Tuesday, August 1, 1989

Elektronik susah, Jasa aja

Waktu kelas 3, kami diberikan pilihan pelajaran ketrampilan tambahan, yaitu Ketrampilan Jasa atau Ketrampilan Elektronik.

Sebelumnya pernah dapat pelajaran elektronika di kelas II, isinya rangkaian2 elektronika yang susah, tidak mudheng blas. Akhirnya saya milih ketrampilan jasa aja, sudah pelajarannya enak, gurunya gak galak, kalo gak salah namanya bu Ayu, udah gitu nilainya mudah. Diajarin ngitung pembukuan, kenal debet dan kredit saja sudah seneng banget rasanya.

Ingat debet-kredit, saya pernah diajak ikut membuka tabungan TABANAS oleh Sumidi ke BRI deket dengan SMP, tapi karena jarang pegang uang, gaktahu sampai jumlah berapa tabungan saya saat itu, dan gak saya lanjutkan lagi selepas lulus SMP.

Saturday, July 1, 1989

Study Tour SMP ke Kebumen

Saat kenaikan kelas II ke kelas III, SMP mengadakan study tour.

Saat itulah saya pertma kalinya mengenal wisata/piknik. Saking semangatnya, sejak malam kami menginap di SMP bersama teman-teman, rencana berangkat setelah shubuh, walaupun akhirnya kami harus puas baru bisa diberangkatkan pukul 8 pagi. Tujuan wisata ke kebumen; Goa Jatijajar, Pantai Ayah, Waduk Sempor. Bus seat 2-3 kita serasa nikmat.

Saya taktahu peta sama sekali, kebumen itu mana, lewat mana, blas gaktahu. Tahu2 kita bisa masuk Goa, pantai, dan wduk. Masih inget, waktu itu saya dikasih bekal nasi dan mentimun. Alhamdulillah gakpakai mabuk, padahal itu mungkin pertamakalinya saya naik bus untuk perjalanan jauh.

Acara study tour cuma 1 hari, takada nginap, so tengah malam barulah kita sampai rumah lagi.

Tuesday, June 6, 1989

Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2

Mengingat temen sekelas SMP Kelas 2
SMP Negeri Mondokan, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Kelas 2C sekira Juni 1988 s.d. Juni 1989)

Rusdiyanto
Sarwo Edi
Sudardo
Sudarmini
Sudaryono
Sugiman
Sugimin
Sugini
Sugiri
Sugiyo
Sumanto
Sumidi
Sunardi
Sunarso
Supar
Suparlan
Suparman
Suparno A
Suparno B
Suparti
Supoyo
Suryastani
Sutinah

harusnya ada 48, tapi yang lain masih lupa

Thursday, December 1, 1988

Saling kunjungi rumah teman

Saat SMP, terutama saat jam pelajaran kosong atau bebas, guru rapat dll yang akhirnya pulang pagi, kami sering dolan-dolan ke rumah salah satu rumah diantara teman2.
Atau bahkan kalau ada temen yang sakit dan sudah gakmasuk sekolah beberapa hari, atas sepersetujuan wali kelas, kita sekelas menjenguk semuanya.

teringat Sumidi, Sudardo, Turono adalah teman akrab saya, mereka pernah pula berkunjung ke rumah kami. Ibu sedemikian menghargai tamu-tamu saya, walaupun saya anak kecil, tamu2 saya disediakan makanan dan minuman, alhamdulillah, jazakallahu kk.

Gantinya, pernah juga saya jalan2 bersilaturahmi ke rumah Sudardo di Mondokan, rumahnya asri. Mas-nya ada yang sekolah SMA di solo, wah keren sekali sekolah disana, pikir saya waktu itu.

Juga saya sering pulang bareng dan saling mampir ke rumah Turono di Juwok. Dia punya kebun mentimun, sering dan sangat suka saya karena rasanya enak dan banyak, gratis lagi. Kalo ke rumah Sumidi juga sering.

