Sunday, January 1, 1984

Konspirasi menilai kerapian berbaris

Saya lupa mulainya kapan dan bagaimanan memulainya bahkan hingga kapan mengakhirinya. Saya dan Wiryawan yang selalu bergantian juara kelas sejak kelas 1 membuat konspirasi.

Setiap pagi mau masuk kelas maupun pulang, kita mesti apel membuat 2 barisan di depan pintu kelas, kemudian dipilih barisan mana yang lebih rapi dan berhak masuk/pulang duluan.

Sering yang kebagian tugas menjadi inspektur dan penilai adalah bergantian antara saya dan wiryawan. Karena kami berdua temen akrab, saat itu tak ada rasa persaingan tidak sehat, sering melakukan main mata, memanfaatkan kesempatan untuk saling membantu. Dimana saya berada, barisan saya didahulukan, pun demikian sebaliknya.

Wah-wah masih kecil kok dah main konspirasi gini, ya Allah ampuni dosa kami, ya teman2 maafkan kami.

Saturday, January 1, 1983

SD kami porak poranda kena angin ribut

Suasana sekolah sempat kacau balau, mungkin tahun 1983-an), SD kami berantakan, atap yang terbuat dari seng, asbes, maupun genting beterbangan. Bahkan ada ditemukan seng sekolah kami terbang dan ditemukan di desa Tanggung yg jaraknya sekira 2 km. Betul2 angin yang dahsyat merobohkan sekolah kami.

Akhirnya kami untuk beberapa waktu selama perbaikan, kami sekolah menumpang rumah Pak Ngadimin (sebelah SD) dibuat 2 kelas, masing2 masuk pagi dan sore (total 4 kelas), 2 kelas lagi menggunakan sisa2 ruang kelas yang masih bisa digunakan.

Wednesday, July 7, 1982

Salaman maaf-maafan idul fitri sampe 3x

Kejadian ini berlangsung beberapa kali lebaran idul fitri saat diriku masih kecil, sebelum dan awal-awal sekolah SD, saya masih ingat betapa luar biasa.

Sholat idul fitri diadakan di lapangan sepakbola milik kelurahan, depan sekolahku, SDN Pantirejo I. Seluruh penduduk di kelurahan, bahkan tambahan dari kampung Dukuh (masuk kelurahan Majenang) yang jaraknya cuma 500 meter dari lapangan tsb. Tradisi yang telah berlangsung lama, setiap habis sholat ied dan khutbah, diadakan salaman keliling dengan seluruh jamaah (laki dan perempuan tentu dipisah). Itulah salaman terlama yang kita lakukan. Padahal mungkin 99.99% penduduk kelurahan kami adalah muslim, bisa dibayangkan betapa banyaknya dan lamanya ritual salaman itu, tapi kami menikmati walaupun mesti berjalan belasan shaf yang suangat panjang. Nah inilah salaman maaf-maafan pertama.

Maaf-maafan kedua dilaksanakan malam harinya, oleh anak-anak sebaya kami, dari yang belum sekolah hingga anak SD. Modelnya adalah kami membuat beberapa kelompok kecil, mendatangi rumah yang satu ke rumah yang lain. Semua rumah kami kunjungi, tanpa kecuali (tapi bukan satu kelurahan, tapi satu kampung Bogowanti yang terdiri dari 2 RT sekira 60 KK). Dan karena masih anak-anak, tak pandang salaman dengan laki/perempuan, kecil/besar, belum tahu muhrim/tdk, semua kita ajak salaman dengan niatan saling maaf-memaafkan. Kadang cuma salaman saja terus ganti rumah, kadang mesti makan-minum karena disediakan tuan rumah.

Maaf-maafan ketiga dilaksanakan ketika hari raya kedua, kami satu Kampung mengadakan halal bihalal resmi di Masjid. Inilah benar2 keakraban terjadi, satu kampung tumplek blek semua jadi satu, tapi tetep dipisah laki dan perempuan. Para pemuda dan perantau yang tidak sempat mengikuti sholat idul fitri dan maaf-maafan di lapangan kelurahan, momen inilah yang biasanya ditunggu-tunggu.

Begitulah cerita luar biasanya semangat kami waktu itu dalam memaknai lebaran dan bermaaf-maafan. Sehingga salaman 3x pun kami lakukan, dengan harapan hapuslah dosa-dosa diantara kita, amien.....

Tuesday, February 2, 1982

Belajar disiplin bersama Pakdhe

Pakdhe orangnya sangat disiplin dalam mengatur kami. Saya dan Sutris tiap hari bangun pagi-pagi sekali, sholat shubuh. Kemudian kami bersih2 rumah dan pekarangan. Taklupa, kami buat api dapur untuk memasak air teh kegemaran pakdhe.

Sarapan sebelum sekolah, dan langsung pulang setelah dari sekolah, nggak pakai main. Sore mesti ke sawah atau menggembala kamibing, atau mencari rumput di sawah, malam belajar, begitulah rutinitas yang kami jalani.

Pakdhe orangnya nggak bisa ditipu. Teringat suat pagi yang sangat dingin, tugas membuat api secara manual pakai daun kering sangat susah, akhirnya saya pakai minyak tanah untuk membuat api dapur, lalu kami gunakan untuk memasak air teh. Ketika teh dalam gelas sudah kami hidangkan ke pakdhe, beliau berkata; ”Nardi, kamu tadi mbuat api pakai minyak tanah ya”.... waduh, ketahuan dech, maaf pakdhe.

