gakpakai mabuk, padahal itu mungkin pertamakalinya saya naik bus untuk perjalanan jauh.
Acara study tour cuma 1 hari, takada nginap, so tengah malam barulah kita sampai rumah lagi.
Tuesday, June 6, 1989
Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2
Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2
SMP Negeri Mondokan, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Kelas 2C sekira Juni 1988 s.d. Juni 1989)
Rusdiyanto
Sarwo Edi
Sudardo
Sudarmini
Sudaryono
Sugiman
Sugimin
Sugini
Sugiri
Sugiyo
Sumanto
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Supar
Suparlan
Suparman
Suparno A
Suparno B
Suparti
Supoyo
Suryastani
Sutinah
harusnya ada 48, tapi yang lain masih lupa
SMP Negeri Mondokan, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Kelas 2C sekira Juni 1988 s.d. Juni 1989)
Rusdiyanto
Sarwo Edi
Sudardo
Sudarmini
Sudaryono
Sugiman
Sugimin
Sugini
Sugiri
Sugiyo
Sumanto
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Supar
Suparlan
Suparman
Suparno A
Suparno B
Suparti
Supoyo
Suryastani
Sutinah
harusnya ada 48, tapi yang lain masih lupa
Thursday, December 1, 1988
Saling kunjungi rumah teman
Saat SMP, terutama saat jam pelajaran kosong atau bebas, guru rapat dll yang akhirnya pulang pagi, kami sering dolan-dolan ke rumah salah satu rumah diantara teman2.
Atau bahkan kalau ada temen yang sakit dan sudah gakmasuk sekolah beberapa hari, atas sepersetujuan wali kelas, kita sekelas menjenguk semuanya.
teringat Sumidi, Sudardo, Turono adalah teman akrab saya, mereka pernah pula berkunjung ke rumah kami. Ibu sedemikian menghargai tamu-tamu saya, walaupun saya anak kecil, tamu2 saya disediakan makanan dan minuman, alhamdulillah, jazakallahu kk.
Gantinya, pernah juga saya jalan2 bersilaturahmi ke rumah Sudardo di Mondokan, rumahnya asri. Mas-nya ada yang sekolah SMA di solo, wah keren sekali sekolah disana, pikir saya waktu itu.
Juga saya sering pulang bareng dan saling mampir ke rumah Turono di Juwok. Dia punya kebun mentimun, sering dan sangat suka saya karena rasanya enak dan banyak, gratis lagi. Kalo ke rumah Sumidi juga sering.
Teringat betapa keakraban kami waktu itu sangat terasa. Pernah naik sepeda bareng2 nengok Rusdiyanto (di Nggrumbul, Tanon) yang sudah sakit sekira 1 minggu. Kami disuguhi minum, bahkan roti yang kita bawa untuk oleh2pun kita makan juga karena dihidangkan.
Seingat saya juga pernah ikut nengok juga Sumini (anak pedagang sapi Mondokan), Dian Purnomo di Bendo (waktu kelas 3), Sumidi (Bendo) dan Utami dll.
Atau bahkan kalau ada temen yang sakit dan sudah gakmasuk sekolah beberapa hari, atas sepersetujuan wali kelas, kita sekelas menjenguk semuanya.
teringat Sumidi, Sudardo, Turono adalah teman akrab saya, mereka pernah pula berkunjung ke rumah kami. Ibu sedemikian menghargai tamu-tamu saya, walaupun saya anak kecil, tamu2 saya disediakan makanan dan minuman, alhamdulillah, jazakallahu kk.
Gantinya, pernah juga saya jalan2 bersilaturahmi ke rumah Sudardo di Mondokan, rumahnya asri. Mas-nya ada yang sekolah SMA di solo, wah keren sekali sekolah disana, pikir saya waktu itu.
Juga saya sering pulang bareng dan saling mampir ke rumah Turono di Juwok. Dia punya kebun mentimun, sering dan sangat suka saya karena rasanya enak dan banyak, gratis lagi. Kalo ke rumah Sumidi juga sering.
Teringat betapa keakraban kami waktu itu sangat terasa. Pernah naik sepeda bareng2 nengok Rusdiyanto (di Nggrumbul, Tanon) yang sudah sakit sekira 1 minggu. Kami disuguhi minum, bahkan roti yang kita bawa untuk oleh2pun kita makan juga karena dihidangkan.
Seingat saya juga pernah ikut nengok juga Sumini (anak pedagang sapi Mondokan), Dian Purnomo di Bendo (waktu kelas 3), Sumidi (Bendo) dan Utami dll.
Tuesday, November 1, 1988
Dijahilin orang: sepedaku dikunci, kunci takda
Saat kelas 2 SMP, saya pernah kena ulah tangan jahil. Waktu itu, saya pakai sepeda jengki RRT kata orang. Perjalanan sekira 30 menit, 8 km tapi jalannya naik-turun. Saat pagi nyampe di sekolah, kadang lupa (kadang buru2, kadang malas juga) untuk mengunci.
Tiba saatnya siang akan pulang, eh malah sepeda saya dikunci orang, yang menjengkelkan adalah kunci nggak tahu ditaruh dimana. Pernah saya tinggal aja, pulang mbonceng kawan, sore diambil pakai kunci dobelannya.