Teringat betapa keakraban kami waktu itu sangat terasa. Pernah naik sepeda bareng2 nengok Rusdiyanto (di Nggrumbul, Tanon) yang sudah sakit sekira 1 minggu. Kami disuguhi minum, bahkan roti yang kita bawa untuk oleh2pun kita makan juga karena dihidangkan.

Seingat saya juga pernah ikut nengok juga Sumini (anak pedagang sapi Mondokan), Dian Purnomo di Bendo (waktu kelas 3), Sumidi (Bendo) dan Utami dll.

Tuesday, November 1, 1988

Dijahilin orang: sepedaku dikunci, kunci takda

Saat kelas 2 SMP, saya pernah kena ulah tangan jahil. Waktu itu, saya pakai sepeda jengki RRT kata orang. Perjalanan sekira 30 menit, 8 km tapi jalannya naik-turun. Saat pagi nyampe di sekolah, kadang lupa (kadang buru2, kadang malas juga) untuk mengunci.

Tiba saatnya siang akan pulang, eh malah sepeda saya dikunci orang, yang menjengkelkan adalah kunci nggak tahu ditaruh dimana. Pernah saya tinggal aja, pulang mbonceng kawan, sore diambil pakai kunci dobelannya.

Tapi selang berapa lama kemudian, pas suatu ketika tak terkunci lagi, eh dikunci orang lagi. Karena kunci dobelannya dah habis, terpaksa dech gembok dibongkar paksa. Yah, dasar ulah anak nakal.

Perasaan saya nggak pernah punya musuh atau jahilin orang, tapi kenapa saya dijahilin orang, sampai sekarang nggak tahu itu ulah siapa, insyaAllah saya maafkan, dan semoga Allah mengampuninya.

Saturday, October 1, 1988

Gak bawa kaos olahraga, gak senam, dihukum

Tanggal dan bulan persis tidak ingat, saat di kelas 2 SMP.

Suatu pagi, hari Jumat biasanya ada kegiatan rutin dan wajib berupa olahraga bersama seluruh siswa di halaman sekolah, namanya senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Nasib kurang baik menghampiri diriku, mendekati SMP saya lupa nggak bawa kaos olahraga resmi.

Bingung diriku membuat keputusan. Langsung masuk kelas tanpa olahraga gak mungkin (karena mesti melewati halaman sekolah), ikut senam tanpa kaos resmi tentu gak boleh, mau nungguin diluar sekolah juga betapa suntuk dan deg2an kalo ketahuan. Gaktahu kenapa, mungkin mengharapkan keajaiban datang berupa molornya senam, diriku memilih kembali ke rumah yang jaraknya sekira 5 km, dah gitu kecepatan naik sepeda onthel jengki seberapa sih....

Akhirnya.... keberuntungan belum berpihak pada diriku. Sesampainya di sekolah, SKJ telah selesai, temen2 sudah masuk kelas. Siang hari, tibalah saatnya diriku termasuk yang dipanggil untuk menerima hukuman karena gak ikut senam. Kami dijemur di panas terik matahari di lapangan volley berpasir.... nasib... nasib

Monday, August 8, 1988

Pertama mbonceng motor jauh, lewat kota Sragen

Pengalaman menarik tatkala pertama kali melakukan perjalanan jauh naik motor Yamaha L2 Super warna merah bersama bapak.

Saat itu Mas Narto yang sekolah di SMT Pertanian Kedawung (kecamatan di ujung selatan Sragen) tidak bisa pulang. Persediaan uang dan beras untuk makan sehari-hari habis. Akhirnya bapak mengajak saya untuk kesana sekalian silaturahmi ke bapak-ibu kost. Motor ini adalah motor kedua yang dimiliki bapak, sebelumnya punya bebek Honda C-70 warna hijau.

Rumah kami di Ngganti ke Kedawng mungkin sejauh 50 km. Sesampainya di Pungkruk, saya baru tahu kalo ke Sragen jalannya harus belok kiri. Bukan kanan, kalo ke kanan sampai Solo (belum terbayang sama sekali kayak apa Solo itu). Ya walaupun dah SMP, kayaknya baru sekarang agak paham dimana arah Sragen, kemana arah Solo, kuper sangat ya hehe.