Friday, January 1, 1982

Ikut di rumah Pakdhe

Tak ingat pasti, mungkin sekira sejak kelas 1 ikut keluarga Pakdhe Samto
Mungkin hal ini karena terlalu banyaknya keluarga kami sehingga ketika diajak ke rumah padhe saya mau saja. Kebetulan pakdhe anaknya dah besar2;
1. Mas Mulyono dah kerja jadi mantri hewan,
2. Mbak Sri SMEA,
3. mbak Juyatni SMP.

Jadi akulah anak terkecil dan jadi temen bermain dan bekerja bersama Sutrisno, anak angkat pakdhe. Dia sekolahnya 2 tingkat diatas saya. Kami sering ke sekolah boncengan bersama, sholat ke masjid, atau bersih2 rumah dan pekarangan.

Sempat juga ada yang tinggal bersama kami, namanya Man Bisu (emang anaknya bisu, gakbisa bicara) yang rajin dan baik hati.

Monday, July 20, 1981

Tak pernah sekolah TK, langsung SD

Saya takpernah merasakan sekolah Taman Kanak-kanak (TK) karena saat itu memang belum ada sekolah TK yang dekat. Lagipula, takada keharusan, langsung masuk SD boleh asal umur udah 7 tahun, bahkan ada orangtua yang memasukkan anaknya tatkala baru berumur 6 tahun. Tapi rata-rata di kampung atau SD kami, umur 7 tahun baru diterima betul2 sebagai pelajar.

Saya juga teringat bahwa saudara saya hampir semua umur 6 tahun sudah disuruh bapak kami berangkat sekolah, tapi selama setahun kami memang hanya ikut2an, yang penting bisa duduk boncengan sama teman, tapi belum didaftarkan sekolah. Saat itu guru juga takada masalah. Kadang masuk kadang nggak, ikut2an temen. Kata bapak yang penting mengikuti suasana anak sekolah. Baru tahun berikutnya bener2 didaftarkan sebagai murid dan sekolah beneran dengan segala hak dan kewajibannya.

Tercatat masuk resmi SDN Pantirejo I tanggal 20 Juli 1981 kelas I

Tuesday, January 1, 1980

Anak desa

Kelumit cerita anak desa

Keluarga saya adalah keluarga biasa di kampung yang sangat pedalaman di Sragen. Takada listrik, rumah dari kayu, lantai tanah, tiap hari mengolah sawah dan memelihara sapi.

Saya begitu inget tahunya punya keluarga besar, saudara kakak laki-laki 4; Mas Parno (lahir 1962-an), Mas Widodo (lahir 1965), Mas Sarjono (Lahir 1969), Mas Sunarto (1972).

Hubungan saya lebih akrab ke kakak persis karena umurnya yang tak selang jauh, bermain pun lebih banyak ngikut aja dengan Mas Narto yang 2 th lebih tua, sehingga teman2 sepermainan ya lebih kurang seumuran mas Narto.

Saat itu kami juga punya adik Suranto 3 tahun lebih muda (lahir 1977) dan Sukamti 5 tahun lebih muda. Sukamti adalah perempuan satu-satunya dalam keluarga kami dalam 7 bersaudara (saat itu adik si ragil Surono belum lahir, kelak lahir 1986).
Saking senengnya orang tua kami, saat kelahiran anak ke-7 dan alhamdulillah perempuan, maka diadakan pesta wayang kulit. Sekalian dibarengkan dengan pesta khitan kakak tertua Mas Parno.

Kami kakak-beradik sangat akrab karena pola pengasuhan kami, walaupun tidak tertulis dan walaupun tidak saklek diatur, kami menjalani rutinitas. Anak ke-1 ngasuh anak ke-3, anak ke-2 ngasuh anak ke-4 dst. Awalnya, Mas Parno ngasuh Mas Sar dan Mas Wid ngasuh mas Narto. Tapi selepas itu, Mas Sar dan mas Narto ngasuh saya sebentar (karena saya kemudian ikut pakdhe), sehingga kemudian Mas Sar ngasuh Suranto, sedang Mas Narto ngasuh Kamti.

Diantara kejadian2 yang pernah saya alami:
- Saya sewaktu kecil sering main bola, benthic, kasti, hujan2an tanpa pakaian.
- Nyolong mangga di sawahe mbah Karno
- nyolong asem dan bengkoan di belakang rumah mbah Samin, timun dan kacang sawahe Lik sapa lupa.
- Ambil duwet di kuburan gaktakut karena temennya banyak.
- Mlintheng manuk tapi gak tahu entuk, mulut manuk gaktahu enthuk. Pagi hari beli opak warna-warni di perempatan utk sarapan.
- Nonton TV hitam putih ke pak Hardi, deket lapangan, harus berjalan jaraknya 1 km.
Pulangnya nyolong timun atau kacang tanah di persawahan yang kami lewati.
- Tidur sering di kursi kayu ataupun di lorong meja karena memang baru di buat, begitu riang gembiranya.
- Mau beli mobil2an gakpunya uang. Lihat mobil2an bagus Rp 40 gak punya uang (benernya punya, tapi belum tahu makna uang, dikira Rp 40 = Rp 5 x 40 buah).
- Mas parno sering nganter ibu ke pasar madoh naik sepeda onthel, mungkin sekira 2 jam perjalanan. Yang kusuka adalah oleh2 bakwan. Hingga tua pun suka bakwan.
- Umur 6 tahun ikut2an sekolah tapi belum didaftarkan. Tapi ujian ikut, seingat saya pernah ujian,dikasih jawaban suruh nulis tapi tetep gakbisa karena belum tahu huruf abjad dan cara nulis.
- dll

Kepada temen2, tetangga2, saudara2, bapak/ibu dll mhn maaf atas kenakalan kami, semoga Alah ampuni, amien.