Tapi selang berapa lama kemudian, pas suatu ketika tak terkunci lagi, eh dikunci orang lagi. Karena kunci dobelannya dah habis, terpaksa dech gembok dibongkar paksa. Yah, dasar ulah anak nakal.
Perasaan saya nggak pernah punya musuh atau jahilin orang, tapi kenapa saya dijahilin orang, sampai sekarang nggak tahu itu ulah siapa, insyaAllah saya maafkan, dan semoga Allah mengampuninya.
Tiba saatnya siang akan pulang, eh malah sepeda saya dikunci orang, yang menjengkelkan adalah kunci nggak tahu ditaruh dimana. Pernah saya tinggal aja, pulang mbonceng kawan, sore diambil pakai kunci dobelannya.
Tapi selang berapa lama kemudian, pas suatu ketika tak terkunci lagi, eh dikunci orang lagi. Karena kunci dobelannya dah habis, terpaksa dech gembok dibongkar paksa. Yah, dasar ulah anak nakal.
Perasaan saya nggak pernah punya musuh atau jahilin orang, tapi kenapa saya dijahilin orang, sampai sekarang nggak tahu itu ulah siapa, insyaAllah saya maafkan, dan semoga Allah mengampuninya.
Saturday, October 1, 1988
Gak bawa kaos olahraga, gak senam, dihukum
Tanggal dan bulan persis tidak ingat, saat di kelas 2 SMP.
Suatu pagi, hari Jumat biasanya ada kegiatan rutin dan wajib berupa olahraga bersama seluruh siswa di halaman sekolah, namanya senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Nasib kurang baik menghampiri diriku, mendekati SMP saya lupa nggak bawa kaos olahraga resmi.
Bingung diriku membuat keputusan. Langsung masuk kelas tanpa olahraga gak mungkin (karena mesti melewati halaman sekolah), ikut senam tanpa kaos resmi tentu gak boleh, mau nungguin diluar sekolah juga betapa suntuk dan deg2an kalo ketahuan. Gaktahu kenapa, mungkin mengharapkan keajaiban datang berupa molornya senam, diriku memilih kembali ke rumah yang jaraknya sekira 5 km, dah gitu kecepatan naik sepeda onthel jengki seberapa sih....
Akhirnya.... keberuntungan belum berpihak pada diriku. Sesampainya di sekolah, SKJ telah selesai, temen2 sudah masuk kelas. Siang hari, tibalah saatnya diriku termasuk yang dipanggil untuk menerima hukuman karena gak ikut senam. Kami dijemur di panas terik matahari di lapangan volley berpasir.... nasib... nasib
Suatu pagi, hari Jumat biasanya ada kegiatan rutin dan wajib berupa olahraga bersama seluruh siswa di halaman sekolah, namanya senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Nasib kurang baik menghampiri diriku, mendekati SMP saya lupa nggak bawa kaos olahraga resmi.
Bingung diriku membuat keputusan. Langsung masuk kelas tanpa olahraga gak mungkin (karena mesti melewati halaman sekolah), ikut senam tanpa kaos resmi tentu gak boleh, mau nungguin diluar sekolah juga betapa suntuk dan deg2an kalo ketahuan. Gaktahu kenapa, mungkin mengharapkan keajaiban datang berupa molornya senam, diriku memilih kembali ke rumah yang jaraknya sekira 5 km, dah gitu kecepatan naik sepeda onthel jengki seberapa sih....
Akhirnya.... keberuntungan belum berpihak pada diriku. Sesampainya di sekolah, SKJ telah selesai, temen2 sudah masuk kelas. Siang hari, tibalah saatnya diriku termasuk yang dipanggil untuk menerima hukuman karena gak ikut senam. Kami dijemur di panas terik matahari di lapangan volley berpasir.... nasib... nasib
Monday, August 8, 1988
Pertama mbonceng motor jauh, lewat kota Sragen
Pengalaman menarik tatkala pertama kali melakukan perjalanan jauh naik motor Yamaha L2 Super warna merah bersama bapak.
Saat itu Mas Narto yang sekolah di SMT Pertanian Kedawung (kecamatan di ujung selatan Sragen) tidak bisa pulang. Persediaan uang dan beras untuk makan sehari-hari habis. Akhirnya bapak mengajak saya untuk kesana sekalian silaturahmi ke bapak-ibu kost. Motor ini adalah motor kedua yang dimiliki bapak, sebelumnya punya bebek Honda C-70 warna hijau.
Rumah kami di Ngganti ke Kedawng mungkin sejauh 50 km. Sesampainya di Pungkruk, saya baru tahu kalo ke Sragen jalannya harus belok kiri. Bukan kanan, kalo ke kanan sampai Solo (belum terbayang sama sekali kayak apa Solo itu). Ya walaupun dah SMP, kayaknya baru sekarang agak paham dimana arah Sragen, kemana arah Solo, kuper sangat ya hehe.
Sampai di kost-nya mas Narto, ngobrol dengan ibu kost, lihat-lihat sekolahnya Mas Narto, dan lalu pulang lagi.
Pulangnya kami mampir makan soto (dulu nyebut saya saoto) di pertigaan Pungkruk, enak banget rasanya.