Sampai di kost-nya mas Narto, ngobrol dengan ibu kost, lihat-lihat sekolahnya Mas Narto, dan lalu pulang lagi.

Pulangnya kami mampir makan soto (dulu nyebut saya saoto) di pertigaan Pungkruk, enak banget rasanya.

Tuesday, December 1, 1987

Miskin, takpunya uang beli buku, takpernah jajan

Teringat miskinnya saya, takpunya uang beli buku pelajaran.

Wali kelas 1 guru bahasa Inggris, bu Dra. Haslinda RR namanya, orangnya baik. Ingat semester 1, satu-satunya pelajar di kelas I C yang tidak memiliki buku pegangan bahasa Inggris adalah saya.

Sampai suatu ketika, dalam forum kelas, ibu Linda bilang, udahlah mau dibayar kapan, dan dicicil berapa kalipun silakan yang penting punya buku, saya tetep gakmau. Saya tidak punya keberanian untuk meminta uang untuk beli buku kepada mas Mul maupun orang tua. Saya sedih dan malu sama temen maupun bu guru, tapi mau gimana lagi.

Pun demikian, alhamdulillah, semester 1 saya mendapatkan kehormatan menjadi juara 1 di kelas I C (sistem rangking per kelas, bukan satu sekolah)

Lagi-lagi saya takpernah sekalipun jajan sekedar tahu, tempe, bakwan atau bahkan soto. Memang sejak SMP, orang tua kami sudah paham begitu pentingnya sarapan pagi, sehingga diusahakan sedikit apapun jika ada kita makan sarapan. Minuman pun saat itu belum terpirir untuk bawa. Ketika olahraga, saya masih teringat, kalo minum pergi aja ke kantin karena disediakan minum gratis, alhamdulillah, banyak pahala bagi pemilik warung, amien.

Bahkan ketika sore hari kalo harus ikut acara pramuka atau olahraga, saya memilih pulang dulu naik sepeda 8 km, makan, sholat, dan berangkat lagi. Dipikir2 sekarang; kok bisa ya.

Inget olahraga, inget dulu setiap hari jum’at pagi wajib senam SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Ada guru Pak Ismu dan Pak Margono yang siap meng-absen mana-mana anak yang tidak ikut. Saya pernah sekali gak ikut, karena lupa nggak bawa kaos, eh kena hukum dech pas jam olahraga. Hukumannya lari mengitari SMP beberapa kali.

Saturday, July 25, 1987

Masuk SMP, latihan penataran P4

Sebelum mengikuti proses belajar mengajar, siswa baru wajib mengikuti penataran P4.

Untuk SMPN Mondokan diselenggarakan pada 20-25 Juli 1987. Enak aja ndengerin pagi hingga tengah hari, njuk pulang.

Monday, July 20, 1987

Sekolah di SMPN Mondokan

Nama siswa : SUNARDI
Nomor induk : 927

Saat itu melanjutkan sekolah ke SMP masih barang mahal, tapi karena keluarga Pakdhe Samto dan keluarga saya ada yang sudah pada sekolah SMP dan SMA, maka sekolah SMP tentu sama sekali takda masalah, kalo takda uang, minimal semangat mesti membara.

Saya tidak banyak risau untuk masuk SMP mana, karena jauh-jauh hari mas Mul sudah bilang bahwa asal nilai NEM saya bagus. Saya tak ingat pasti, term NEM yang sifatnya nasional kayaknya baru mulai pertama kali diterapkan pada jaman itu. Sebelumnya biasanya hanya dikatakan Ebtanas saja (Evaluasi Belajar Tingkat Akhir Nasional).
Alhamdulillah, dengan NEM yang saya miliki, di SMP Negeri manapun, saya bisa dipastikan masuk SMP Sukodono, Mondokan, maupun Gesi yang relatif dekat dengan kampung kami.

Alasan agar ada temennya Sutris, saya didaftarkan ke SMP N Mondokan, di kecamatan sebelah barat, padahal desa saya saya paling timur sudah berbatasan dengan kecamatan Gesi di sebelah timur. Jadi kalo hitungan dekat, seharusnya ke SMP N Sukodono (di kecamatan sendiri) atau SMP N Gesi. Tapi waktu itu juga mempertimbangkan mutu, SMP N Mondokan kayaknya lagi bagus prestasinya.

Perjalanan naik sepeda jarak sekira 8 km ditempuh dengan naik sepeda. Takda kawan se SD yang ndaftar disana, eh ada satu namanya Prihatin tapi beda kelas, saat kelas II dia jadi ketua OSIS dan sekarang kalo taksalah jadi tentara Kopassus selepas SMP/SMA. Hanya Sutris kawan se-kampung yang sekolah se-SMP. Tapi sempat ketika kelas II ditemeni Purwoko temen sekampung yang baru pindah dari Kalimantan. Tapi setelah itu, dia pergi lagi ke luar jawa mengikuti orang tua.

Masuk SMP, bayar sekolah ditanggung bersama antara Mas Mul dan Bapak, uang seragam mas Mul sedangkan uang gedung bapak-ibu. Ada temen seperjuangan, yaitu Woko yang punya sepeda cantik. Saya masih pake sepeda biasa, tapi sepeda saya antik, dinamakan sepeda "trondol".

Mulai SMP, pembagian waktu dalam setahun bukan lagi per empat bulan (catur wulan, setahun = 3 cawu) seperti sewaktu di SD, tapi semester (per 6 bulan, setahun = 2 semester). SMP dalam satu angkatan waktu itu terbagi dalam 4 kelas ABCD.

Saturday, June 6, 1987

Lulus SD jadi Juara II

Saya sejak kelas 1 selalu rangking 1 atau 2 pada setiap catur wulan (cawu), selalu bergantian dengan Wiryawan yang masih ada tali saudara keluarga.

Mempertahankan tradisi juara saya lakukan karena begitu bangganya saya ketika melihat mas sutris menerima hadiah buku tulis dari sekolah ketika bisa menjuarai kelas. Setelah itu, terpompa semangat saya untuk bisa menjadi juara kelas dan mendapatkan hadiah buku. Terlebih, saat itu mbak Sri juga memberikan hadiah jika saya bisa menjadi juara kelas.

Tapi begitu lulus, eh Nilai Ebtanas Murni (NEM) saya nomor 2, selisih dikit dengan Haris Triyanto (awal kelas 6 dia pindah dari MIM). NEM saya 35.76, kalo taksalah Haris 35.80.

Nilai NEM saya tertanggal 6 Juni 1987
1. PMP 7.07
2. Bahasa Indonesia 8.15
3. IPA 6.67
4. IPS 7.87
5. Matematika 6.00
Jumlah 35.76

Konstelasi NEM nasional, atau bahkan sekedar di kota Sragen, kita gak paham dan gak kita hiraukan, karena memang nggak kita pakai kecuali utk syarat masuk ke-3 SMP negeri yang terdekat. Saya akhirnya masuk ke SMP N Mondokan, Haris ke SMP N Sukodono, dan Wiryawan ke SMP N Gesi. Kelak, saya dan Haris ketemu lagi di SMA N 1 Sragen, udah gitu satu kelas lagi (1 D).

mengingat temen SD

Mengingat temen sekelas SD
SD Negeri Pantirejo I, Kec. Sukodono, Kab. Sragen, Jawa Tengah.
(Masuk kelas 1 sekira Juni 1981, Lulus kelas 6 sekira Juni 1987)

1. Wiryawan (selalu bersaing memperebutkan juara I dengan diriku)
2. Gatot (putrane mbah Ndermo)
3. Haris Triyanton (pindahan dari MI kelas 5 atau 6)
4. Didik (putrane bu guru)
5. Ninik Nuraini (anak pak kaur)
6. Rosmiyati
7. Martantiningsih
8. Sudarti (temen sekampung)
9. Roslan (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)
10. Sandim (kakak kelas, lalu jadi adik kelas)

Mungkin total ada 30-an, tapi lupa.....