Saat itu Mas Narto yang sekolah di SMT Pertanian Kedawung (kecamatan di ujung selatan Sragen) tidak bisa pulang. Persediaan uang dan beras untuk makan sehari-hari habis. Akhirnya bapak mengajak saya untuk kesana sekalian silaturahmi ke bapak-ibu kost. Motor ini adalah motor kedua yang dimiliki bapak, sebelumnya punya bebek Honda C-70 warna hijau.
Rumah kami di Ngganti ke Kedawng mungkin sejauh 50 km. Sesampainya di Pungkruk, saya baru tahu kalo ke Sragen jalannya harus belok kiri. Bukan kanan, kalo ke kanan sampai Solo (belum terbayang sama sekali kayak apa Solo itu). Ya walaupun dah SMP, kayaknya baru sekarang agak paham dimana arah Sragen, kemana arah Solo, kuper sangat ya hehe.
Sampai di kost-nya mas Narto, ngobrol dengan ibu kost, lihat-lihat sekolahnya Mas Narto, dan lalu pulang lagi.
Pulangnya kami mampir makan soto (dulu nyebut saya saoto) di pertigaan Pungkruk, enak banget rasanya.
Tuesday, December 1, 1987
Miskin, takpunya uang beli buku, takpernah jajan
Teringat miskinnya saya, takpunya uang beli buku pelajaran.
Wali kelas 1 guru bahasa Inggris, bu Dra. Haslinda RR namanya, orangnya baik. Ingat semester 1, satu-satunya pelajar di kelas I C yang tidak memiliki buku pegangan bahasa Inggris adalah saya.
Sampai suatu ketika, dalam forum kelas, ibu Linda bilang, udahlah mau dibayar kapan, dan dicicil berapa kalipun silakan yang penting punya buku, saya tetep gakmau. Saya tidak punya keberanian untuk meminta uang untuk beli buku kepada mas Mul maupun orang tua. Saya sedih dan malu sama temen maupun bu guru, tapi mau gimana lagi.
Pun demikian, alhamdulillah, semester 1 saya mendapatkan kehormatan menjadi juara 1 di kelas I C (sistem rangking per kelas, bukan satu sekolah)
Lagi-lagi saya takpernah sekalipun jajan sekedar tahu, tempe, bakwan atau bahkan soto. Memang sejak SMP, orang tua kami sudah paham begitu pentingnya sarapan pagi, sehingga diusahakan sedikit apapun jika ada kita makan sarapan. Minuman pun saat itu belum terpirir untuk bawa. Ketika olahraga, saya masih teringat, kalo minum pergi aja ke kantin karena disediakan minum gratis, alhamdulillah, banyak pahala bagi pemilik warung, amien.
Bahkan ketika sore hari kalo harus ikut acara pramuka atau olahraga, saya memilih pulang dulu naik sepeda 8 km, makan, sholat, dan berangkat lagi. Dipikir2 sekarang; kok bisa ya.
Inget olahraga, inget dulu setiap hari jum’at pagi wajib senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ada guru Pak Ismu dan Pak Margono yang siap meng-absen mana-mana anak yang tidak ikut. Saya pernah sekali gak ikut, karena lupa nggak bawa kaos, eh kena hukum dech pas jam olahraga. Hukumannya lari mengitari SMP beberapa kali.
Wali kelas 1 guru bahasa Inggris, bu Dra. Haslinda RR namanya, orangnya baik. Ingat semester 1, satu-satunya pelajar di kelas I C yang tidak memiliki buku pegangan bahasa Inggris adalah saya.
Sampai suatu ketika, dalam forum kelas, ibu Linda bilang, udahlah mau dibayar kapan, dan dicicil berapa kalipun silakan yang penting punya buku, saya tetep gakmau. Saya tidak punya keberanian untuk meminta uang untuk beli buku kepada mas Mul maupun orang tua. Saya sedih dan malu sama temen maupun bu guru, tapi mau gimana lagi.
Pun demikian, alhamdulillah, semester 1 saya mendapatkan kehormatan menjadi juara 1 di kelas I C (sistem rangking per kelas, bukan satu sekolah)
Lagi-lagi saya takpernah sekalipun jajan sekedar tahu, tempe, bakwan atau bahkan soto. Memang sejak SMP, orang tua kami sudah paham begitu pentingnya sarapan pagi, sehingga diusahakan sedikit apapun jika ada kita makan sarapan. Minuman pun saat itu belum terpirir untuk bawa. Ketika olahraga, saya masih teringat, kalo minum pergi aja ke kantin karena disediakan minum gratis, alhamdulillah, banyak pahala bagi pemilik warung, amien.
Bahkan ketika sore hari kalo harus ikut acara pramuka atau olahraga, saya memilih pulang dulu naik sepeda 8 km, makan, sholat, dan berangkat lagi. Dipikir2 sekarang; kok bisa ya.
Inget olahraga, inget dulu setiap hari jum’at pagi wajib senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ada guru Pak Ismu dan Pak Margono yang siap meng-absen mana-mana anak yang tidak ikut. Saya pernah sekali gak ikut, karena lupa nggak bawa kaos, eh kena hukum dech pas jam olahraga. Hukumannya lari mengitari SMP beberapa kali.