Monday, June 1, 1987

Mengingat Guru2 di SD

Kelas 1, 2, 3 saya diasuh oleh guru kelas yang suaranya nyaring, jelas, dan tegas. Bu Wiwik, dari Kuyang (masih satu kelurahan). Beliau guru baru, pindahan dari sekolah lain. Ingat bu Wiwik, saya sangat terinspirasi sekali dengan sebuah film saat itu yang saya tonton di televisi punya pakdhe, tentang kegigihan belajar seorang anak kampung dan kegigihan mengajar seorang guru perempuan kota yang ditempatkan dipelosok negri. Ketika sukses dalam belajar, demikian bangganya pada diri si murid dan si guru.

Benernya biasanya kelas 1 atau 2 diajar oleh pak Ngadimin, rumahnya persis di sebelah SD, berbatasan dengan pagar sekolah saja. Tapi gaktahu kenapa, hanya angkatan saya yang tidak pernah diajar oleh beliau. Orangnya juga baik, kalem, lembut cocok untuk anak-anak kelas 1 atau 2.

Kelas 4 wali kelas pak Darminto, terkenal galak, kalo taksalah ditengah-tengah tahun, beliau pindah ke sekolah lain yang lebih dekat ke rumah beliau. Kayaknya beliau rumahnya yang paling jauh dengan SD kami.

Di kelas 4 ini, kami mulai kedatangan guru agama baru, pak Muchlis, asal Tanon. Orangnya lembut, membawa suasana baru dalam pola pembelajaran. Masih inget ketika beliau mengajarkan hadits (berbuat baik pada tamu) maupun hafalan surat (Al Ma’un dan At Tien) kami diminta untuk berdiri, setiap penggal hafalan menghadap ke sisi yang berbeda sehingga memudahkan kami untuk menghafalnya.

Guru agama sebelumnya yang terkenal galak, bu Syamsiyah pindah ke MIM yang lebih deket dengan rumah beliau, cuma sekira 100m, kalo ke SD kami sekira 700m.

Kelas 5 dan 6 kami diasuh wali kelas, Pak Sukardi, kampung selatan saya (beda kelurahan), orangnya kalem, lembut, dan jelas jika menerangkan sesuatu. Teringat saya pada pelajaran IPA. LNG adalah gas yang dimampatkan (saya dulu nulisnya gas yang dimanfaatkan, eh disalahkan), kemudian beliau menjelaskan apa makna dimampatkan itu. Juga ketika saya meminta penjelasan lebih jauh, kenapa tumbuhan memasak makanan pada siang hari (saya percaya mesti memasaknya malam hari, karena saya beralasan siang hari saya takpernah sekalipun melihat tumbuhan memasak makanan). Kemudian beliau jelaskan panjang lebar tentang proses memasak makanan oleh tumbuhan yang mesti memerlukan sinar matahari.

Mulai kelas V mungkin, kami ada guru khusus olahraga, Bu Insiyatun, rumahnya deket sekolahan.

Thursday, May 14, 1987

11-14 Mei 1987 EBTANAS

11-14 Mei 1987 Ujian Ebtanas SD.

Ini adalah Ujian akhir sekolah pertama yang saya ikuti. Ini pertaruhan reputasi saya selama ini dan sebagai bekal melangkah ke SMP. Nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni, gaktahu kalo ga kmurni kayak apa) akan dijadikan bahan persyaratan dan standard untuk penerimaan siswa SMP, jadi harus all out.

Data saya;
No peserta : 254
Sekolah asal : SD Negeri Pantirejo I

Tuesday, July 1, 1986

Gagal panen, gagal study tour

Ada kejadian yang tak terlupakan waktu akhir-akhir di SD, rencana piknik gagal total.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat kenaikan dari kelas V ke kelas VI, diadakan study tour. Saat kita di kelas V, sudah dirancang jauh-jauh hari study tour ke Jogja. Namun, pada saat kenaikan kelas acara tersebut dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kami semua orang kampung yang mengandalkan hasil pertanian, dan saat itu terjadi kekeringan yang hebat hingga gagal panen, dan imbasnya kami semua menyetujui pembatalan ini. Yah, semua harus prihatin.