Saturday, July 25, 1987
Masuk SMP, latihan penataran P4
Sebelum mengikuti proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti penataran P4.
Untuk SMPN Mondokan diselenggarakan pada 20-25 Juli 1987. Enak aja ndengerin pagi hingga tengah hari, njuk pulang.
Untuk SMPN Mondokan diselenggarakan pada 20-25 Juli 1987. Enak aja ndengerin pagi hingga tengah hari, njuk pulang.
Monday, July 20, 1987
Sekolah di SMPN Mondokan
Nama siswa : SUNARDI
Nomor induk : 927
Saat itu melanjutkan sekolah ke SMP masih barang mahal, tapi karena keluarga Pakdhe Samto dan keluarga saya ada yang sudah pada sekolah SMP dan SMA, maka sekolah SMP tentu sama sekali takda masalah, kalo takda uang, minimal semangat mesti membara.
Saya tidak banyak risau untuk masuk SMP mana, karena jauh-jauh hari mas Mul sudah bilang bahwa asal nilai NEM saya bagus. Saya tak ingat pasti, term NEM yang sifatnya nasional kayaknya baru mulai pertama kali diterapkan pada jaman itu. Sebelumnya biasanya hanya dikatakan Ebtanas saja (Evaluasi Belajar Tingkat Akhir Nasional).
Alhamdulillah, dengan NEM yang saya miliki, di SMP Negeri manapun, saya bisa dipastikan masuk SMP Sukodono, Mondokan, maupun Gesi yang relatif dekat dengan kampung kami.
Alasan agar ada temennya Sutris, saya didaftarkan ke SMP N Mondokan, di kecamatan sebelah barat, padahal desa saya saya paling timur sudah berbatasan dengan kecamatan Gesi di sebelah timur. Jadi kalo hitungan dekat, seharusnya ke SMP N Sukodono (di kecamatan sendiri) atau SMP N Gesi. Tapi waktu itu juga mempertimbangkan mutu, SMP N Mondokan kayaknya lagi bagus prestasinya.
Perjalanan naik sepeda jarak sekira 8 km ditempuh dengan naik sepeda. Takda kawan se SD yang ndaftar disana, eh ada satu namanya Prihatin tapi beda kelas, saat kelas II dia jadi ketua OSIS dan sekarang kalo taksalah jadi tentara Kopassus selepas SMP/SMA. Hanya Sutris kawan se-kampung yang sekolah se-SMP. Tapi sempat ketika kelas II ditemeni Purwoko temen sekampung yang baru pindah dari Kalimantan. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke luar jawa mengikuti orang tua.
Masuk SMP, bayar sekolah ditanggung bersama antara Mas Mul dan Bapak, uang seragam mas Mul sedangkan uang gedung bapak-ibu. Ada temen seperjuangan, yaitu Woko yang punya sepeda cantik. Saya masih pake sepeda biasa, tapi sepeda saya antik, dinamakan sepeda "trondol".
Mulai SMP, pembagian waktu dalam setahun bukan lagi per empat bulan (catur wulan, setahun = 3 cawu) seperti sewaktu di SD, tapi semester (per 6 bulan, setahun = 2 semester). SMP dalam satu angkatan waktu itu terbagi dalam 4 kelas ABCD.
Nomor induk : 927
Saat itu melanjutkan sekolah ke SMP masih barang mahal, tapi karena keluarga Pakdhe Samto dan keluarga saya ada yang sudah pada sekolah SMP dan SMA, maka sekolah SMP tentu sama sekali takda masalah, kalo takda uang, minimal semangat mesti membara.
Saya tidak banyak risau untuk masuk SMP mana, karena jauh-jauh hari mas Mul sudah bilang bahwa asal nilai NEM saya bagus. Saya tak ingat pasti, term NEM yang sifatnya nasional kayaknya baru mulai pertama kali diterapkan pada jaman itu. Sebelumnya biasanya hanya dikatakan Ebtanas saja (Evaluasi Belajar Tingkat Akhir Nasional).
Alhamdulillah, dengan NEM yang saya miliki, di SMP Negeri manapun, saya bisa dipastikan masuk SMP Sukodono, Mondokan, maupun Gesi yang relatif dekat dengan kampung kami.
Alasan agar ada temennya Sutris, saya didaftarkan ke SMP N Mondokan, di kecamatan sebelah barat, padahal desa saya saya paling timur sudah berbatasan dengan kecamatan Gesi di sebelah timur. Jadi kalo hitungan dekat, seharusnya ke SMP N Sukodono (di kecamatan sendiri) atau SMP N Gesi. Tapi waktu itu juga mempertimbangkan mutu, SMP N Mondokan kayaknya lagi bagus prestasinya.
Perjalanan naik sepeda jarak sekira 8 km ditempuh dengan naik sepeda. Takda kawan se SD yang ndaftar disana, eh ada satu namanya Prihatin tapi beda kelas, saat kelas II dia jadi ketua OSIS dan sekarang kalo taksalah jadi tentara Kopassus selepas SMP/SMA. Hanya Sutris kawan se-kampung yang sekolah se-SMP. Tapi sempat ketika kelas II ditemeni Purwoko temen sekampung yang baru pindah dari Kalimantan. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke luar jawa mengikuti orang tua.