Ingat kekeringan, ingat sumur hampir semua tidak ada cukup air untuk ditimba. Kami membuat sumur "belik", bekas sungai yg mengering dibuat sumur, lumayan sedikit masih bisa ada airnya.

Teringat juga saat itu, pernah nimba di sumur di kebunnya Lik Sardi deket kuburan, padahal sumur tsb hampir tidak pernah diambil airnya. Atau ambil air di belik, sungai dekat rumah.

Karena air terbatas, maka sebelum shubuh kami sudah menimba air, siang dikit dah rebutan soalnya.

Monday, November 11, 1985

Berantem, temen baik, temen jahat....

Pernah berkelahi di kelas 5 SD dengan temen yang bernama Sandim yang sangat nakal. Saya mau duduk di kursi jatuh terjengkang karena kursi dia ambil, saya pukul dia tapi dia mengindar, akhirnya saya labrak. Untung dia nggak balas, mungkin tahu kalo saya dibalas, habislah saya.

Teringat satu ketika dia membuat onar se-sekolah, karena menggosokkan cairan merah ("teres") ke wajah temen kami namanya Lasmiati.

Temen nakal satunya lagi adalah Ruslan. Untuk meredam kenakalannya, dan untuk membuat bangga nama, seringkali pak Muchlis mengungkit nama Ruslan Abdul Ghani sehingga diharapkan Ruslan mau mengubah sikapnya.

Satu lagi temen yang sering dipuji pak Muchlis karena kesalehannya adalah Nuraini anak pak Kardi Kuyang yang baru kelas 5 pindah dari MIM ke SD kami.

Thursday, October 10, 1985

Ikut Tim Pesta Siaga

Tahun 1985/1986

Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu saya sedang kelas 5 SD, tapi ada juga yang kelas 4 maupun kelas 6, jadi tim campuran lintas kelas untuk mengikuti pesta siaga (Pramuka bagi anak SD).

Saya bersama teman2 ditunjuklah tim 10 orang laki2 mewakili SD kami disandingkan dengan tim berjumlah 10 siswi SD Karanganom 1. gaktahu prosedur pemilihan kami atau sekolah kami seperti apa, intinya kami langsung menjadi wakil kecamatan untuk mengikuti Pesta Siaga tingkat kabupaten Sragen, dan jika menang maka akan mewakili Pesta Siaga Nasional di Cibubur tahun 1986. Wah, sangat menantang. Kami dididik selama bermnggu2, kadang di sekolah sendiri, kadang di SD Karanganom dan digabungkan dengan kelompok siswi.

Tibalah saatnya yang ditunggu2 untuk bertanding dalam kompetisi Pesta Siaga yingkat kabupaten Sragen, pelaksanaan di lapangan Plupuh. Kami diberangkatkan dengan mobil station merah milik kecamatan, bangganya kami mewakili kecamatan.

Pesta Siaga disini, kami diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan dengan bekal berapa poin. Kelompok yang bisa mengumpulkan poin paling banyak akan jadi juara. Sayang, kelompok tim putra maupun tim putri kami tidak bisa menjuarai dan mewakili kabupaten Sragen ke tingkat Nasional.

Kenang2an berupa baju pramuka, tapi desain seperti baju koko bertahan lama karena setiap jum’at sabtu baju tsb selalu kami pakai untuk seragam sekolah hingga lulus SD.

Thursday, August 8, 1985

Lomba cerdas cermat P4 SD se-kecamatan

Tahun 1985/1986

Taktahu pasti tanggal dan bulan, tapi ingatan kami saat itu kami sedang kelas 5 SD. Saya ditunjuk sebagai salah satu dari 3 siswa yang diberangkatkan untuk mengikuti seleksi cerdas cermat P4 tingkat kecamatan. Temen seperjuangan adalah Wiryawan dan Gatot.

Pada tahap pertama, semua kelompok dari seluruh SD se-kecamatan sukodono dikumpulkan di gedung PGRI, kami diberikan soal untuk dijawab secara tertulis. Di akhir acara, setelah dikoreksi hari itu juga diumumkan bahwa, kelompok kami menjadi 3 besar dengan nilai teratas, sehingga berhak maju ke babak berikutnya...alhamdulillah.