Masuk SMP, bayar sekolah ditanggung bersama antara Mas Mul dan Bapak, uang seragam mas Mul sedangkan uang gedung bapak-ibu. Ada temen seperjuangan, yaitu Woko yang punya sepeda cantik. Saya masih pake sepeda biasa, tapi sepeda saya antik, dinamakan sepeda "trondol".
Mulai SMP, pembagian waktu dalam setahun bukan lagi per empat bulan (catur wulan, setahun = 3 cawu) seperti sewaktu di SD, tapi semester (per 6 bulan, setahun = 2 semester). SMP dalam satu angkatan waktu itu terbagi dalam 4 kelas ABCD.
Saturday, June 6, 1987
Lulus SD jadi Juara II
Saya sejak kelas 1 selalu rangking 1 atau 2 pada setiap catur wulan (cawu), selalu bergantian dengan Wiryawan yang masih ada tali saudara keluarga.
Mempertahankan tradisi juara saya lakukan karena begitu bangganya saya ketika melihat mas sutris menerima hadiah buku tulis dari sekolah ketika bisa menjuarai kelas. Setelah itu, terpompa semangat saya untuk bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah buku. Terlebih, saat itu mbak Sri juga memberikan hadiah jika saya bisa menjadi juara kelas.
Tapi begitu lulus, eh Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya nomor 2, selisih dikit dengan Haris Triyanto (awal kelas 6 dia pindah dari MIM). NEM saya 35.76, kalo taksalah Haris 35.80.
Nilai NEM saya tertanggal 6 Juni 1987
1. PMP 7.07
2. Bahasa Indonesia 8.15
3. IPA 6.67
4. IPS 7.87
5. Matematika 6.00
Jumlah 35.76
Konstelasi NEM nasional, atau bahkan sekedar di kota Sragen, kita gak paham dan gak kita hiraukan, karena memang nggak kita pakai kecuali utk syarat masuk ke-3 SMP negeri yang terdekat. Saya akhirnya masuk ke SMP N Mondokan, Haris ke SMP N Sukodono, dan Wiryawan ke SMP N Gesi. Kelak, saya dan Haris ketemu lagi di SMA N 1 Sragen, udah gitu satu kelas lagi (1 D).
Mempertahankan tradisi juara saya lakukan karena begitu bangganya saya ketika melihat mas sutris menerima hadiah buku tulis dari sekolah ketika bisa menjuarai kelas. Setelah itu, terpompa semangat saya untuk bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah buku. Terlebih, saat itu mbak Sri juga memberikan hadiah jika saya bisa menjadi juara kelas.
Tapi begitu lulus, eh Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya nomor 2, selisih dikit dengan Haris Triyanto (awal kelas 6 dia pindah dari MIM). NEM saya 35.76, kalo taksalah Haris 35.80.
Nilai NEM saya tertanggal 6 Juni 1987
1. PMP 7.07
2. Bahasa Indonesia 8.15
3. IPA 6.67
4. IPS 7.87
5. Matematika 6.00
Jumlah 35.76
Konstelasi NEM nasional, atau bahkan sekedar di kota Sragen, kita gak paham dan gak kita hiraukan, karena memang nggak kita pakai kecuali utk syarat masuk ke-3 SMP negeri yang terdekat. Saya akhirnya masuk ke SMP N Mondokan, Haris ke SMP N Sukodono, dan Wiryawan ke SMP N Gesi. Kelak, saya dan Haris ketemu lagi di SMA N 1 Sragen, udah gitu satu kelas lagi (1 D).
mengingat temen SD
Mengingat temen sekelas SD
SD Negeri Pantirejo I, Kec. Sukodono, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Masuk kelas 1 sekira Juni 1981, Lulus kelas 6 sekira Juni 1987)
1. Wiryawan (selalu bersaing memperebutkan juara I dengan diriku)
2. Gatot (putrane mbah Ndermo)
3. Haris Triyanton (pindahan dari MI kelas 5 atau 6)
4. Didik (putrane bu guru)
5. Ninik Nuraini (anak pak kaur)
6. Rosmiyati
7. Martantiningsih
8. Sudarti (temen sekampung)
9. Roslan (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
10. Sandim (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
Mungkin total ada 30-an, tapi lupa.....
SD Negeri Pantirejo I, Kec. Sukodono, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Masuk kelas 1 sekira Juni 1981, Lulus kelas 6 sekira Juni 1987)
1. Wiryawan (selalu bersaing memperebutkan juara I dengan diriku)
2. Gatot (putrane mbah Ndermo)
3. Haris Triyanton (pindahan dari MI kelas 5 atau 6)
4. Didik (putrane bu guru)
5. Ninik Nuraini (anak pak kaur)
6. Rosmiyati
7. Martantiningsih
8. Sudarti (temen sekampung)
9. Roslan (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
10. Sandim (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
Mungkin total ada 30-an, tapi lupa.....
Monday, June 1, 1987
Mengingat Guru2 di SD
Kelas 1, 2, 3 saya diasuh oleh guru kelas yang suaranya nyaring, jelas, dan tegas. Bu Wiwik, dari Kuyang (masih satu kelurahan). Beliau guru baru, pindahan dari sekolah lain. Ingat bu Wiwik, saya sangat terinspirasi sekali dengan sebuah film saat itu yang saya tonton di televisi punya pakdhe, tentang kegigihan belajar seorang anak kampung dan kegigihan mengajar seorang guru perempuan kota yang ditempatkan dipelosok negri. Ketika sukses dalam belajar, demikian bangganya pada diri si murid dan si guru.
Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.
Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.
Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.
Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.
Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.
Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.
Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.
Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.
Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.
Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.
Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.
Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.
Thursday, May 14, 1987
11-14 Mei 1987 EBTANAS
11-14 Mei 1987 Ujian Ebtanas SD.
Ini adalah Ujian akhir sekolah pertama yang saya ikuti. Ini pertaruhan reputasi saya selama ini dan sebagai bekal melangkah ke SMP. Nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni, gaktahu kalo ga kmurni kayak apa) akan dijadikan bahan persyaratan dan standard untuk penerimaan siswa SMP, jadi harus all out.
Data saya;
No peserta : 254
Sekolah asal : SD Negeri Pantirejo I
Ini adalah Ujian akhir sekolah pertama yang saya ikuti. Ini pertaruhan reputasi saya selama ini dan sebagai bekal melangkah ke SMP. Nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni, gaktahu kalo ga kmurni kayak apa) akan dijadikan bahan persyaratan dan standard untuk penerimaan siswa SMP, jadi harus all out.
Data saya;
No peserta : 254
Sekolah asal : SD Negeri Pantirejo I
Tuesday, July 1, 1986
Gagal panen, gagal study tour
Ada kejadian yang tak terlupakan waktu akhir-akhir di SD, rencana piknik gagal total.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kenaikan dari kelas V ke kelas VI, diadakan study tour. Saat kita di kelas V, sudah dirancang jauh-jauh hari study tour ke Jogja. Namun, pada saat kenaikan kelas acara tersebut dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami semua orang kampung yang mengandalkan hasil pertanian, dan saat itu terjadi kekeringan yang hebat hingga gagal panen, dan imbasnya kami semua menyetujui pembatalan ini. Yah, semua harus prihatin.
Ingat kekeringan, ingat sumur hampir semua tidak ada cukup air untuk ditimba. Kami membuat sumur "belik", bekas sungai yg mengering dibuat sumur, lumayan sedikit masih bisa ada airnya.
Teringat juga saat itu, pernah nimba di sumur di kebunnya Lik Sardi deket kuburan, padahal sumur tsb hampir tidak pernah diambil airnya. Atau ambil air di belik, sungai dekat rumah.
Karena air terbatas, maka sebelum shubuh kami sudah menimba air, siang dikit dah rebutan soalnya.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kenaikan dari kelas V ke kelas VI, diadakan study tour. Saat kita di kelas V, sudah dirancang jauh-jauh hari study tour ke Jogja. Namun, pada saat kenaikan kelas acara tersebut dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami semua orang kampung yang mengandalkan hasil pertanian, dan saat itu terjadi kekeringan yang hebat hingga gagal panen, dan imbasnya kami semua menyetujui pembatalan ini. Yah, semua harus prihatin.
Ingat kekeringan, ingat sumur hampir semua tidak ada cukup air untuk ditimba. Kami membuat sumur "belik", bekas sungai yg mengering dibuat sumur, lumayan sedikit masih bisa ada airnya.
Teringat juga saat itu, pernah nimba di sumur di kebunnya Lik Sardi deket kuburan, padahal sumur tsb hampir tidak pernah diambil airnya. Atau ambil air di belik, sungai dekat rumah.
Karena air terbatas, maka sebelum shubuh kami sudah menimba air, siang dikit dah rebutan soalnya.
Monday, November 11, 1985
Berantem, temen baik, temen jahat....
Pernah berkelahi di kelas 5 SD dengan temen yang bernama Sandim yang sangat nakal. Saya mau duduk di kursi jatuh terjengkang karena kursi dia ambil, saya pukul dia tapi dia mengindar, akhirnya saya labrak. Untung dia nggak balas, mungkin tahu kalo saya dibalas, habislah saya.
Teringat satu ketika dia membuat onar se-sekolah, karena menggosokkan cairan merah ("teres") ke wajah temen kami namanya Lasmiati.
Temen nakal satunya lagi adalah Ruslan. Untuk meredam kenakalannya, dan untuk membuat bangga nama, seringkali pak Muchlis mengungkit nama Ruslan Abdul Ghani sehingga diharapkan Ruslan mau mengubah sikapnya.
Satu lagi temen yang sering dipuji pak Muchlis karena kesalehannya adalah Nuraini anak pak Kardi Kuyang yang baru kelas 5 pindah dari MIM ke SD kami.
Teringat satu ketika dia membuat onar se-sekolah, karena menggosokkan cairan merah ("teres") ke wajah temen kami namanya Lasmiati.
Temen nakal satunya lagi adalah Ruslan. Untuk meredam kenakalannya, dan untuk membuat bangga nama, seringkali pak Muchlis mengungkit nama Ruslan Abdul Ghani sehingga diharapkan Ruslan mau mengubah sikapnya.