Sekira seminggu kemudian, diadakanlah lomba cerdas cermat di salah satu ruangan di kecamatan. Penuh doa dari pakdhe dengan saya dkasih minum telor ayam jawa mentah biar sukses.

Namun demikian, kami belum beruntung tidak bisa menjadi yang terbaik utk mewakili kecamatan Sukodono dalam pentas tingkat kabupaten Sragen, namun demikian kami tetap bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan bisa banyak belajar.

Sunday, July 1, 1984

Kelas 4; mulai pakai sepatu, BP3, PSPB

Sejak kelas 4, kami baru mulai di-sunnah-kan makai sepatu. Yah, sepatu adalah barang mahal bagi kami. Mulai sekarang, diharapkan ke sekolah memakai sepatu jika punya, jika belum punya ya "nyeker" tanpa alas kaki.

Teringat saat itu saya dah dibelikan sepatu sepasang, untuk menghemat pengunaan biar awet, sepatu hanya saya pakai setiap hari Senin saat upacara bendera, karena hampir pasti saya bertugas sebagai inspektur upacara atau menaikkan bendera. Hari-hari lain, nyeker-lah.

Sejak kelas 4 sekolah baru pertama kali mengenal adanya bayaran bulanan ke sekolah, namanya BP3, sebelumnya semua betul2 free, buku pun dipinjami dari sekolah, gakperlu beli ntar di akhir cawu dikembalikan lagi ke sekolah, kelak untuk adik kelas kita. Kalo taksalah sebelumnya hanya bayar saat mau ujian aja.

Waktu kelas 4 ini pula, dikenalkan pelajaran baru yang namanya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) tapi diberikan sebagai tambahan pada cawu-cawu tertentu saja, tidak diberikan setiap cawu.

Sunday, January 1, 1984

Konspirasi menilai kerapian berbaris

Saya lupa mulainya kapan dan bagaimanan memulainya bahkan hingga kapan mengakhirinya. Saya dan Wiryawan yang selalu bergantian juara kelas sejak kelas 1 membuat konspirasi.

Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.

Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.

Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.

Saturday, January 1, 1983

SD kami porak poranda kena angin ribut

Suasana sekolah sempat kacau balau, mungkin tahun 1983-an), SD kami berantakan, atap yang terbuat dari seng, asbes, maupun genting beterbangan. Bahkan ada ditemukan seng sekolah kami terbang dan ditemukan di desa Tanggung yg jaraknya sekira 2 km. Betul2 angin yang dahsyat merobohkan sekolah kami.

Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.

Wednesday, July 7, 1982

Salaman maaf-maafan idul fitri sampe 3x

Kejadian ini berlangsung beberapa kali lebaran idul fitri saat diriku masih kecil, sebelum dan awal-awal sekolah SD, saya masih ingat betapa luar biasa.

Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.

Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.

Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.

Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....

Tuesday, February 2, 1982

Belajar disiplin bersama Pakdhe

Pakdhe orangnya sangat disiplin dalam mengatur kami. Saya dan Sutris tiap hari bangun pagi-pagi sekali, sholat shubuh. Kemudian kami bersih2 rumah dan pekarangan. Taklupa, kami buat api dapur untuk memasak air teh kegemaran pakdhe.

Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.

Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.

Friday, January 1, 1982

Ikut di rumah Pakdhe

Tak ingat pasti, mungkin sekira sejak kelas 1 ikut keluarga Pakdhe Samto
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.

Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.

Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.

Monday, July 20, 1981

Tak pernah sekolah TK, langsung SD

Saya takpernah merasakan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) karena saat itu memang belum ada sekolah TK yang dekat. Lagipula, takada keharusan, langsung masuk SD boleh asal umur udah 7 tahun, bahkan ada orangtua yang memasukkan anaknya tatkala baru berumur 6 tahun. Tapi rata-rata di kampung atau SD kami, umur 7 tahun baru diterima betul2 sebagai pelajar.

Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.

Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I

Tuesday, January 1, 1980

Anak desa

Kelumit cerita anak desa

Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.

Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).

Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.

Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.

Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.

Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll

Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.