Satu lagi temen yang sering dipuji pak Muchlis karena kesalehannya adalah Nuraini anak pak Kardi Kuyang yang baru kelas 5 pindah dari MIM ke SD kami.
Thursday, October 10, 1985
Ikut Tim Pesta Siaga
Tahun 1985/1986
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu saya sedang kelas 5 SD, tapi ada juga yang kelas 4 maupun kelas 6, jadi tim campuran lintas kelas untuk mengikuti pesta siaga (Pramuka bagi anak SD).
Saya bersama teman2 ditunjuklah tim 10 orang laki2 mewakili SD kami disandingkan dengan tim berjumlah 10 siswi SD Karanganom 1. gaktahu prosedur pemilihan kami atau sekolah kami seperti apa, intinya kami langsung menjadi wakil kecamatan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat kabupaten Sragen, dan jika menang maka akan mewakili Pesta Siaga Nasional di Cibubur tahun 1986. Wah, sangat menantang. Kami dididik selama bermnggu2, kadang di sekolah sendiri, kadang di SD Karanganom dan digabungkan dengan kelompok siswi.
Tibalah saatnya yang ditunggu2 untuk bertanding dalam kompetisi Pesta Siaga yingkat kabupaten Sragen, pelaksanaan di lapangan Plupuh. Kami diberangkatkan dengan mobil station merah milik kecamatan, bangganya kami mewakili kecamatan.
Pesta Siaga disini, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan bekal berapa poin. Kelompok yang bisa mengumpulkan poin paling banyak akan jadi juara. Sayang, kelompok tim putra maupun tim putri kami tidak bisa menjuarai dan mewakili kabupaten Sragen ke tingkat Nasional.
Kenang2an berupa baju pramuka, tapi desain seperti baju koko bertahan lama karena setiap jum’at sabtu baju tsb selalu kami pakai untuk seragam sekolah hingga lulus SD.
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu saya sedang kelas 5 SD, tapi ada juga yang kelas 4 maupun kelas 6, jadi tim campuran lintas kelas untuk mengikuti pesta siaga (Pramuka bagi anak SD).
Saya bersama teman2 ditunjuklah tim 10 orang laki2 mewakili SD kami disandingkan dengan tim berjumlah 10 siswi SD Karanganom 1. gaktahu prosedur pemilihan kami atau sekolah kami seperti apa, intinya kami langsung menjadi wakil kecamatan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat kabupaten Sragen, dan jika menang maka akan mewakili Pesta Siaga Nasional di Cibubur tahun 1986. Wah, sangat menantang. Kami dididik selama bermnggu2, kadang di sekolah sendiri, kadang di SD Karanganom dan digabungkan dengan kelompok siswi.
Tibalah saatnya yang ditunggu2 untuk bertanding dalam kompetisi Pesta Siaga yingkat kabupaten Sragen, pelaksanaan di lapangan Plupuh. Kami diberangkatkan dengan mobil station merah milik kecamatan, bangganya kami mewakili kecamatan.
Pesta Siaga disini, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan bekal berapa poin. Kelompok yang bisa mengumpulkan poin paling banyak akan jadi juara. Sayang, kelompok tim putra maupun tim putri kami tidak bisa menjuarai dan mewakili kabupaten Sragen ke tingkat Nasional.
Kenang2an berupa baju pramuka, tapi desain seperti baju koko bertahan lama karena setiap jum’at sabtu baju tsb selalu kami pakai untuk seragam sekolah hingga lulus SD.
Thursday, August 8, 1985
Lomba cerdas cermat P4 SD se-kecamatan
Tahun 1985/1986
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu kami sedang kelas 5 SD. Saya ditunjuk sebagai salah satu dari 3 siswa yang diberangkatkan untuk mengikuti seleksi cerdas cermat P4 tingkat kecamatan. Temen seperjuangan adalah Wiryawan dan Gatot.
Pada tahap pertama, semua kelompok dari seluruh SD se-kecamatan sukodono dikumpulkan di gedung PGRI, kami diberikan soal untuk dijawab secara tertulis. Di akhir acara, setelah dikoreksi hari itu juga diumumkan bahwa, kelompok kami menjadi 3 besar dengan nilai teratas, sehingga berhak maju ke babak berikutnya...alhamdulillah.
Sekira seminggu kemudian, diadakanlah lomba cerdas cermat di salah satu ruangan di kecamatan. Penuh doa dari pakdhe dengan saya dkasih minum telor ayam jawa mentah biar sukses.
Namun demikian, kami belum beruntung tidak bisa menjadi yang terbaik utk mewakili kecamatan Sukodono dalam pentas tingkat kabupaten Sragen, namun demikian kami tetap bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan bisa banyak belajar.
Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu kami sedang kelas 5 SD. Saya ditunjuk sebagai salah satu dari 3 siswa yang diberangkatkan untuk mengikuti seleksi cerdas cermat P4 tingkat kecamatan. Temen seperjuangan adalah Wiryawan dan Gatot.
Pada tahap pertama, semua kelompok dari seluruh SD se-kecamatan sukodono dikumpulkan di gedung PGRI, kami diberikan soal untuk dijawab secara tertulis. Di akhir acara, setelah dikoreksi hari itu juga diumumkan bahwa, kelompok kami menjadi 3 besar dengan nilai teratas, sehingga berhak maju ke babak berikutnya...alhamdulillah.
Sekira seminggu kemudian, diadakanlah lomba cerdas cermat di salah satu ruangan di kecamatan. Penuh doa dari pakdhe dengan saya dkasih minum telor ayam jawa mentah biar sukses.
Namun demikian, kami belum beruntung tidak bisa menjadi yang terbaik utk mewakili kecamatan Sukodono dalam pentas tingkat kabupaten Sragen, namun demikian kami tetap bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan bisa banyak belajar.
Sunday, July 1, 1984
Kelas 4; mulai pakai sepatu, BP3, PSPB
Sejak kelas 4, kami baru mulai di-sunnah-kan makai sepatu. Yah, sepatu adalah barang mahal bagi kami. Mulai sekarang, diharapkan ke sekolah memakai sepatu jika punya, jika belum punya ya "nyeker" tanpa alas kaki.
Teringat saat itu saya dah dibelikan sepatu sepasang, untuk menghemat pengunaan biar awet, sepatu hanya saya pakai setiap hari Senin saat upacara bendera, karena hampir pasti saya bertugas sebagai inspektur upacara atau menaikkan bendera. Hari-hari lain, nyeker-lah.
Sejak kelas 4 sekolah baru pertama kali mengenal adanya bayaran bulanan ke sekolah, namanya BP3, sebelumnya semua betul2 free, buku pun dipinjami dari sekolah, gakperlu beli ntar di akhir cawu dikembalikan lagi ke sekolah, kelak untuk adik kelas kita. Kalo taksalah sebelumnya hanya bayar saat mau ujian aja.
Waktu kelas 4 ini pula, dikenalkan pelajaran baru yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tapi diberikan sebagai tambahan pada cawu-cawu tertentu saja, tidak diberikan setiap cawu.
Teringat saat itu saya dah dibelikan sepatu sepasang, untuk menghemat pengunaan biar awet, sepatu hanya saya pakai setiap hari Senin saat upacara bendera, karena hampir pasti saya bertugas sebagai inspektur upacara atau menaikkan bendera. Hari-hari lain, nyeker-lah.
Sejak kelas 4 sekolah baru pertama kali mengenal adanya bayaran bulanan ke sekolah, namanya BP3, sebelumnya semua betul2 free, buku pun dipinjami dari sekolah, gakperlu beli ntar di akhir cawu dikembalikan lagi ke sekolah, kelak untuk adik kelas kita. Kalo taksalah sebelumnya hanya bayar saat mau ujian aja.
Waktu kelas 4 ini pula, dikenalkan pelajaran baru yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tapi diberikan sebagai tambahan pada cawu-cawu tertentu saja, tidak diberikan setiap cawu.
Sunday, January 1, 1984
Konspirasi menilai kerapian berbaris
Saya lupa mulainya kapan dan bagaimanan memulainya bahkan hingga kapan mengakhirinya. Saya dan Wiryawan yang selalu bergantian juara kelas sejak kelas 1 membuat konspirasi.
Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.
Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.
Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.
Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.
Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.
Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.
Saturday, January 1, 1983
SD kami porak poranda kena angin ribut
Suasana sekolah sempat kacau balau, mungkin tahun 1983-an), SD kami berantakan, atap yang terbuat dari seng, asbes, maupun genting beterbangan. Bahkan ada ditemukan seng sekolah kami terbang dan ditemukan di desa Tanggung yg jaraknya sekira 2 km. Betul2 angin yang dahsyat merobohkan sekolah kami.
Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.
Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.
Wednesday, July 7, 1982
Salaman maaf-maafan idul fitri sampe 3x
Kejadian ini berlangsung beberapa kali lebaran idul fitri saat diriku masih kecil, sebelum dan awal-awal sekolah SD, saya masih ingat betapa luar biasa.
Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.
Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.
Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.
Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....
Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.
Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.
Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.
Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....
Tuesday, February 2, 1982
Belajar disiplin bersama Pakdhe
Pakdhe orangnya sangat disiplin dalam mengatur kami. Saya dan Sutris tiap hari bangun pagi-pagi sekali, sholat shubuh. Kemudian kami bersih2 rumah dan pekarangan. Taklupa, kami buat api dapur untuk memasak air teh kegemaran pakdhe.
Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.
Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.
Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.
Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.
Friday, January 1, 1982
Ikut di rumah Pakdhe
Tak ingat pasti, mungkin sekira sejak kelas 1 ikut keluarga Pakdhe Samto
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.
Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.
Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.
Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.
Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.
Monday, July 20, 1981
Tak pernah sekolah TK, langsung SD
Saya takpernah merasakan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) karena saat itu memang belum ada sekolah TK yang dekat. Lagipula, takada keharusan, langsung masuk SD boleh asal umur udah 7 tahun, bahkan ada orangtua yang memasukkan anaknya tatkala baru berumur 6 tahun. Tapi rata-rata di kampung atau SD kami, umur 7 tahun baru diterima betul2 sebagai pelajar.
Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.
Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I
Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.
Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I
Tuesday, January 1, 1980
Anak desa
Kelumit cerita anak desa
Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.
Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).
Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.
Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.
Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.
Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll
Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.
Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.
Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).
Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.
Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.
Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.
Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll
Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.
Subscribe to:
Posts (Atom)